Kadang, bab bodo amat yang aku pelajari selama ini lindap begitu saja ketika berhadapan dengan orang atau situasi tertentu. Tiba-tiba jadi perasa, tiba-tiba jadi melodrama.
Aku yang entah mengapa belum
benar-benar ingin berkomitmen merasa menjadi semakin jauh dari pijakan. Aku
merasa terlalu picky, terlalu penuh
dengan pertanyaan-pertanyaan, terlalu sibuk memikirkan mengapa harus
terburu-buru. Yang kadang aku sendiri sulit membedakan benarkah terlalu banyak
pertimbangan atau memang benar begitu adanya, ya memang harus dipikirkan
benar-benar.
Beberapa waktu yang lalu aku
meyadari hal yang selama ini terlewat. Di masa remaja ternyata aku tidak pernah
memiliki impian atau angan-angan hidup bahagia bersama laki-laki, I mean berkeluarga. Bayanganku dulu
hanya hidup bersama bapak, ibu dan Ardi (waktu itu belum ada Ai), financial stable dan memahagiakan
mereka. Tidak terlintas satu pun sosok laki-laki lain.
Kemudian Donat bilang “maybe you just feel enough with your life
makanya dah gak expect apa-apa lagi”. Bisa jadi.
Lalu kutarik lagi ke belakang apa
yang membuatku merasa cukup hidup bersama keluarga intiku saja. Aku kembali
menyadari bahwa I raised by a great
family. Kasih sayang kedua orang tuaku tumpah ruah. Bapak, terutama. Di
masa lalu, ketika aku dan Ardi masih kecil, beliau selalu meluangkan waktu di
akhir pekan untuk mengajak kami keluar rumah. Entah mancing, berenang, atau
sekadar lesehan di Taman Sritanjung.
Hal itu yang membuatku sama
sekali tidak punya pandangan soal lepas dari keluarga. Menikah dan berpisah
dari mereka. Lantas aku berpikir: Tuhan, seperti ini saja sudah lebih dari
cukup. Aku bisa di sisi mereka, melihat mereka sehat, bercanda dengan mereka.
Sudah, sudah cukup. Kenapa, sih, mesti ada fase hidup yang namanya menikah?
Meski aku tahu menikah atau tidak
menikah adalah pilihan, tetap saja aku tidak cukup berani untuk memutuskan. Dan
ketidakberanian itu yang akhirnya membawaku pada kehilangan-kehilangan. Susah
payah aku melepas rasa bersalah atas ketidakmampuanku membuat keputusan.
Meyakinkan diri sendiri bahwa aku melakukan hal yang seharusnya.
Aku tidak bisa tidak yakin. Jika
ingin, maka aku harus yakin. Tidak sekadar ingin, aku harus tahu kenapa aku
ingin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar