Senang rasanya bisa kembali
melakukan perjalanan ziarah. Terlebih teman perjalanan kali ini bertambah. Aku,
Tata, Mega dan Ayu. Hari ini kami mengunjungi tiga makam. Makam Kiai Ahmad Bashar
dan Kiai Mawardi di Jalen, makam Mbah Yunus di Tamansari dan makam Kiai Mukhtar
Syafaat di Blokagung.
Sebetulnya rute ziarah ini
berdasarkan rute ziarah muharrik dan sesepuh NU Banyuwangi dalam rangkaian
harlah NU yang ke-101 kemarin. Kami ambil yang bagian Tegalsari karena sekalian
berkunjung ke rumah Mega yang masih satu kecamatan.
Tapi, di jalan aku teringat pondok
pesantren tempat Syaikhona Kholil Bangkalan menimba ilmu di Banyuwangi. Setelah
membaca kembali catatan akhirnya aku menemukan nama Pondok Pesantren Al
Ashriyah yang berlokasi di Jalen. Mumpung masih di sekitar Genteng akhirnya
kami menuju Al Ashriyah berbekal google maps.
Sepanjang perjalanan aku sangat
bersemangat. Aku sedang menuju salah satu pondok pesantren tertua di
Banyuwangi. Seperti apa kira-kira pondok pesantren itu? Semakin dekat lokasi
semakin asri suasana sekitar lokasi. Sesuai petunjuk maps, kami berhenti di
depan tembok setinggi orang dewasa.
Setelah menemukan plang bertuliskan doktren Al-Ashriyah kami masuk ke halaman pondok. Dulu singkatan pondok pesantren ternyata doktren, ya. Aku baru menyadari setelah membaca plang di tembok depan.
Dibalik tembok plang nama itu
kami langsung bisa melihat bangunan pondok yang lawas dan sedikit tidak terawat.
Kemudian kami juga bisa melihat masjid yang berdiri kokoh ditengah pondok. Mengalihkan
pandangan ke arah kanan kami bisa melihat bangunan gedek yang sudah tua. Bangunan
yang aku tebak adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji.
Pertama kali melihat semua
pemandangan itu hatiku sudah gak karu-karuan. Ada perasaan yang susah
dijelaskan. Ditambah ketika kami masuk suasana benar-benar sepi. Kami melihat
ada baju dan celana yang sedang dijemur, tapi kami tidak melihat ada aktivitas
manusia di sana. Intinya, pertama kali masuk kami langsung disergap sunyi.
Setelah meyakinkan diri untuk
masuk, kami mulai mencari keberadaan makam lewat sisi kiri masjid. Setelah menemukan
makam kami memutuskan untuk putar balik dan lewat sisi kanan masjid saja. Kami masuk
lewat masjid. Jalan terus menuju area belakang masjid kami menemukan pintu
makam yang tertutup tapi tidak terkunci.
Dari luar aku bisa melihat ada
karpet merah dan biru yang digelar untuk para peziarah dan juga aku melihat
dompal tempat buku-buku tahlil diletakkan. Setelah membuka pintu makam kami
masuk beriringan. Entah karena suasana yang sangat sepi, kami bahkan tidak
mengeluarkan suara seperti biasa, kami cenderung berbisik.
Melihat makam Mbah Bashar aku
semakin dilanda perasaan takjub. Masyaallah, di depanku ini makam orang salih,
makam orang berilmu. Aku berhasil menahan air mataku agar tidak berderaian. Di depan
makam Mbah Bashar saja aku lunglai, bagaimana kelak jika berkesempatan ziarah
ke makam Rasulullah? Sudah jelas nangis sejadi-jadinya.
Kami bersimpuh di atas karpet menghadap
makam. Dengan suasana pagi yang cerah dan sepi itu kami baca tahlil dalam
keheningan masing-masing. Tapi, meski bangunan di luar tampak tidak terawat,
tapi makam Mbah Bashar sangat bersih dan rapi. Satu hal yang menarik
perhatianku adalah batu nisan. Terbuat dari kayu dengan keterangan ukiran
berbahasa Arab.
Selesai tahlil kami tidak segera
beranjak. Kami mengamati sekeliling. Makam yang letaknya di belakang masjid ini
dikelilingi pohon-pohon besar. Kami lihat ada durian, rambutan, kelapa dan
pohon lain yang entah apa Namanya. Kami kerasan, tapi karena terlalu sepi kami
juga jadi segan.
Akhirnya kami memutuskan untuk
keluar dari makam. Keluar dari makam pun (masih di teras samping masjid) masih
tidak ada aktivitas santri. Selain bocah yang kami lihat sedang main di kebun
belakang ketika kami ziarah tadi. Dari tempat kami berdiri pemandangannya
sangat satisfying. Ada kolam ikan besar, di seberangnya pondok tua yang bisa
jadi adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji, kemudian di belakangnya ada
bangunan kamar-kamar santri dua tingkat berbentuk L.
Pemandangan itu betul-betul bagus
sekali. Tidak cukup rasanya hanya direkam oleh kedua retina saja. Kami bergantian
mengambil foto di lokasi itu. Aku yang memang menyukai bangunan lawas rasanya
seperti menemukan oase di gurun pasir.
Selesai berfoto kami keluar dari masjid. Berkeliling menuju pondok tua yang sudah tidak terpakai tapi masih berdiri meski reyot di beberapa bagian. Di sisi kanan bangunan terdapat tulisan “Kejarlah Cita-citamu Setinggi Langit”. Pondok ini sejak pertama kali kami masuk, sudah mencuri perhatianku.
Imajinasiku terlempar ke masa lampau. Bagaimana kira-kira suasana mengaji di sini ketika itu? Bagaimana kira-kira suasana pondok ini di masa lampau? Tentu saja ini ditengah hutan belantara yang minim sekali penerangan. Apa, ya, yang para santri pelajari? Dan banyak apa dan bagaimana lain yang aku simpan di kepalaku.
Suasana pondok masih sepi. Ketika
kami bergerak menuju bangunan ini barulah kami menemukan ada seorang ibu yang
sedang menggendong bayinya dan juga dua anak kecil sedang bermain. Lega sekali
akhirnya bisa melihat manusia lain selain kami berempat di sini.
Aku tidak henti-hentinya
mengagumi tempat ini. Semuanya. Dari depan pintu gerbang sampai ke belakang aku
sangat suka. Jauh dari kata modern tentu saja, tapi justru itu daya tariknya. Kami
juga mengabadikan gambar di bangunan tua ini. Karena sekali lagi rasanya tidak
puas hanya dipandang saja.
Puas mengabadikan gambar, kami
pulang. Bahkan sampai kami jalan menuju pintu gerbang pun belum menemukan
tanda-tanda kehadiran santri. Apa mereka sedang sekolah di gedung lain, ya? Bukan
di gedung ini? Atau mereka sedang libur dan pulang ke rumah masing-masing? Pikirku.
Segala kemungkinan aku pikirkan sehingga wajar jika pondok pesantren Al
Ashriyah sangat sepi hari ini.
Biarlah. Pusing lama-lama terlalu dipikirkan. Sampai di gerbang aku baru menyadari ada sungai besar di depan pondok. Itulah sungai setail. Mengakhiri kunjungan ke Al Ashriyah dengan mengabadikan diri di depan tembok bertuliskan nama pondok.
Cerita berlanjut ke postingan
selanjutnya, ya…







Tidak ada komentar:
Posting Komentar