Dua ribu dua puluh tinggal dua bulan lagi. Aku rasa di penghujung tahun nanti, ketika orang-orang biasanya menuliskan harapan mereka di tahun yang baru, harapan kami semua sama. Semoga pandemi segera berakhir.
Siapa
yang akan menyangka bahwa di tahun dua ribu dua puluh ini hidup jadi teramat
berat? Yang susah semakin susah karena apa-apa enggak boleh. Banyak orang
dirumahkan, tanpa kejelasan sampai kapan. Itu juga yang terjadi pada salah satu
pelamar yang mencoba peruntungan sebagai penyiar di radio tempatku bekerja.
Awal
Agustus lalu Radio Mandala membuka lowongan pekerjaan sebagai penyiar dan
editor. Lamaran yang masuk banyak sekali sehingga kami harus membagi sesi interview menjadi enam sesi. Mereka yang
datang untuk interview berasal dari
latar belakang yang beragam.
Ada
yang pengusaha ikan mas, cabin crew
Garuda Indonesia, station announcer, rapper dan sebagainya. Nah, yang cabin crew itulah yang saat ini sedang
dirumahkan dan entah sampai kapan. Aku membayangkan bagaimana sumpeknya
orang-orang yang biasanya bekerja, dengan rutinitas yang sama, tiba-tiba
menjadi diam saja di rumah.
Maka,
bersyukurlah kita yang selama pandemi ini masih bisa bekerja, meski dengan income yang tidak penuh atau durasi
kerja yang dikurangi. Paling tidak kita masih mendapatkan penghasilan walau tak
sebesar biasanya. Mau bagaimana lagi.
Seorang
cabin crew ini bercerita bahwa
dirinya senang berbicara. Terlihat jelas saat sesi interview, dia begitu luwes menceritakan pengalamannya, menceritkan
perjalanan hidupnya. Sebab itulah dia ingin mencoba melamar menjadi seorang
penyiar di Radio Mandala.
Ada
banyak kisah para pelamar yang membuatku benar-benar melihat dunia baru lagi.
Salah satunya adalah seorang station
announcer yang juga ikut melamar sebagai penyiar. Ingatanku terlempar pada
masa dimana aku rela datang ke Jember seorang diri untuk mengikuti interview sebagai station announcer.
Ya,
saat itu aku yang jobless melamar
menjadi seorang penyiar di stasiun kereta api. Kenapa? Cause I love announcing. Aku yang saat itu berpikir bahwa ini bisa
jadi jalan karir sebagai penyiar ternyata harus berbesar hati karena memang
belum rezeki. Aku pulang dengan perasaan yang susah dijelaskan. Sampai bertahun
kemudian, entah bagaimana kerja Tuhan, aku benar-benar menjadi seorang penyiar.
Penyiar radio, profesi yang aku idam-idamkan.
Ada
juga kisah kuli panggul sayur yang juga melamar menjadi penyiar radio. Bukan
sembarang kuli panggul sayur. Dia punya bakat luar biasa yang membuat interviewer takjub, ngerap. Kombinasi yang sungguh kontras,
bukan? Saat dia datang untuk interview,
malam sebelumnya istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka. Interview berlangsung Minggu, anaknya
lahir Sabtu.
Aku
kagum dengan pengalaman hidupnya yang akhirnya membentuk dia jadi sedemikian
rupa. Jujur saja first impression
sebenarnya tidak terlalu menarik. Tapi, memang benar bahwa kita tidak bisa
menilai manusia hanya dari luarnya saja. Personality-nya
luar biasa.
Sampai
aku menulis catatan ini aku masih belum tahu siapa-siapa saja yang akan lolos
dan berkesempatan untuk magang. Yang jelas, mereka yang nantinya lolos adalah
orang-orang terpilih yang akan memberi warna baru bagi Radio Mandala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar