Sudah sejak dulu aku memikirkan zona aman, alih-alih nyaman. Seiring berjalannya waktu entah bagaimana aku merasa apa yang orang-orang bilang bahwa aku berada pada zona nyaman justru kadang menjadi penyumbang stres paling besar. Bukan zona nyaman namanya jika ia tidak meberikan kenyamanan, kan?
Kalau sedang diam dan tidak memikirkan apapun, aku merasa apa yang aku kerjakan selama ini tidak menuju pada kenyamanan yang aku dambakan. Apalagi keamanan, jauh, teramat jauh. Benarkah? Beginikah seharusnya? Semua pertanyaan itu berputar-putar layaknya penari sufi. Semakin lama dipikirkan, semakin pusing dibuatnya.
Ada satu fase
dimana aku yakin sekali bahwa menyingkir dari semuanya dan mengambil langkah
berani untuk keluar adalah keputusan tepat. Aku merasa aman dengan membayangkan
kemungkinan-kemungkinan apabila aku berhenti di sini dan memulai hal baru.
Tentu tidak
semua hal di dunia ini dapat kita miliki. Saat kita mau lima, Tuhan hanya beri
kita empat, atau tiga, bahkan bisa jadi satu. Ada yang minta lima, oleh Tuhan
malah diberi tujuh bahkan sepuluh. Yang begitu-begitu kalau dipikir pakai
logika enggak bakal sampai ke otak manusia. Kenapa aku diberi tiga sedangkan
dia lima? Kenapa aku diberi sembilan sedangkan dia hanya delapan?
Aku sepakat
dengan cuitan kepala suku Mojok, Puthut EA. Jangan dengarkan orang yang suka
berkata untuk meninggalkan zona nyaman. Lha wong sudah ada di zona nyaman untuk
apa ditinggalkan?
Katanya,
jangan terprovokasi dengan istilah ‘jangan terjebak zona nyaman’. Orang itu
yang dicari ya zona nyaman. Nyaman dengan nilai-nilai yang diyakini, nyaman
dengan orang-orang baik di sekelilingnya, nyaman dengan menikmati proses
kerjanya. Bahkan, nyaman dengan tantangan.
Aku sepakat, dan ingin kutambah lagi dengan zona aman. Buatku, zona nyaman tapi tidak aman ya buat apa?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar