Minggu, 21 Maret 2021

IYA ATAU ENGGAK, BILANG. JANGAN HILANG.

Beberapa waktu yang lalu media sosial heboh dengan kasus Kaesang si anak pisang yang diduga melakukan ghosting pada Felicia. Aku tidak akan berusaha menjelaskan panjang lebar kasusnya, karena aku nggak paham. Biarlah jadi urusan muda-mudi itu. Kali ini aku nggak belajar apa-apa dari Kaesang, karena nggak paham.

Kalau dulu aku bisa mengambil pelajaran dari kasus Nia Ramadhani karena aku merasa relate sekali dengan profesi sebagai master of ceremony. Nanti lah akan aku tulis sendiri. Sekarang aku sedang tidak membahas Kaesang ataupun Nia Ramadhani.

Dari semua reaksi netizen yang timbul atas kasus ghosting anak presiden itu, ada satu reaksi yang aku cuit ulang karena sependapat dengannya. Cuitan milik Cania Cittairlanie. Dia bilang demikian:

Aku sangat setuju. Berkaca pada kasusku, tentu saja. Menulis catatan ini dalam kondisi menghitung hari melihat orang, yang harus kuakui aku harapkan untuk menjadi teman hidup, menikah dengan orang lain. Ya, aku kembali dihadapkan pada persoalan ditinggal menikah.

Kasus kedua ini, entah bagaimana aku harus bilang, terbilang cukup mudah aku atasi. Meski awalnya terasa sesak luar biasa. Bisa jadi karena waktu yang mendewasakan, aku berani berterus terang meski tidak mengubah keadaan.

Dengan terkuaknya misteri pengirim boneka hijau pada ulang tahunku yang entah keberapa, aku juga mengutarakan semua hal pada si pengirim. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa dia yang mengirim hadiah itu, sama sekali. Setelah sekian lama kami tidak lagi berkomunikasi usai pertemuan waktu itu, aku menjadikan kesempatan itu untuk berterus terang.

Tentu aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama pada pria di masa lalu yang sempat aku idamkan untuk menghabiskan masa tua dengannya. Aku tidak mau kembali menjadi manusia jahat dengan tidak memberikan kepastian apapun.

Boleh jadi aku cakap berbicara di atas panggung. Tapi, untuk urusan yang satu ini, lidahku seperti kelu. Aku tak mau bertemu dengannya meski dia meminta. Aku merasa semua cukup dibicarakan lewat pesan teks. Mungkin karena aku menyukainya, jadi tak berani aku menatap matanya dan berbicara panjang lebar.

Akhirnya kami menyelesaikan semua urusan dan meluruskan keadaan. Aku, seperti yang dicuitkan Cania, memberikan kepastian kepada orang yang kuanggap spesial itu dan kemudian merelakan dia. Kali ini, semuanya terasa ringan. Kepastian itu tidak hanya meringankan langkahku, tapi juga dia.

Komunikasi antara kami, meski hanya lewat pesan teks, setidaknya memberikan kejelasan. Apa yang aku mau, apa yang aku harapkan dan apa yang aku rasakan. Aku menyadari dengan mengungkapkan semua perasaanku, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia telah memantapkan hati dengan orang lain.

Aku menyesali kejadian di masa lalu dimana aku tak sempat mengutarakan bagaimana perasaanku, apa yang aku inginkan, apa yang sebenarnya masih mengganjal di hatiku dan apa yang akhirnya membuatku enggan berumah tangga dengannya waktu itu.

Jika diingat kembali aku merasa bodoh. Aku bisa saja membuat alasan dengan mengatakan bahwa waktu itu aku masih sangat muda. Baru saja menamatkan diri dari kuliah sudah diajak nikah. Atau, aku tak tahu harus bagaimana karena aku tak punya pengalaman untuk berkomunikasi dan menjelaskan padanya bahwa aku belum siap. Tapi, aku tak mau mencari-cari alasan untuk sebuah pembenaran atas apa yang sudah aku lakukan.

Aku sudah mengakui perasaanku padanya, tapi kenapa dia masih memilih orang lain? Perlu diingat bahwa dunia ini tidak melulu tentang kita. Jadi, mari belajar untuk memperbaiki komunikasi. Belajar untuk mau memberi sebuah kepastian. Bisa belum tentu mau. Iya atau enggak, bilang. Jangan hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar