Jumat, 01 Februari 2019

Milenial Hijrah: Kenapa Tidak?

Topik meylenial-talk bulan ini adalah seperti judul di atas. Bertepatan dengan hari lahir Nahdlatul Ulama ke-93 kami menyelenggarakan meylenial talk di Blimbingsari, tepatnya di Blimbingsari Creative Craft (BCC).

Semua orang pasti pernah mengalami fase hijrah dalam hidup mereka. Saya pun begitu. Dari yang dulunya follow Bapak Felix Siauw, sekarang saya unfollow beliau. Dari yang dulunya suka pakai jilbab panjang kali lebar, sekarang cuma sampir kiri sampir kanan. Dari yang dulunya suka share status Tere Liye, sekarang malah jadi unlike pagenya. Itu hijrah bukan? Hahaha.

Saya, sih, secara pribadi merasakan betul perbedaan dalam diri saya. Saya pernah menjadi manusia yang merasa paling benar seantero jagad raya. Saya, kan, nggak pernah pacaran, nih. Nah, dulu itu saya merasa bahwa saya yang nggak pernah pacaran ini adalah seseorang yang paling benar jalan hidupnya. Tak pernah berduaan dengan lawan jenis, tak pernah mendekati zina, selalu menundukkan pandangan (elah, nunduk bae kek kuda catur, wkwk). Sehingga saya selalu membenarkan apapun yang Pak Felix katakan di facebook-nya tentang pacaran. Yang pacaran itu haram, buang-buang waktu, perbuatan dosa, dsb. Dulu saya suka membagikan status-status seperti itu. Kemudian menambahkan keterangan-keterangan provokasi. Sehingga ketika facebook mengingatkan saya melalui fitur ‘kenangan’, saya selalu menertawakan diri saya sendiri. Alangkah cupetnya saya dulu, astaga.

Pun sama dengan berjilbab. Dulu saya selalu bikin status yang menyatakan bahwa sudah sewajibnya perempuan muslim itu berjilbab. Apa kamu nggak takut dosa sudah baligh tapi nggak pakai jilbab? Dulu yang saya yakini ya berjilbab itu wajib hukumnya bagi muslimah. W A J I B. Nggak bisa enggak. Tapi, tentu teman-teman semua tahu bahwa para ulama saja tidak menemukan mufakat perihal hukum berjilbab ini. Sejak mengenal cendekiawan muslim, Bapak M. Quraish Shihab, saya juga menjadi tahu bahwa memang hukum berjilbab ini menjadi polemik tersendiri di kalangan ulama. Kalau kata narasumber semalam, Cak Ayung, ayat yang dikutip sama tetapi pemahaman/penafsirannya bisa berbeda.

Hijrah menjadi kata yang populer sekali di kalangan milenial belakangan ini. Banyak anak muda yang menyatakan diri mereka telah berhijrah. Masih dalam pemaparan Cak Ayung, ada tiga peristiwa hijrah dalam sirah nabawiyah.

Yang pertama, hijrahnya penduduk muslim ke Habsy (sekarang Ethiopia) untuk menghindari kekejaman suku Quraisy. Peristiwa hijrah ini dipimpin oleh seorang raja Nasrani. Yang kedua, hijrah ke Thaif. Namun nabi tidak mendapat sambutan yang baik, malah berujung pada tindak persekusi. Yang ketiga, terakhir, hijrah menuju Yatsrib. Pada hijrahnya yang terakhir ini nabi membangun peradaban dan kemudian Yatsrib dikenal dengan al-Madinah al-Munawwarah. Spirit perjuangan nabi dalam menyatukan umat manusia, tak pandang apa agama mereka, sungguh luar biasa.

Di Indonesia sendiri sebenarnya fenomena hijrah bukan sesuatu yang baru. Kita bisa membaca narasi wawancara cendekiawan muslim Haidar Bagir bersama Mizan. Baca selengkapnyadi sini.

Dari penjelasan Bapak Haidar Bagir tersebut kita bisa mengetahui bahwa fenomena seperti itu sudah terjadi sekitar tahun 80-an meskipun pada saat itu namanya bukan hijrah. Jika dahulu fenomena hijrah lebih banyak didorong oleh semangat keberagaman, saat ini justru yang menguat adalah pengentalan identitas.

Fenomena hijrah saat ini tidak demikian. Tidak ada gairah perjuangan yang nampak. Hijrah seharusnya membuat kita semakin terbuka pemikirannya. Membuat kita semakin menerima dan memahami segala perbedaan. Sehingga kita tak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda dengan kita.

Contoh, misal, saat kita melihat perempuan menggunakan cadar lantas kita nyinyir “Alah, ngapain, sih, pakai cadar segala. Sok alim!” lalu apa bedanya? Begitu juga sebaliknya saat yang bercadar melihat perempuan berjilbab tapi tidak bercadar kemudian nyinyir “Islam mereka tidak kaffah!” ya kita semua sama saja. Masih suka menyalahkan orang lain yang berbeda dari kita. Ini hal dasar yang masih menjadi PR besar bagi kita.

Millenial berhijrah? Di tengah zaman yang semakin kapitalis ini? Di tengah zaman yang semakin membuat akal sehat hilang kewarasannya ini?
Ya, kenapa tidak?

Justru itulah kita bisa hadir menjadi prajurit penjaga akal sehat. Kita berhijrah dari yang sebelumnya selalu merasa paling benar, menjadi pribadi yang lebih toleran. Dari yang sebelumnya selalu pesimis, menjadi pribadi yang optimis.

Meylenial Talk edisi Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar