Topik
meylenial-talk bulan ini adalah seperti judul di atas. Bertepatan dengan hari
lahir Nahdlatul Ulama ke-93 kami menyelenggarakan meylenial talk di
Blimbingsari, tepatnya di Blimbingsari Creative Craft (BCC).
Semua orang
pasti pernah mengalami fase hijrah dalam hidup mereka. Saya pun begitu. Dari
yang dulunya follow Bapak Felix Siauw, sekarang saya unfollow beliau. Dari yang
dulunya suka pakai jilbab panjang kali lebar, sekarang cuma sampir kiri sampir
kanan. Dari yang dulunya suka share status Tere Liye, sekarang malah jadi
unlike pagenya. Itu hijrah bukan? Hahaha.
Saya, sih,
secara pribadi merasakan betul perbedaan dalam diri saya. Saya pernah menjadi
manusia yang merasa paling benar seantero jagad raya. Saya, kan, nggak pernah
pacaran, nih. Nah, dulu itu saya merasa bahwa saya yang nggak pernah pacaran
ini adalah seseorang yang paling benar jalan hidupnya. Tak pernah berduaan
dengan lawan jenis, tak pernah mendekati zina, selalu menundukkan pandangan
(elah, nunduk bae kek kuda catur, wkwk). Sehingga saya selalu membenarkan
apapun yang Pak Felix katakan di facebook-nya tentang pacaran. Yang pacaran itu
haram, buang-buang waktu, perbuatan dosa, dsb. Dulu saya suka membagikan
status-status seperti itu. Kemudian menambahkan keterangan-keterangan
provokasi. Sehingga ketika facebook mengingatkan saya melalui fitur ‘kenangan’,
saya selalu menertawakan diri saya sendiri. Alangkah cupetnya saya dulu,
astaga.
Pun sama
dengan berjilbab. Dulu saya selalu bikin status yang menyatakan bahwa sudah
sewajibnya perempuan muslim itu berjilbab. Apa kamu nggak takut dosa sudah
baligh tapi nggak pakai jilbab? Dulu yang saya yakini ya berjilbab itu wajib
hukumnya bagi muslimah. W A J I B. Nggak bisa enggak. Tapi, tentu teman-teman
semua tahu bahwa para ulama saja tidak menemukan mufakat perihal hukum
berjilbab ini. Sejak mengenal cendekiawan muslim, Bapak M. Quraish Shihab, saya
juga menjadi tahu bahwa memang hukum berjilbab ini menjadi polemik tersendiri
di kalangan ulama. Kalau kata narasumber semalam, Cak Ayung, ayat yang dikutip
sama tetapi pemahaman/penafsirannya bisa berbeda.
Hijrah
menjadi kata yang populer sekali di kalangan milenial belakangan ini. Banyak
anak muda yang menyatakan diri mereka telah berhijrah. Masih dalam pemaparan
Cak Ayung, ada tiga peristiwa hijrah dalam sirah nabawiyah.
Yang
pertama, hijrahnya penduduk muslim ke Habsy (sekarang Ethiopia) untuk
menghindari kekejaman suku Quraisy. Peristiwa hijrah ini dipimpin oleh seorang
raja Nasrani. Yang kedua, hijrah ke Thaif. Namun nabi tidak mendapat sambutan
yang baik, malah berujung pada tindak persekusi. Yang ketiga, terakhir, hijrah
menuju Yatsrib. Pada hijrahnya yang terakhir ini nabi membangun peradaban dan kemudian
Yatsrib dikenal dengan al-Madinah al-Munawwarah. Spirit perjuangan nabi dalam
menyatukan umat manusia, tak pandang apa agama mereka, sungguh luar biasa.
Di Indonesia
sendiri sebenarnya fenomena hijrah bukan sesuatu yang baru. Kita bisa membaca
narasi wawancara cendekiawan muslim Haidar Bagir bersama Mizan. Baca selengkapnyadi sini.
Dari penjelasan
Bapak Haidar Bagir tersebut kita bisa mengetahui bahwa fenomena seperti itu
sudah terjadi sekitar tahun 80-an meskipun pada saat itu namanya bukan hijrah. Jika
dahulu fenomena hijrah lebih banyak didorong oleh semangat keberagaman, saat
ini justru yang menguat adalah pengentalan identitas.
Fenomena
hijrah saat ini tidak demikian. Tidak ada gairah perjuangan yang nampak. Hijrah
seharusnya membuat kita semakin terbuka pemikirannya. Membuat kita semakin
menerima dan memahami segala perbedaan. Sehingga kita tak mudah menyalahkan
orang lain yang berbeda dengan kita.
Contoh,
misal, saat kita melihat perempuan menggunakan cadar lantas kita nyinyir “Alah,
ngapain, sih, pakai cadar segala. Sok alim!” lalu apa bedanya? Begitu juga
sebaliknya saat yang bercadar melihat perempuan berjilbab tapi tidak bercadar
kemudian nyinyir “Islam mereka tidak kaffah!” ya kita semua sama saja. Masih
suka menyalahkan orang lain yang berbeda dari kita. Ini hal dasar yang masih
menjadi PR besar bagi kita.
Millenial
berhijrah? Di tengah zaman yang semakin kapitalis ini? Di tengah zaman yang
semakin membuat akal sehat hilang kewarasannya ini?
Ya, kenapa
tidak?
Justru
itulah kita bisa hadir menjadi prajurit penjaga akal sehat. Kita berhijrah dari
yang sebelumnya selalu merasa paling benar, menjadi pribadi yang lebih toleran.
Dari yang sebelumnya selalu pesimis, menjadi pribadi yang optimis.
![]() |
| Meylenial Talk edisi Januari 2019 |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar