Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.
Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.
Di masa lalu, aku pernah sampai
pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal
siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu
kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari
membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.
Aku menepis rasa gugup dengan
mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin
pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan
dengan beliau.
Beberapa menit sebelum on air kami
ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon
kurang menyenangkan ketika melempar jokes.
Makin gugup aku dibuatnya. First
impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa
obrolan kami nanti.
Sampai kemudian beliau memintaku
untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan
beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin
pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak
perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.
Aku terhenyak. Setelah
menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow
hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau
keluarkan.
Aku memahami mengapa beliau
bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak
meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi.
Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti
aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya
disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku
memahami hal tersebut.
Mendekati on air aku masuk ke
ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi
tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.
Ketika sudah on air aku
menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus
pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per
satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.
Ketika jeda iklan, dengan ragu
aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara
ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik
untuk segmen selanjutnya.
Baru saja menutup pintu dan
menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata,
“Anda ternyata hebat.”
Aku otomatis lemas luar biasa.
Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah
mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.
Kejadian itu akan selalu aku
jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun.
Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang
lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian
yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.
Seperti profesor tersebut yang
bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku,
tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam,
justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak
akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut
lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.
Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar