![]() |
| Anak tangga menuju makam Mbah Yunus |
Setelah dari Jalen kami langsung
menuju Tamansari, ke makam Mbah Yunus. Dari catatan yang kubaca, Mbah Yunus
adalah orang Sampang, Madura. Meski tidak memiliki pondok pesantren, tapi
beliau sering jadi jujugan masyarakat untuk minta nasihat.
Makam Mbah Yunus ini salah satu
yang memiliki rute paling adem. Karena penuh dengan hijau-hijau pepohonan.
Makamnya terletak di sebuah gumuk di Tamansari, Tegalsari. Karena ada di atas
gumuk kami harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum sampai ke
makam.
Setelah membuka pintu makam, kami
melihat satu makam besar ada di tengah. Belok kanan dari pintu masuk kita bisa
melihat keterangan soal pesarean Mbah Yunus. Beliau wafat tanggal 7 Ramadhan
1414 H atau bertepatan dengan 8 Februari 1994 M. Ada satu foto besar di
sebelahnya yang sudah pasti itu adalah foto Mbah Yunus.
Makam Mbah Yunus dekat sekali
dengan rumah warga. Bahkan melewati pekarangan warga terlebih dahulu. Karena
dekat dengan rumah warga, kami tidak merasa sepi. Masalahnya di sini hanya
satu, semut. Kalau kalian tahu semut yang biasanya ada di buah rambutan, nah
itulah. Ada banyaaak sekali semut itu di keramik, tembok. Dan semut ini adalah
tipe semut yang susah perginya alias ditiup juga tidak kunjung pergi.
Seperti di Mbah Bashar tadi, di
sini kami satu-satunya peziarah. Belum ada peziarah lain yang datang. Tahlil
sambil mendengarkan suara cenggeret dan tertiup angin pagi yang sejuk ini
membuat kami betah berlama-lama. Makam Mbah Yunus yang ada di atas gumuk juga
dikelilingi pepohonan. Kalau tidak ingat masih ada satu tempat yang kami
kunjungi, mungkin kami akan sedikit lebih lama ada di sini.
Kesunyian menyelimuti kami sesaat
sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi ziarah. Kami harus melanjutkan
perjalanan menuju Blokagung sebelum masuk waktu sholat Jumat.
Kalau berdasarkan rute ziarah
muharrik dan sesepuh NU, kami harusnya juga ziarah ke makam Kiai Abdul Madjid,
Krasak. Semoga lain waktu kami bisa kembali menziarahi makam-makam sesepuh yang
belum sempat didatangi.
Rute terakhir menuju Blokagung. Blokagung
is Blokagung, kawan. Pesantren besar di Banyuwangi ini punya daya tariknya
sendiri. Bagiku yang tidak akrab dengan kawasan pesantren ya tentu akan takjub.
Bagi orang-orang yang bermukim di sekitar pondok bahkan sejak kakek dan nenek
mereka bisa jadi biasa-biasa saja.
Blokagung ramai seperti biasa. Lalu-lalang
santri adalah pemandangan menyenangkan. Dulu aku pernah ziarah ke Blokagung
tapi begitulah aku, sekarang sudah lupa jalan menuju makam. Akhirnya setelah
beberapa kali bertanya, kami sampai.
Tentu saja berbeda dengan makam
Mbah Bashar dan Mbah Yunus. Di Blokagung kami bisa mendengar riuh aktivitas pesantren.
Di pesarean Kiai Mukhtar Syafaat kami juga bertemu dengan peziarah lain. Yah,
Blokagung is Blokagung, tidak pernah sepi pengunjung.
Perjalanan ziarahku kali ini
tentu istimewa. Aku mengunjungi Al Ashriyah, yang bahkan di awal rencana tidak
masuk rute ziarah; aku ditemani dua personil baru yang semoga dari perjalanan
ini mereka punya kenangan manis sehingga tidak kapok aku ajak ziarah lagi.
Ziarah bagiku adalah salah satu
cara untuk melembutkan hati. Mengingat bahwa kematian adalah pasti. Tinggal menunggu
giliran kapan saatnya kita mati. Ziarah bagiku adalah sekuat-kuatnya menghadapi
kenyataan. Kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Ziarah bagiku
adalah mengenang. Mengenang dengan hati yang lapang.
Terima kasih, Tata, Ayu dan Mega.
Telah menjadi teman perjalanan mengenang yang menyenangkan. Mari, kita wujudkan
perjalanan mengenang orang-orang alim lainnya, secepatnya.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar