Minggu, 19 April 2020

Olah Rasa Ujung Timur Jawa

Selama pandemi covid-19 ada dua buku yang sudah saya baca tuntas. Karya Wiwin Indiarti dan Nunuk Nurchayati yang Olah Rasa Ujung Timur Jawa dan karya Pak Cik Andis yang Cinta Dalam Gelas. Dua buku yang sangat menarik dengan genre yang sangat berbeda. Semua karya pak cik menarik bagi saya, tidak ada yang tidak saya baca dengan tuntas. Buku yang lainnya juga sangat menarik karena mengulas makanan ritual dalam kebudayaan Using.


Kenapa menarik? Karena buku ini adalah buku pertama yang mengulas mengenai hidangan ritual dalam kebudayaan Using. Seperti kata tim penulis, hidangan ritual bagi masyarakat Using terkait erat dengan upacara adat atau ritual tradisi yang telah berlangsung dalam kurun waktu lama. Pengetahuan tentang makanan yang menjadi sajian dalam ritual tradisi, diwariskan secara turun temurun, tidak saja dalam bentuk kasar wujud makanan, tetapi juga mengenai makna dan perlambang yang terkandung di dalamnya.

Jika selama ini ketika mengikuti ritual/adat (tumpeng sewu, misalnya) kita hanya tahu bab makannya saja, di buku ini akan dijelaskan mengenai bagaimana hidangan yang kita santap itu diolah, bagaimana makna yang terkandung dari hidangan yang kita santap tersebut, apa saja aturan-aturan yang harus dijalankan selama proses mengolah hidangan yang kita santap tersebut, apa saja bahan baku hidangan yang kita santap tersebut yang sudah jarang kita temukan di Banyuwangi, sehingga dari itu semua kita tidak hanya sekadar makan, kita bisa lebih menghargai setiap suapan yang masuk ke dalam raga kita.

Sebagai manusia yang lahir di bumi Banyuwangi saya bersyukur bisa membaca tulisan dari masyarakat Banyuwangi sendiri. Tulisan yang berarti karena berhasil mendokumentasikan bagaimana pentingnya melestarikan adat, melestarikan kebudayaan. Membaca buku ini saya seakan diajak bertualang dari satu dusun ke dusun lainnya. Diajak untuk melihat bagaimana suasana ritual Tumpeng Songo di Andong atau Amin Pikin di Cungking.

Sudah. Saya tidak akan berpanjang lebar bercerita isi buku ini. Sila dibaca dan rasakan sendiri ilmu pengetahuan baru yang masuk ke memory kita.

Nah, gaes, hari ini saya berkesempatan untuk datang ke rumah Bu Wiwin, penulis buku Olah Rasa Ujung Timur Jawa. Dari obrolan yang off the record saya mendapatkan lebih banyak lagi informasi mengenai ritual-ritual yang sudah mulai jarang dilakukan, tentu karena beberapa keadaan. Cara Bu Wiwin bercerita membuat saya ingin melihat langsung bagaimana ritual-ritual tersebut berjalan. Yang paling konyol, saya jadi ingin berdoa pada Tuhan agar ritual/adat tersebut tetap lestari bagaimanapun caranya saya nggak mau tahu. Gila, kan? Ngelakuin ritualnya enggak, malah ngelunjak.

Saya datang bukan tanpa maksud dan tujuan. Kami mengambil video pendek yang mengulas sedikit tentang buku bagus tersebut. Sebagai pemuja talkshow radio, saya selalu grogi setiap Cholid yang sudah stand by memegang kamera teriak “satu...dua...tiga...”, itu berarti saya juga harus menyiapkan dialog untuk mulai ngoceh di depan kamera.

Saya sebal betul sebenarnya dengan kegiatan seperti ini, karena pasti banyak cut-nya. Berbeda dengan radio, gaes. Saya merasa selalu siap (meskipun nggak mood) untuk memulai sebuah diskusi. Dan juga kalau talkshow di radio, ruangan host sama ruangan narasumbernya ini terpisah, jadi saya merasa nyaman nggak satu ruangan sama narasumbernya, nggak grogi-grogi banget, lah.

Beda dengan ngobrol bareng narasumber yang berhadap-hadapan, banyakan groginya. Intinya, ngonten buat youtube sama ngonten buat radio itu sensasinya beda. Dan favorit saya tetap talkshow di radio. Satu lagi bukti bahwa talkshow di radio itu lebih baik adalah kita jadi nggak perlu capek-capek macak dulu atau nambah beban pekerjaan kameramen dengan bilang “mbuh pie carane pokok e aku kudu ketok kurus.” Ha gimana, wong nggak ada kamera, hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar