Sabtu, 13 November 2021

TIDAK BISAKAH SEPERTI INI SAJA?

Kadang, bab bodo amat yang aku pelajari selama ini lindap begitu saja ketika berhadapan dengan orang atau situasi tertentu. Tiba-tiba jadi perasa, tiba-tiba jadi melodrama.

Aku yang entah mengapa belum benar-benar ingin berkomitmen merasa menjadi semakin jauh dari pijakan. Aku merasa terlalu picky, terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, terlalu sibuk memikirkan mengapa harus terburu-buru. Yang kadang aku sendiri sulit membedakan benarkah terlalu banyak pertimbangan atau memang benar begitu adanya, ya memang harus dipikirkan benar-benar.

Beberapa waktu yang lalu aku meyadari hal yang selama ini terlewat. Di masa remaja ternyata aku tidak pernah memiliki impian atau angan-angan hidup bahagia bersama laki-laki, I mean berkeluarga. Bayanganku dulu hanya hidup bersama bapak, ibu dan Ardi (waktu itu belum ada Ai), financial stable dan memahagiakan mereka. Tidak terlintas satu pun sosok laki-laki lain.

Kemudian Donat bilang “maybe you just feel enough with your life makanya dah gak expect apa-apa lagi”. Bisa jadi.

Lalu kutarik lagi ke belakang apa yang membuatku merasa cukup hidup bersama keluarga intiku saja. Aku kembali menyadari bahwa I raised by a great family. Kasih sayang kedua orang tuaku tumpah ruah. Bapak, terutama. Di masa lalu, ketika aku dan Ardi masih kecil, beliau selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak kami keluar rumah. Entah mancing, berenang, atau sekadar lesehan di Taman Sritanjung.

Hal itu yang membuatku sama sekali tidak punya pandangan soal lepas dari keluarga. Menikah dan berpisah dari mereka. Lantas aku berpikir: Tuhan, seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Aku bisa di sisi mereka, melihat mereka sehat, bercanda dengan mereka. Sudah, sudah cukup. Kenapa, sih, mesti ada fase hidup yang namanya menikah?

Meski aku tahu menikah atau tidak menikah adalah pilihan, tetap saja aku tidak cukup berani untuk memutuskan. Dan ketidakberanian itu yang akhirnya membawaku pada kehilangan-kehilangan. Susah payah aku melepas rasa bersalah atas ketidakmampuanku membuat keputusan. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku melakukan hal yang seharusnya.

Aku tidak bisa tidak yakin. Jika ingin, maka aku harus yakin. Tidak sekadar ingin, aku harus tahu kenapa aku ingin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar