Rabu, 04 November 2020

Berobat Bersama Bapak

Hari ini mumpung libur siaran aku mengatar bapak ke puskesmas untuk periksa penyakit kulitnya. Penyakit yang sudah lama itu semakin hari semakin menyiksa bapak. Berbulan-bulan kami berspekulasi yang aneh-aneh, kami bahkan sudah memantapkan hati apabila bapak menderita diabetes, melihat luka-luka beliau mirip luka yang timbul karena diabetes.

Bahkan sebelum pergi ke puskesmas bapak berniat pergi ke kiai karena mengira penyakitnya dibuat oleh manusia. Hhhhh, what a nonsense, batinku. Beruntung, setiap bapak mengunjungi kiai, selalu zonk alias enggak pernah bertemu dengan sang kiai. Bukan aku tidak percaya pada hal-hal diluar nalar, tapi sepengetahuanku bapak tidak pernah bermasalah dengan orang. Bapak bukan pengusaha top atau sosok luar biasa sehingga berpeluang memunculkan musuh. Jadi, ya, aku sama sekali tak mendukung rencana bapak pergi ke orang pintar.

Semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya kami sampai di puskesmas. Bahkan saat ambil nomor antrian pun kami dimudahkan oleh Allah melaui seorang ibu-ibu. Awalnya nomor antrian kami adalah 45, lalu tiba-tiba seorang ibu berbaju kuning yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri memberikan nomor antrian yang lebih kecil padaku, nomor 34. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih karena bisa lebih cepat sampai ke ruang pemeriksaan.

Terima kasih, Ibu baju kuning baik hati.

Setelah mendaftarkan bapak ke loket, kami menunggu beberapa saat di deretan tempat duduk di depan ruang pelayanan umum. Puskesmas sedang ramai, ada banyak manusia yang datang dengan segala masalah mereka. Ada rasa haru menelusup dadaku ketika melihat seorang bapak tua tertatih sendirian masuk ke dalam ruang pelayanan. Tak tega aku melihat para orang tua harus datang sendiri untuk berobat tanpa ada yang mendampingi.

Setelah beberapa lama nomor antrian bapak dipanggil. Aku masuk terlebih dahulu diikuti oleh bapak. Sampai di ruangan yang lumayan besar itu terdapat meja-meja untuk kurang lebih lima dokter. Bapak ditangani oleh dokter Wulan. Setelah memeriksa tekanan darah bapak, dokter Wulan melihat luka-luka di tangan dan kaki bapak, kemudian beliau mendiagnosa sebuah penyakit yang aku tak paham apa namanya.

Aku menceritakan pada beliau soal kebiasaan bapak yang suka membersihkan luka-lukanya dengan revanol dan minyak tawon yang justru sebenarnya tak boleh dilakukan karena akan membuat kulit bapak semakin kering. Dokter Wulan menyarankan menggunkan baby oil atau olive oil untuk membuat kulit bapak lembab. Beliau perlu kulit bapak mendapat kelembabannya kembali dan mengevaluasi lagi perkembangan dari kulit bapak.

Setelah dari dokter Wulan kami pergi ke lab yang ada di sebelah ruang pelayanan umum untuk memeriksa gula darah bapak. Seperti yang aku katakan di awal, kami sudah menyiapkan mental kalau-kalau hasil lab bapak positif diabetes.

Di luar dugaan, gula darah bapak baik sekali. Tak ada masalah dari hasilnya. Aku seperti sedang lewat depan SMPN 1 Srono di siang yang terik, alias adeeem. Tidak menyangka hasilnya akan demikian melegakan. Aku juga bisa melihat bapak sedikit lega, paling tidak bapak bisa tahu kepastian kesehatannya.

Kami kembali menemui dokter Wulan. Sembari beliau menuliskan resep obat aku bertanya apa-apa saja yang sebaiknya tidak bapak konsumsi. Lagi-lagi diluar dugaan ternyata bapak boleh makan apa saja, hanya untuk ayam potong dan kacang-kacangan agak dikurangi, tapi bukan berarti tidak boleh.

Lagi-lagi aku merasa seperti dipermainkan, hahaha. Karena selama ini aku cerewet sekali soal makanan yang dikonsusmi bapak. Sebelum periksa, aku dan ibu di rumah membatasi bapak makan ini makan itu. Ternyata malah tidak ada pantangan bagi bapak.

Well, akhirnya kami pulang dengan keadaan lega karena sudah mengetahui hasil pemeriksaan. Aku lega karena bapak tak lagi ngeyel soal penyakit yang dibuat manusia, dan juga lega karena ternyata kesehatan bapak tidak seburuk yang kami pikirkan. Minggu depan kami harus kembali lagi untuk pemeriksaan lanjutan. Doakan lancar, ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat.

Salam sayang.

Semangat, Inspektur Vijay!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar