Minggu, 15 November 2015

Dewasa Itu Pilihan



Sabtu, 14 November 2015.

Tiba-tiba Inda sms dan menanyakan apakah aku sibuk.
Ini sudah pasti dia akan mengajakku keluar, seperti biasa.
Aku segera memberitahunya bahwa aku sedang free.
Tepat sekali, saat aku membutuhkan udara segar untuk menyingkir sejenak dari rutinitas semester lima yang mulai berhawa tidak sehat *hahahaha….

Aku dan Inda keluar ba’da maghrib.
Entah kenapa hari itu Inda menanyakan tentang Melinda.
Aku rasa bukan ide yang buruk untuk mengajak Melinda bergabung bersama kami.
Segera aku bbm Melinda.
Dan ternyata semesta mendukung, Melinda bisa datang bergabung.

Inda dan Melinda.
Aku percaya pada sebuah keyakinan, bahwa tidak ada sebuah kebetulan.
Semua yang terjadi sudah digariskan olehNya.
Aku juga harus mengakui bahwa Inda dan Melinda, adalah dua orang wanita yang dipertemukan dalam keadaan baik oleh sebuah masa lalu yang sama.
Ya, dipertemukan dalam keadaan yang baik.

Siapa yang akan menyangka bahwa Inda, teman baikku akan menjadi kekasih dari mantan pacar Melinda, yang juga teman baikku.
Bukankah ini posisi yang sulit apabila menjadi aku?
Mengingat bahwa mereka berdua sempat menegang di masa lalu.
Mereka berdua sempat saling ingin merelakan kebahagiaan masing-masing.
Ah, aku yang cupu ini akhirnya menjadi korban dari drama yang kalian mainkan -___-

Bagi Inda ini adalah sesuatu yang berat.
Ketika dia sudah mencintai seorang lelaki yang mampu membuatnya yakin, namun si lelaki ternyata belum usai dengan masa lalunya.
Bagi Melinda, tentu ini menyakitkan.
Laki-laki yang dulu mengisi hari-harinya, kini telah memilih sendiri kebahagiaannya.
Dan kebahagiaan itu bukan dirinya.
Sakit, sudah pasti.

Aku sempat bingung menghadapi mereka berdua.
Aku hanya bisa menjadi pendengar.
Aih, kalian tidak tahu betapa repotnya jadi aku.

Jarang aku melihat ada seorang pacar yang terlihat akur dengan mantan kekasih pacarnya.
Kalimatku mbingungi kah? It’s oke, aku yo bingung kok. Kita bingung bareng-bareng.

Jadi gini, kemarin kami bertiga bertemu di kedai ice cream café Lina.
Aaah, pemandangan yang luar biasa bikin adem.
Seadem ketika memandang wajahmu pas pakai songkok *eaaaaa :D
Nggak, maksudnya seadem ice cream yang kemarin aku pesan
Setelah kejadian yang dulu sempat menimbulkan kesalah pahaman, akhirnya ini pertama kalinya mereka bertemu dan duduk berdua memandang langit yang penuh bintang satu meja.

Aku sudah bersiap-siap, kali aja mereka akan adu jotos atau jambak-jambakan disana.
Secara kan yaa, who knows masih ada percikan-percikan dendam terselubung *halah Mey …
Dan juga ditambah dengan cuaca Banyuwangi yang lumayan gerah akhir-akhir ini, bisa menjadi penyumbang terbesar acara perkelahian. Cuaca gerah, otak gerah, hati juga gerah.
Tapi Alhamdulillah malam itu kami berasa di Istanbul *deee nggak nyambung.
Ya nggak apa-apa kepingin Istanbul aja, ada masalah? *batuk kecil*

Aku benar-benar salut dan bangga.
Mereka memperlihatkan sikap yang dewasa sekali.
Setidaknya mereka nggak berkelahi di depan anak kecil ini *siapa yang anak kecil?

Dan seperti yang sudah kuduga.
Saat mereka bertemu pasti topik pembahasan hanya satu “Mas Pelaut” a.k.a ah sudahlah Mas Pelaut aja nggak usah sebut merk :D
Banyak yang Inda tanyakan pada Melinda.
Dan banyak juga yang Melinda jelaskan pada Inda.
Hemm, sweet eh saling bertanya dan saling menjawab wkwkwk…

Aku yang malam itu hanya berperan sebagai figuran merasa menyatu sekali dengan peran.
Pas banget gitu, Cuma fguran di hidup mereka yang sedang asyik ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon tapi yang dibahas masih tetap sama.
Nggak apa-apa sih, selama aku dikasih pinjam hape –yang tentunya buat selfie- dan dikasih cemilan aku nggak akan rewel minta pulang *halah, bocah nem tahun kali ah …
Dan selama mereka berdua tertawa lepas, aku akan tetap selfie dan nyemil setia menunggu dan mendengarkan.
Itu tandanya situasi aman terkendali, hehehe…

Secara tidak langsung mereka mengajarkan bagaimana harus bersikap dengan pantas.
Bagaimana mengendalikan sebuah perasaan, yang bisa saja karena sebuah perasaan justru kita yang dikendalikan, dan bersikap diluar kendali kita. *mudah-mudahan pembaca yang budiman ndak bingung sama kalimat ini -__-
Banyak cara yang Dia lakukan untuk membuat umatnya lebih dewasa dan membijak.
Inda dan Melinda, kejadian di masa lalu lah yang membuat kalian dewasa dan bijak.
Yang pada akhirnya ketika satu sama lain mengerti, ketika satu sama lain memahami, tidak ada drama-drama tai kucing ala-ala sinetron.
Tidak ada persaingan kotor yang terjadi.
Yang ada hanyalah pemahaman, pengertian serta keikhlasan.

Dari kalian saya belajar bagaimana harus ikhlas.
Ikhlas harus dikacangin, ikhlas harus dicuekin, hiks ….
Aku mah apa, Cuma butiran Rinso. Kena air, diobo-obok, ilang …
Dan, ikhlas ketika kalian bilang “Susah sih curhat sama orang yang nggak pernah pacaran.”
Eh helloooooomasiyo tah jare seng tau pacaran, tapi isun iki ngerti laree, ngerti kelendi rasane :’(
Rasa opo Mey? || Rasa coklat -____-

Sekian dulu tulisan yang harusnya ditulis kemarin ini.
Inda dan Melinda yang nama belakangnya sama-sama “Nda” *ciyeee jangan-jangan jodoh -__-
Keep fight yaaa, semangat menjalani kehidupan yang kadang selucu ini.
“Halah Mey, jomblo aja sok-sok nasihatin kamu ini.”
Eh maaf, I’m single.
*melenggang dengan anggun nggak pakai C. Sasmi.

Akur gini kan dilihat juga enak :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar