Selama pandemi covid-19 ada dua
buku yang sudah saya baca tuntas. Karya Wiwin Indiarti dan Nunuk Nurchayati
yang Olah Rasa Ujung Timur Jawa dan karya Pak Cik Andis yang Cinta Dalam Gelas.
Dua buku yang sangat menarik dengan genre yang sangat berbeda. Semua karya pak
cik menarik bagi saya, tidak ada yang tidak saya baca dengan tuntas. Buku yang
lainnya juga sangat menarik karena mengulas makanan ritual dalam kebudayaan
Using.
Kenapa menarik? Karena buku ini
adalah buku pertama yang mengulas mengenai hidangan ritual dalam kebudayaan
Using. Seperti kata tim penulis, hidangan ritual bagi masyarakat Using terkait
erat dengan upacara adat atau ritual tradisi yang telah berlangsung dalam kurun
waktu lama. Pengetahuan tentang makanan yang menjadi sajian dalam ritual
tradisi, diwariskan secara turun temurun, tidak saja dalam bentuk kasar wujud
makanan, tetapi juga mengenai makna dan perlambang yang terkandung di dalamnya.
Jika selama ini ketika mengikuti
ritual/adat (tumpeng sewu, misalnya) kita hanya tahu bab makannya saja, di buku
ini akan dijelaskan mengenai bagaimana hidangan yang kita santap itu diolah,
bagaimana makna yang terkandung dari hidangan yang kita santap tersebut, apa
saja aturan-aturan yang harus dijalankan selama proses mengolah hidangan yang
kita santap tersebut, apa saja bahan baku hidangan yang kita santap tersebut yang
sudah jarang kita temukan di Banyuwangi, sehingga dari itu semua kita tidak
hanya sekadar makan, kita bisa lebih menghargai setiap suapan yang masuk ke
dalam raga kita.
Sebagai manusia yang lahir di
bumi Banyuwangi saya bersyukur bisa membaca tulisan dari masyarakat Banyuwangi
sendiri. Tulisan yang berarti karena berhasil mendokumentasikan bagaimana
pentingnya melestarikan adat, melestarikan kebudayaan. Membaca buku ini saya
seakan diajak bertualang dari satu dusun ke dusun lainnya. Diajak untuk melihat
bagaimana suasana ritual Tumpeng Songo di Andong atau Amin Pikin di Cungking.
Sudah. Saya tidak akan berpanjang
lebar bercerita isi buku ini. Sila dibaca dan rasakan sendiri ilmu pengetahuan
baru yang masuk ke memory kita.
Nah, gaes, hari ini saya
berkesempatan untuk datang ke rumah Bu Wiwin, penulis buku Olah Rasa Ujung
Timur Jawa. Dari obrolan yang off the record
saya mendapatkan lebih banyak lagi informasi mengenai ritual-ritual yang sudah
mulai jarang dilakukan, tentu karena beberapa keadaan. Cara Bu Wiwin bercerita
membuat saya ingin melihat langsung bagaimana ritual-ritual tersebut berjalan. Yang
paling konyol, saya jadi ingin berdoa pada Tuhan agar ritual/adat tersebut
tetap lestari bagaimanapun caranya saya nggak mau tahu. Gila, kan? Ngelakuin ritualnya
enggak, malah ngelunjak.
Saya datang bukan tanpa maksud
dan tujuan. Kami mengambil video pendek yang mengulas sedikit tentang buku
bagus tersebut. Sebagai pemuja talkshow radio, saya selalu grogi setiap Cholid
yang sudah stand by memegang kamera teriak “satu...dua...tiga...”, itu berarti
saya juga harus menyiapkan dialog untuk mulai ngoceh di depan kamera.
Saya sebal betul sebenarnya
dengan kegiatan seperti ini, karena pasti banyak cut-nya. Berbeda dengan radio,
gaes. Saya merasa selalu siap (meskipun nggak mood) untuk memulai sebuah
diskusi. Dan juga kalau talkshow di radio, ruangan host sama ruangan
narasumbernya ini terpisah, jadi saya merasa nyaman nggak satu ruangan sama
narasumbernya, nggak grogi-grogi banget, lah.
Beda dengan
ngobrol bareng narasumber yang berhadap-hadapan, banyakan groginya. Intinya,
ngonten buat youtube sama ngonten buat radio itu sensasinya beda. Dan favorit
saya tetap talkshow di radio. Satu lagi bukti bahwa talkshow di radio itu lebih
baik adalah kita jadi nggak perlu capek-capek macak dulu atau nambah beban
pekerjaan kameramen dengan bilang “mbuh
pie carane pokok e aku kudu ketok kurus.” Ha gimana, wong nggak ada kamera,
hahaha.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar