Sabtu, 21 November 2020

Been There, Done That

Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.

Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.

Di masa lalu, aku pernah sampai pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.

Aku menepis rasa gugup dengan mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan dengan beliau.

Beberapa menit sebelum on air kami ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon kurang menyenangkan ketika melempar jokes. Makin gugup aku dibuatnya. First impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa obrolan kami nanti.

Sampai kemudian beliau memintaku untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.

Aku terhenyak. Setelah menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau keluarkan.

Aku memahami mengapa beliau bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi. Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku memahami hal tersebut.

Mendekati on air aku masuk ke ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.

Ketika sudah on air aku menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.

Ketika jeda iklan, dengan ragu aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik untuk segmen selanjutnya.

Baru saja menutup pintu dan menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Anda ternyata hebat.”

Aku otomatis lemas luar biasa. Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.

Kejadian itu akan selalu aku jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun. Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.

Seperti profesor tersebut yang bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku, tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam, justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.

Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar