Kamis, 19 Maret 2020

Boomer dan Kepanikan Covid-19


Saya sudah nggak mau lagi membahas apapun tentang covid-19 ini, karena malah bikin saya pusing. Literally pusing, kepala nyut-nyutan. Masuk twitter semuanya bahas corona, buka whatsapp juga sama. Tapi, satu kejadian di grup ibu-ibu muslimat bikin saya shock dan nggak boleh kalau dibiarkan saja.

Salah satu anggota grup secara sadar menyebarkan broadcast ngawur soal corona. Broadcast yang sudah menyebar luas tidak hanya di satu grup saja. Ternyata satu orang di twitter juga mengalami kejadian seperti saya dengan broadcast ngawur yang sama. Ini broadcast-nya:



Nah, akhir-akhir ini saya tahu bahwa Pak Gatot Nurmantyo ternyata juga menuliskan hal ngawur serupa di caption instagram-nya. Bayangkan, akun seorang tokoh yang sudah terverifikasi dengan banyaknya pengikut mengunggah postingan dengan kualitas demikian. Saya bisa saja diam dan tidak menanggapi grup ibu-ibu muslimat ini. Tapi, kok ndilalah banyak yang membenarkan broadcast tersebut. Saya jadi gelisah sendiri.

Kemarin adalah hari pertama saya haid. Bisa dibayangkan ya sobat-sobat perempuan bagaimana menyusahkannya nyeri haid hari pertama. Disela-sela nyeri haid itu saya bolak-balik ngetik untuk memberikan penjelasan dengan bahasa sehalus dan semudah mungkin untuk bisa dipahami para boomer. Sambil miring-miring nahan nyeri sambil gemetar karena sedikit lagi ketikan saya selesai.

Apa yang saya lakukan ini resikonya tiga, gaes. Saya di kick dari grup, saya dicuekin, dan saya batal dijadikan calon mantu. Didepak dari grup sih nggak masalah, dicuekin juga udah biasa, nah yang terakhir ini ngeri-ngeri sedap.

Setelah membaca ulang balasan saya dan merasa sudah menggunakan bahasa sehalus mungkin dan mudah dipahami, saya kirim. Malam kemarin saya lumayan sibuk dengan whatsapp jadi saya tidak lagi memerhatikan grup ibu-ibu muslimat. Hingga tiba-tiba ada satu pesan masuk ke whatsapp saya. Nomor baru, saya nggak kenal orangnya, dan pesannya singkat padat jelas “assalamualaikum” dah gitu aja. Saya buka dan saya lihat apakah beliau merupakan salah satu anggota grup muslimat tersebut, ternyata iya.

Dengan perasaan campur aduk saya balas salamnya dan kembali menunggu beberapa saat. Saya sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, gaes. Entah disemprot dan diajakin debat, entah dilabrak karena sok nyeramahin yang tua atau kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Di luar ekspektasi ternyata beliau mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mengingatkan ibu-ibu di grup muslimat.

Fiuh. Saya lega. Paling tidak dua kemungkinan buruk itu tidak terjadi. Beliau akhirnya bercerita bahwa sudah sering mengingatkan kalau ada postingan yang tidak beres, tapi semakin kesini beliau berhenti melakukan itu karena takut dianggap sok. Apa kabar saya dong ini? Masuk ke grup itu saja secara tidak sengaja, dari awal masuk sampai semalam nggak pernah komen apa-apa, cuma bisa jadi silent reader. Lah terus ujug-ujug semalam ceramah panjang lebar kali tinggi.

Kenapa dah repot banget ngurusin ibu-ibu? Justru itu, karena mereka ibu-ibu. Percaya the power of emak-emak, kan? Kekuatan ibu-ibu ini luar biasa, gaes. Pengaruhnya bahkan bisa menjadikan satu orang duduk di kursi bupati kalau mereka mau. Bayangkan kalau disinfomasi ini mereka sebarkan ke sirkel mereka. Sirkel pengajian, sirkel arisan mapan, sirkel senam pagi/sore, sirkel zumba, dan sirkel mereka yang lain. Bisa-bisa koit ini satu Indonesia hanya karena maksa ibadah.

Gerakan memakmurkan masjid di situasi yang seperti saat ini malah bisa jadi boomerang untuk masyarakat. Saya rasa imbauan dari pemerintah sudah jelas dan sudah sepatutnya kita patuhi. Bukan malah arogan dengan tidak perlu takut corona karena virus ini ciptaan Allah dan masjid adalah rumah Allah.

Haid hari kedua jangan bikin kzl ya cewek santun!

Iya, covid-19 adalah ciptaan Allah. Buaya juga ciptaan Allah. Situ mau dikandangin berdua aja sama buaya? Buaya darat lagi. Mau? Jaga iman ya jaga iman, tapi please jangan abai sama imun (kata admin NUgarislucu). Agama itu longgar, jangan dipersempit hanya karena kita malas belajar, kata admin NUgarislucu (lagi).

Sekarang ini dunia sedang dilanda pandemi covid-19. Ingat, ya, pandemi. Artinya apa? Dunia, nggak hanya Indonesia, sedang dilanda virus ini. Ulasan menarik dari katadata.co.id, bahwa organisasi kesehatan dunia menetapkan covid-19 sebagai pandemi pada Rabu (11/3). Penetapan itu didasarkan pada persebaran virus secara geografi yang telah mencapai 114 negara. Awalnya virus ini ditemukan di Wuhan. Kemudian menyebar ke wilayah geografis lebih luas, seperti menginfeksi penduduk di luar Wuhan, bahkan seluruh Tiongkok. Dengan demikian, virus ini ditetapkan sebagai epidemi. Penyebaran epidemi yang berlanjut ke negara-negara lain, mengakibatkan penularan lokal dan menimbulkan wabah di negara itu, disebut sebagai pandemi.

PR kita selain tetap tenang dan jangan panik atas pandemi ini juga menjelaskan hoaks-hoaks yang beredar di grup-grup whatsapp. Sesekali coba cek wag bapak ibu kita, akan ada banyak sekali broadcast mengenai covid-19 yang absurd sampai absurd banget. Saya menyadari bahwa tidak semua orang tua mendapat kesempatan untuk belajar dan paham dengan literasi digital. Boomer yang nggak paham jadinya bakal menelan semua informasi yang mereka dapat dan disebar-sebarin ke grup-grup sebelah. Enak aja kalau berhadapan sama boomer yang bijak, pas diingetin bilang terima kasih. Yang susah berhadapan sama boomer yang udah dikasih tahu kalau salah malah sumpah serapah.

Yang kayak begini kalau didiemin aja efeknya jelek. Buat apa saya capek-capek belajar hoax busting and digital hygine bareng AJI Indonesia kalau lihat hoaks gitu diem aja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar