Sabtu, 13 November 2021

NYAMAN YANG AMAN

Sudah sejak dulu aku memikirkan zona aman, alih-alih nyaman. Seiring berjalannya waktu entah bagaimana aku merasa apa yang orang-orang bilang bahwa aku berada pada zona nyaman justru kadang menjadi penyumbang stres paling besar. Bukan zona nyaman namanya jika ia tidak meberikan kenyamanan, kan?

Kalau sedang diam dan tidak memikirkan apapun, aku merasa apa yang aku kerjakan selama ini tidak menuju pada kenyamanan yang aku dambakan. Apalagi keamanan, jauh, teramat jauh. Benarkah? Beginikah seharusnya? Semua pertanyaan itu berputar-putar layaknya penari sufi. Semakin lama dipikirkan, semakin pusing dibuatnya.

Ada satu fase dimana aku yakin sekali bahwa menyingkir dari semuanya dan mengambil langkah berani untuk keluar adalah keputusan tepat. Aku merasa aman dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan apabila aku berhenti di sini dan memulai hal baru.

Tentu tidak semua hal di dunia ini dapat kita miliki. Saat kita mau lima, Tuhan hanya beri kita empat, atau tiga, bahkan bisa jadi satu. Ada yang minta lima, oleh Tuhan malah diberi tujuh bahkan sepuluh. Yang begitu-begitu kalau dipikir pakai logika enggak bakal sampai ke otak manusia. Kenapa aku diberi tiga sedangkan dia lima? Kenapa aku diberi sembilan sedangkan dia hanya delapan?

Aku sepakat dengan cuitan kepala suku Mojok, Puthut EA. Jangan dengarkan orang yang suka berkata untuk meninggalkan zona nyaman. Lha wong sudah ada di zona nyaman untuk apa ditinggalkan?

Katanya, jangan terprovokasi dengan istilah ‘jangan terjebak zona nyaman’. Orang itu yang dicari ya zona nyaman. Nyaman dengan nilai-nilai yang diyakini, nyaman dengan orang-orang baik di sekelilingnya, nyaman dengan menikmati proses kerjanya. Bahkan, nyaman dengan tantangan.

Aku sepakat, dan ingin kutambah lagi dengan zona aman. Buatku, zona nyaman tapi tidak aman ya buat apa?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar