Di kehidupan selanjutnya saya tetap mau terlahir sebagai anak dari bapak dan ibu saya. Yang sepanjang saya ingat, mereka akan selalu mengusahakan segalanya untuk anak. Bagian ini saya rasa semua orang tua pun begitu.
Mereka selalu mengusahakan untuk memberi
kenangan yang baik. Hal-hal yang kami lakukan di masa lalu nyatanya membentuk
saya menjadi anak yang sangat mencintai rumah hingga enggan berpisah dengan
mereka. Kata orang rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan
alhamdulillah sampai detik ini bagi saya adalah iya.
Banyak sekali cerita yang ibu
ceritakan di kala kami sedang berdua. Cerita soal ibu yang dulu sebel banget
sama bapak, karena mondar-mandir melulu depan rumah ibu. Bapak dan ibu saya
dulu bertetangga. Bapak anak perumahan, ibu anak kampung di pinggir perumahan
bapak.
Sampai hari ini kalau ibu cerita
soal proses pertemuannya dengan bapak, ibu selalu enggak habis pikir kok bisa
mereka berdua menikah. Dulu, di sebelah rumah ibu ada sebidang tanah wakaf yang
ditanami banyak Pohon Jati. Modus bapak saya dulu adalah bertanya soal Pohon
Jati ke ibu. Padahal mah dia sebenarnya tahu siapa pemiliknya, memang sengaja
biar ada bahan obrolan.
Selesai insiden Pohon Jati,
besok-besoknya lagi ada aja manuver bapak untuk mendekati ibu. Kali ini pasar
malam. Dulu, ada pasar malam di lapangan dekat rumah Pak Kadafi. Semua orang
tumplek blek di sana. Begitu juga ibu saya dan adiknya, yang tak lain tak bukan
adalah tante saya. Saat sedang jalan-jalan di pasar malam, ibu melihat bapak.
Secepat kilat ibu mengajak adiknya untuk bersembunyi.
Pokoknya, bapak adalah orang
paling sabar se-universe untuk urusan mendekati ibu. Bapak tahu ibu sedang
dekat dengan siapa saja, sedang menjalin hubungan dengan siapa saja, yang
mendekati ibu siapa saja. Maklum, ibu saya ini ayune ora umum. Kembang desa
pada zamannya. Singkat cerita, berkat kesabaran bapak itulah, ibu saya yang
sebelnya gak karu-karuan itu akhirnya luluh.
Cerita soal mereka yang mall-date
ke Wijaya terus dompet bapak sengaja diserahkan ke ibu, maksudnya teh biar ibu bisa belanja sepuasnya.
Harga diri ya kaaan, hahaha. Waktu itu ibu beli setelan yang sekarang jasnya
masih sering saya pakai. Kalau tahu bakal diwarisin ke saya harusnya mah dulu
ibu belanja agak banyak.
Cerita soal dulu pas saya masih
kecil, sering jalan kaki dari rumah Griya Giri Mulya ke Krasak lewat pantai.
Saya pas diceritain bagian ini cuma bisa hah hah aja karena apa tidak capek?
Ibu bilang “yo kakak e seneng dijak jalan, yo wes”. Namanya juga anak kecil.
Cerita soal dulu pas saya masih
kecil sering diajak bapak kerja ke rumah Pakde Jenggot. Bahkan saya masih ingat
ada satu momen ketika naik bis di Terminal Blambangan (posisi bis masih ngetem,
belum jalan) saya muntah banyak sekali. Akhirnya saya dan bapak enggak jadi
berangkat, kami pulang. Tuh, ternyata saya mabok darat sudah sejak dini.
Cerita soal dulu pas saya masih
kecil (yang ini durasinya seriiiiing banget) sering diajak bapak main billyard.
Bapak-bapak lain tuh ngajak anaknya ke pasar malam, ke tempat wisata, ke mana
kek yang lazimnya ngajak anak kecil, ini malah diajak ke tempat billyard. Saya sampai
hapal tempat-tempat billyard yang biasa saya kunjungi, eee, maksudnya yang
biasa saya kunjungi kalau lagi diajak bapak.
Yang pertama di rumah Pak Jek, di
Jalan Penataran. Yang kedua di SMP 1 Banyuwangi ke timur. Yang ketiga masih di
Jalan Penataran, tapi masuk gang, rumah salah satu kawan bapak. Yang keempat di
pintu masuk THR zaman dulu. Bapak saya enggak segan untuk bawa saya dan Ardi
main meski pulangnya saya terpapar kata-kata waidih waileh yang anak kecil
dengar dari para orang dewasa.
Pernah satu waktu ibu cerita,
katanya tiba-tiba saya berlagak seperti bapak pas main billyard. Saya pakai
sapu sebagai pengganti stik, korek kayu saya ibaratkan rokok, dan asu celeng
yang keluar dari mulut ikut melengkapi cosplay saya sebagai pemain billyard.
Saya enggak ingat bagian ini, tapi tiap diceritain saya selalu ngakak. Yah,
namanya juga anak kecil, mereka peniru ulung.
Dari semua tempat billyard yang
kami datangi, favorit saya adalah rumah Pak Jek. Karena di depan rumah beliau
suka ada Kang Bakso dan kami sering sekali dijajanin bakso sama bapak atau
bahkan sama teman-teman bapak yang waktu itu juga sedang main billyard.
Cerita soal strugling bapak dan
ibu dalam menjalani perjalanan hidup sebagai suami dan istri juga respect
betul. Dulu, setiap bapak pulang entah dari mana dan kami diperbolehkan beli
Pop Ice di warung Mak Untung depan rumah, kami bahagia bukan main. Pop Ice adalah
dewa minuman pada zamannya, dan kami jarang banget bisa minum Pop Ice waktu
itu.
Setiap bapak menjaga saya dan
Ardi di rumah karena ibu bekerja sebagai koki di resto, kami selalu makan
makanan buatan bapak. Kebiasaan makan bersama saat kecil juga sangat membentuk
saya untuk bersabar menunggu. Seringkali saya bolak-balik ke dapur untuk
memeriksa apakah bapak sudah selesai masak atau belum. Karena prinsip beliau,
kalau semua sudah matang, sudah selesai dihidangkan, baru kita makan bersama. Karena
masakan bapak saya enak banget jadi menunggu lama pun tidak masalah.
Enggak ada orang yang sempurna,
begitu juga orang tua saya. Ada bagian-bagian yang saya enggak mau warisi.
Tapi, dari bagian-bagian yang saya enggak mau itu, ada lebih banyak bagian yang
mau saya teruskan sebagai anak. Kebersamaan, kehangatan sebagai sebuah keluarga,
nilai-nilai luhur yang diajarkan dan tentu saja canda tawa. Nasihat dari bapak
yang akan selalu saya ingat: harus rukun, saling mengasihi dan menyayangi
antara kakak dan adik, karena nanti di masa depan yang kalian punya ya hanya
kalian sendiri sebagai saudara.
Selamat ulang tahun pernikahan
yang ke-28 tahun, Inspektur Vijay dan istri. Dua puluh delapan tahun yang lalu,
31 Mei 1994, bapak dan ibu saya menikah. Dear, Allah, terima kasih sudah
menyatukan perfect duo ini dan mengizinkan saya, Ardi dan Fahri menjadi bagian
dari perjalanan hidup mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar