Ketika aku membuka
Google+ dan mendapati artikel terbarunya.
Tulisan tentang Manusia
Gula, Manusia dan Malaikat, Tiga Enam Puluh.
Hingga yang the one and only di bulan Oktober.
“Genap Seminggu”
Jika saja waktu itu
Inda tidak bilang padaku
Mungkin aku tidak akan
pernah tahu
Aku tidak akan pernah
tahu bahwa Inda pernah mengirim pesan padamu.
Ketika Inda bilang, “Aku ngirim pesan ke masday Ka.”
You
know what I feel?
Inda menyebut nama Mas
Day sudah membuatku salah tingkah.
Wajahku panas, ulu hati
terasa sakit, detak jantung semakin cepat *inikah gejala beri-beri? Hapasih Mey
-__-
Pokoknya ketika Inda
bilang itu tiba-tiba suasana menjadi tegang.
*Se-tegang ketika aku
melihat Annabelle yang hanya sampai di menit 12, dan tidak pernah kulihat lagi,
kecuali ada teman nonton.
Aku tidak tahu harus
apa.
Inda begitu tiba-tiba.
Dia telak membuat aku
jadi kaku.
Sebenarnya aku ingin
protes saat itu.
Tapi toh semua sudah terjadi.
Inda wes kadung mengirim pesan padamu.
Pertama kali Inda
menyodorkan ponselnya padaku
Aku benar-benar takut
untuk sekedar menatap layarnya.
Aku ndak tahu, tapi aku benar-benar takut.
Setelah segala rupa doa
kupanjatkan *tentu dengan tatapan jijik dari Inda, kok bisa sahabatnya ini
keterlaluan noraknya, mungkin begitu pikir Inda.
Aku memberanikan diri
membaca obrolan kalian.
Inda kurang ajar.
Basa-basi kek, apa kek.
Bener
sih tanya kabar, cuman mbok ya jangan langsung to the point gitu -___-
Kamvret
sekali gembel wiyayu ini.
Bad opening Nda …
Suasana
yang tadi tegang sedikit demi sedikit mulai mencair.
Wajahku
yang tadi panas sedikit demi sedikit mulai hangat.
Kekakuan
yang tadi datang sudah mulai melunak.
Campur
aduk perasaan saat membaca pengakuanmu.
Duh,
hidupku sudah seperti drama Korea.
Jangan
membuatku nampak jahat karena selalu membebanimu dengan perasaan bersalah.
Semuanya
sudah bagian dari masa lalu.
Mungkin
aku tersakiti, tapi aku tidak boleh egois dengan tidak memikirkan perasaanmu
yang bisa saja lebih tersakiti daripada aku.
Mungkin
semua hal terjadi karena memang aku yang tidak mengerti.
Kadang
aku mengutuki diri sendiri.
Ya,
karena sikap yang tidak tahu harus bagaimana.
Karena
semua sikapku yang nampak seperti menutup diri atau apalah namanya itu.
Sikap
yang secara seenaknya mempermainkan perasaan seseorang.
Tapi
sungguh aku tidak bermaksud.
Memang
sedih saat harus berjarak seperti ini.
Seperti
ada yang hilang.
Hingga
saat aku melihatmu tersenyum dengan kebahagiaan yang lain.
Aku
tidak mampu untuk tidak menangis.
Sama
sepertimu saat menulis “Genap Seminggu”
Genap
seminggu pula, aku menerima pesan bbm darimu.
Sebuah
tulisan tangan yang berisi permohonan maaf, pujian, dan rasa bangga.
Saking
salah tingkahnya aku sampai mengirim balasan padamu yang menurutku nggak berbobot banget -__-
Kamu
sudah terlalu sering meminta maaf.
Hingga
membuatku seperti orang jahat yang seakan tidak memaafkan orang lain.
Ini
bukan sepenuhnya salahmu.
Ini
juga salahku.
Aku
membaca “Tiga Enam Puluh”-mu.
Hidup
memang kadang selucu ini, kan? :D
Mati-matian
bertahan dengan idealis akhirnya kita harus realis.
Maafkan
aku yang dulu secara sengaja pernah membaca tujuan hidupmu yang tertulis di
buku agendamu *sepurane :D
Wujudkan
itu semua. Perlahan.
Hidup
berproses, dan setiap prosesnya memiliki sensasi.
Selalu
pelihara semangatmu, Mas.
Bukan
hanya kamu yang bangga padaku.
Jauh
sebelum kita saling mengenal, aku sudah bangga padamu.
Dan
akan selalu begitu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar