Seandainya Kakung masih hidup, saya
ingin berdiskusi banyak hal dengan beliau. Seandainya Kakung masih hidup,
bagaimanakah reaksinya mendengar berita kejahatan terhadap manusia akir-akhir
ini? Seandainya Kakung saya, yang nasrani itu masih hidup, bagaimanakah
reaksinya mengetahui bahwa saudara seimannya mati terbunuh di rumah ibadahnya
sendiri?
Ya, saya adalah manusia yang
tumbuh di tengah kemajemukan. Kakung saya nasrani, om saya Hindu. Dua keyakinan
yang berbeda dengan keluarga besar saya. Sejak kecil, saya telah terbiasa
melihat poto Yesus, Paus, dan simbol salib di dinding rumah Kakung, di
Kepundungan, Srono. Sejak kecil saya telah terbiasa tidur berdampingan dengan
Injil yang ada di kamar Kakung, kamar favorit saya saat menginap di rumah
beliau. Sejak kecil, saya telah terbiasa melihat Kakung dan Mak (istri beliau)
saya pergi pagi-pagi sekali di Hari Minggu untuk melaksanakan ibadah di gereja
di Genteng sana.
Saat itu saya masih kecil, belum
mengerti bahwa agama banyak macamnya. Beruntung, sejak kecil saya telah
terbiasa, terbiasa melihat simbol-simbol seperti yang saya sebutkan sebelumnya.
Hingga saya tumbuh besar, saya telah
mengerti bahwa negara yang saya tinggali ini terdiri dari berbagai agama, bukan
Islam saja. Saya mengerti bahwa keyakinan Kakung tidak sama dengan keyakinan
saya.
Lantas apakah berkurang kasih sayang
Kakung terhadap cucunya yang berbeda keyakinan ini? Tidak sama sekali. Satu waktu
pernah Kakung memberikan hadiah sebuah sajadah. Sajadah tersebut didapatkannya
dari tetangga yang baru pulang dari tanah suci Mekah. Satu waktu juga Kakung
pernah bertanya pada saya, “Kowe opo iso
moco Qur’an, nduk?” saya mengangguk. Waktu itu saya memang sudah berada di tingkat
membaca Al-Qur’an di TPQ.
Saking baiknya seseorang bernama
Antonius Sunaryo itu, hari ini saya hanya bisa mengenang segala hal baik yang
ada pada dirinya. Sayangnya, saya belum pernah sekali pun berdiskusi perihal
radikalisme. Saya ingin tahu bagaimana pendapat Kakung tentang Gus Dur. Saya ingin
tahu bagaimana Kakung memandang sebuah perbedaan yang terdapat dalam keluarga
kami. Saya ingin tahu banyak hal yang sayangnya tidak sempat saya ketahui.
Saat mengetahui aksi keji yang
terjadi di gereja, dimanapun tempatnya, saya selalu teringat Kakung. Saya merasa
terikat batin dengan saudara-saudara nasrani. Bagaimana bisa orang-orang itu,
dengan atribut islam, berlaku jahat pada saudara mereka yang berbeda keyakinan?
Tidak perlu berbicara “Terrorist has no religion” sedangkan kita tahu bahwa
agama mereka adalah islam. Mereka itu islam. Tapi entah islam mana yang mereka
jadikan tauladan. Islam yang mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil
alamin? Tentu bukan. Mereka, para teroris itu bukanlah bagian dari islam yang
mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil alamin.
Kenangan saya terlempar pada
sebuah pertemuan pemuda NU dengan pemuda Katolik di Paroki Maria Ratu Damai
Februari lalu. Romo Sugeng sempat berkata, “Akan habis tenaga dan pikiran kita
jika berbicara soal perbedaan yang menjurus kepada tindak kekerasan.”
Benar. Apa yang kita dapat
setelah membaca dan melihat berita-berita teror di televisi maupun media massa?
Marah? Jelas. Sedih? Pasti. Sebagai manusia yang waras pasti kita marah dan
bersedih. Kita marah terhadap pelaku teror yang sampai hati berbuat keji
menghilangkan nyawa sesamanya. Kita bersedih terhadap saudara kita yang harus
kehilangan nyawa saat mereka tengah beribadah.
Mereka yang suka mempersoalkan
perbedaan sebagai sesuatu yang tidak baik dan terus menerus meributkan hal itu,
tenaga mereka akan habis, akhirnya lelah. Mereka yang suka memikirkan bagaimana
cara agar seluruh Indonesia ini sama, tidak lagi ada perbedaan-perbedaan,
pikiran mereka akan habis, akhirnya gila. Dan apa hasil akhir dari lelah dan
gila tersebut? Benar, teror.
Semua orang pasti tidak habis
pikir dengan aksi teror yang terjadi di Indonesia. Mulai dari pemuda yang
menyerang rumah ibadah di Yogyakarta awal tahun lalu hingga yang paling terkini
adalah serangan di beberapa tempat di Surabaya.
Pertanyaan kita selalu sama. Apa yang
menyebabkan mereka melakukan tindakan biadab seperti itu? Apa yang menyebabkan
mereka percaya diri kelak akan masuk syurga? Tentu kita terkejut saat mengetahui
bahwa pelaku teror di tiga tempat di Surabaya itu adalah satu keluarga. Bapak,
Ibu dan anak. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa anak-anak turut menjadi sasaran dari
kecacatan berpikir? Bagaimana sebenarnya konsep mati syahid yang mereka
pelajari?
Malam ini, kawan-kawan akan
menggelar diskusi kebangsaan mengenai radikalisme yang sudah gawat. Terlebih lagi
beberapa pelaku teror berasal dari kampung halaman yang kami sebut “Banyuwangi”
the sunrise of Java. Saya tidak ingin
tagline tersebut berubah menjadi “The
Terrorist of Java”.
Kami tunggu kehadiran kawan-kawan
semua malam ini pukul 19.00 wib di kantor PCNU Banyuwangi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar