Kemarin siang aku dan ibu pergi ke Kepundungan, ke rumah mbah dan beberapa saudara yang ada di sana. Pulangnya, di atas motor, aku bilang ke ibu:
A:
Ini nanti ibuk e kakak e drop ke rumah mak e, terus kakak langsung keluar lagi
ya.
I:
Oke, kemana?
A:
Mmm, me time. Mau nonton film. Hehehe
I:
Wiliiih, gaya. Iya, wes. Sama?
A:
Sendirian ajaaa
I:
Ngajak o temen ta kak
A:
Duh, enggak. Pingin sendirian
Untuk urusan menyenangkan diri
sendiri setelah bekerja keras ibuku selalu menjadi pendukung nomor satu. Beliau
akan membiarkan aku melakukan hal-hal yang memang aku inginkan.
Akhirnya kemarin aku nonton
Gara-gara Warisan. Sebenarnya niat awal nonton hari ini (4/5), tapi diri ini
sungguh sangat tidak sabaran karena testimoni netizen sudah seliweran di twitter.
Dan juga, hari ini cuti terakhir, enggak pingin pergi kemana-mana. Dan juga
(lagi), takut Gara-gara Warisan keburu turun layar kegeser film horor yang lagi
viral.
Ya udah, karena pas lagi bisa
akhirnya langsung meluncur ke NSC Banyuwangi. Aku nonton yang jam 17.30 dan
seperti biasa memilih seat C9 sebagai seat favorit sepanjang masa. Awalnya
sempat jiper karena melihat tulisan “maaf, tiket hari ini habis” di ticket
conter. Dalam hati udah kasak-kusuk, ini yang habis untuk semua tiket atau
gimana?
Ternyata enggak, yang habis cuma
tiket untuk film KKN, film lainnya aman sejahtera sehat sentosa. Menunggu
dengan tidak sabar dan enggak tahu ya, perasaan udah excited sedari awal
berangkat. Happy mulu bawaannya sepanjang jalan meski siangnya ada insiden yang
bikin emosi.
Nonton sendirian ini udah bukan
hal aneh lagi karena memang bukan pertama kalinya. Lima menit sebelum masuk
studio satu aku segera menukar tiket f&b yang memang sepaket dengan tiket
nonton. Studio satu dibuka, kami para penonton pun masuk. Kalau dihitung sih
penontonnya enggak lebih dari dua puluh orang. Itu juga kalau enggak salah.
Film dimulai dengan adegan satu
keluarga yang sangat manis. Pak Dahlan, Ibu Salma dan anak-anaknya. Adegan makan
martabak bareng di meja makan aja aku udah menangyyys. Melihat Adam yang sudah
selalu mengalah sejak masih anak-anak. Adegan-adegan berikutnya mengalir dengan
sangat indah.
Film ini, sesuai dengan judulnya,
berkisah soal Pak Dahlan yang mati-matian mempertahankan guest house agar bisa
memberikan warisan untuk istri dan anak-anaknya. Dalam perjalanan pembagiannya
tentu saja tidak berjalan mulus. Ada konflik-konflik dalam keluarga yang
rasa-rasanya relate dengan kebanyakan rumah tangga. Konflik bapak dengan anak,
konflik ibu tiri dengan anak, bahkan konflik antar saudara.
Perjalanan yang panjang itu
membuat semuanya tersadar bahwa warisan yang jauh lebih berarti bukan harta
benda, melainkan hutang, eh bukan, melainkan eksistensi keluarga. Keluarga yang
rukun, keluarga yang saling menyayangi, keluarga yang saling menjaga. Hal itu
jauh lebih berharga daripada apapun. Itu dah kenapa ada lagu harta yang paling
berharga adalaaaah....... yak betul, duit satu triliyun, enggak dooong,
keluarga.
This movie is a good roller
coaster. Ya ketawa ngakak, ya nangis sesenggukan. Aku masih bisa merasakan vibe
satu studio ketawa pecah pas ada jokes-jokes yang emang lucu banget. Dan kami
semua hening pas adegan-adegan sedih dan menguras emosi. Chemistry the whole
cast ya Allah ya Rabbi ya Karim so damn good! Pas Adam dan Laras marah-marah
serem banget, akting mereka juara.
Btw, film ini karya perdana salah
satu komika favoritku, Muhadkly Acho. Dia juga menjadi penulis dan sutradara di
film ini. Kalau sudah berurusan dengan Acho bisa dipastikan kita mendapat
komedi yang fresh, jaminan mutu pokoknya. Gara-gara Warisan is a must see, aku
kasih 10/10. Masa 10/10? Buatku, sih, iya. Karena ya memang aku anaknya mudah
senang.
Btw, jangan kaget kalau nanti ada
adegan Neng Dicky tiba-tiba nyium kening Lolox. Itu adegan emang bener-bener
unpredictable, wkwkwk.
Btw (lagi), tadi pas ngantri
tiket, ada yang nyolek bahuku dari belakang. Ada mbak-mbak yang tanya apakah
aku mau beli tiket atau sudah reservasi dulu? Aku bisa lihat perasaan was-was
mbaknya akibat tulisan “maaf, tiket hari ini habis”.
Benar saja, mbaknya jauh-jauh
datang ke NSC Banyuwangi buat nonton KKN di Desa Penari. Tadi harusnya dia
nonton di NSC Genteng, tapi mall-nya masih tutup. Akhirnya sejoli ini nonton
Gara-gara Warisan. Daripada jauh-jauh ke bioskop enggak jadi nonton, katanya.
Semoga filmnya sepadan dengan jauhnya jarak yang kalian tempuh, ya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar