Selasa, 15 Mei 2018

Darurat Radikalisme

Seandainya Kakung masih hidup, saya ingin berdiskusi banyak hal dengan beliau. Seandainya Kakung masih hidup, bagaimanakah reaksinya mendengar berita kejahatan terhadap manusia akir-akhir ini? Seandainya Kakung saya, yang nasrani itu masih hidup, bagaimanakah reaksinya mengetahui bahwa saudara seimannya mati terbunuh di rumah ibadahnya sendiri?

Ya, saya adalah manusia yang tumbuh di tengah kemajemukan. Kakung saya nasrani, om saya Hindu. Dua keyakinan yang berbeda dengan keluarga besar saya. Sejak kecil, saya telah terbiasa melihat poto Yesus, Paus, dan simbol salib di dinding rumah Kakung, di Kepundungan, Srono. Sejak kecil saya telah terbiasa tidur berdampingan dengan Injil yang ada di kamar Kakung, kamar favorit saya saat menginap di rumah beliau. Sejak kecil, saya telah terbiasa melihat Kakung dan Mak (istri beliau) saya pergi pagi-pagi sekali di Hari Minggu untuk melaksanakan ibadah di gereja di Genteng sana.

Saat itu saya masih kecil, belum mengerti bahwa agama banyak macamnya. Beruntung, sejak kecil saya telah terbiasa, terbiasa melihat simbol-simbol seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Hingga saya tumbuh  besar, saya telah mengerti bahwa negara yang saya tinggali ini terdiri dari berbagai agama, bukan Islam saja. Saya mengerti bahwa keyakinan Kakung tidak sama dengan keyakinan saya.

Lantas apakah berkurang kasih sayang Kakung terhadap cucunya yang berbeda keyakinan ini? Tidak sama sekali. Satu waktu pernah Kakung memberikan hadiah sebuah sajadah. Sajadah tersebut didapatkannya dari tetangga yang baru pulang dari tanah suci Mekah. Satu waktu juga Kakung pernah bertanya pada saya, “Kowe opo iso moco Qur’an, nduk?” saya mengangguk. Waktu itu saya memang sudah berada di tingkat membaca Al-Qur’an di TPQ.

Saking baiknya seseorang bernama Antonius Sunaryo itu, hari ini saya hanya bisa mengenang segala hal baik yang ada pada dirinya. Sayangnya, saya belum pernah sekali pun berdiskusi perihal radikalisme. Saya ingin tahu bagaimana pendapat Kakung tentang Gus Dur. Saya ingin tahu bagaimana Kakung memandang sebuah perbedaan yang terdapat dalam keluarga kami. Saya ingin tahu banyak hal yang sayangnya tidak sempat saya ketahui.

Saat mengetahui aksi keji yang terjadi di gereja, dimanapun tempatnya, saya selalu teringat Kakung. Saya merasa terikat batin dengan saudara-saudara nasrani. Bagaimana bisa orang-orang itu, dengan atribut islam, berlaku jahat pada saudara mereka yang berbeda keyakinan? Tidak perlu berbicara “Terrorist has no religion” sedangkan kita tahu bahwa agama mereka adalah islam. Mereka itu islam. Tapi entah islam mana yang mereka jadikan tauladan. Islam yang mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil alamin? Tentu bukan. Mereka, para teroris itu bukanlah bagian dari islam yang mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil alamin.

Kenangan saya terlempar pada sebuah pertemuan pemuda NU dengan pemuda Katolik di Paroki Maria Ratu Damai Februari lalu. Romo Sugeng sempat berkata, “Akan habis tenaga dan pikiran kita jika berbicara soal perbedaan yang menjurus kepada tindak kekerasan.”

Benar. Apa yang kita dapat setelah membaca dan melihat berita-berita teror di televisi maupun media massa? Marah? Jelas. Sedih? Pasti. Sebagai manusia yang waras pasti kita marah dan bersedih. Kita marah terhadap pelaku teror yang sampai hati berbuat keji menghilangkan nyawa sesamanya. Kita bersedih terhadap saudara kita yang harus kehilangan nyawa saat mereka tengah beribadah.

Mereka yang suka mempersoalkan perbedaan sebagai sesuatu yang tidak baik dan terus menerus meributkan hal itu, tenaga mereka akan habis, akhirnya lelah. Mereka yang suka memikirkan bagaimana cara agar seluruh Indonesia ini sama, tidak lagi ada perbedaan-perbedaan, pikiran mereka akan habis, akhirnya gila. Dan apa hasil akhir dari lelah dan gila tersebut? Benar, teror.

Semua orang pasti tidak habis pikir dengan aksi teror yang terjadi di Indonesia. Mulai dari pemuda yang menyerang rumah ibadah di Yogyakarta awal tahun lalu hingga yang paling terkini adalah serangan di beberapa tempat di Surabaya.

Pertanyaan kita selalu sama. Apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan biadab seperti itu? Apa yang menyebabkan mereka percaya diri kelak akan masuk syurga? Tentu kita terkejut saat mengetahui bahwa pelaku teror di tiga tempat di Surabaya itu adalah satu keluarga. Bapak, Ibu dan anak. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa anak-anak turut menjadi sasaran dari kecacatan berpikir? Bagaimana sebenarnya konsep mati syahid yang mereka pelajari?

Malam ini, kawan-kawan akan menggelar diskusi kebangsaan mengenai radikalisme yang sudah gawat. Terlebih lagi beberapa pelaku teror berasal dari kampung halaman yang kami sebut “Banyuwangi” the sunrise of Java. Saya tidak ingin tagline tersebut berubah menjadi “The Terrorist of Java”.

Kami tunggu kehadiran kawan-kawan semua malam ini pukul 19.00 wib di kantor PCNU Banyuwangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar