Senin, 30 November 2015

Kejutan Akhir Bulan

Hari ini aku tahu semuanya.
Ketika aku membuka Google+ dan mendapati artikel terbarunya.
Tulisan tentang Manusia Gula, Manusia dan Malaikat, Tiga Enam Puluh.
Hingga yang the one and only di bulan Oktober.
“Genap Seminggu”

Jika saja waktu itu Inda tidak bilang padaku
Mungkin aku tidak akan pernah tahu
Aku tidak akan pernah tahu bahwa Inda pernah mengirim pesan padamu.

Ketika Inda bilang, “Aku ngirim pesan ke masday Ka.”
You know what I feel?
Inda menyebut nama Mas Day sudah membuatku salah tingkah.
Wajahku panas, ulu hati terasa sakit, detak jantung semakin cepat *inikah gejala beri-beri? Hapasih Mey -__-
Pokoknya ketika Inda bilang itu tiba-tiba suasana menjadi tegang.
*Se-tegang ketika aku melihat Annabelle yang hanya sampai di menit 12, dan tidak pernah kulihat lagi, kecuali ada teman nonton.

Aku tidak tahu harus apa.
Inda begitu tiba-tiba.
Dia telak membuat aku jadi kaku.

Sebenarnya aku ingin protes saat itu.
Tapi toh semua sudah terjadi.
Inda wes kadung mengirim pesan padamu.
Pertama kali Inda menyodorkan ponselnya padaku
Aku benar-benar takut untuk sekedar menatap layarnya.
Aku ndak tahu, tapi aku benar-benar takut.

Setelah segala rupa doa kupanjatkan *tentu dengan tatapan jijik dari Inda, kok bisa sahabatnya ini keterlaluan noraknya, mungkin begitu pikir Inda.
Aku memberanikan diri membaca obrolan kalian.

Inda kurang ajar.
Basa-basi kek, apa kek.
Bener sih tanya kabar, cuman mbok ya jangan langsung to the point gitu -___-
Kamvret sekali gembel wiyayu ini.
Bad opening Nda …

Suasana yang tadi tegang sedikit demi sedikit mulai mencair.
Wajahku yang tadi panas sedikit demi sedikit mulai hangat.
Kekakuan yang tadi datang sudah mulai melunak.
Campur aduk perasaan saat membaca pengakuanmu.
Duh, hidupku sudah seperti drama Korea.

Jangan membuatku nampak jahat karena selalu membebanimu dengan perasaan bersalah.
Semuanya sudah bagian dari masa lalu.
Mungkin aku tersakiti, tapi aku tidak boleh egois dengan tidak memikirkan perasaanmu yang bisa saja lebih tersakiti daripada aku.
Mungkin semua hal terjadi karena memang aku yang tidak mengerti.

Kadang aku mengutuki diri sendiri.
Ya, karena sikap yang tidak tahu harus bagaimana.
Karena semua sikapku yang nampak seperti menutup diri atau apalah namanya itu.
Sikap yang secara seenaknya mempermainkan perasaan seseorang.
Tapi sungguh aku tidak bermaksud.

Memang sedih saat harus berjarak seperti ini.
Seperti ada yang hilang.
Hingga saat aku melihatmu tersenyum dengan kebahagiaan yang lain.
Aku tidak mampu untuk tidak menangis.

Sama sepertimu saat menulis “Genap Seminggu”
Genap seminggu pula, aku menerima pesan bbm darimu.
Sebuah tulisan tangan yang berisi permohonan maaf, pujian, dan rasa bangga.
Saking salah tingkahnya aku sampai mengirim balasan padamu yang menurutku nggak berbobot banget -__-

Kamu sudah terlalu sering meminta maaf.
Hingga membuatku seperti orang jahat yang seakan tidak memaafkan orang lain.
Ini bukan sepenuhnya salahmu.
Ini juga salahku.

Aku membaca “Tiga Enam Puluh”-mu.
Hidup memang kadang selucu ini, kan? :D
Mati-matian bertahan dengan idealis akhirnya kita harus realis.

Maafkan aku yang dulu secara sengaja pernah membaca tujuan hidupmu yang tertulis di buku agendamu *sepurane :D
Wujudkan itu semua. Perlahan.
Hidup berproses, dan setiap prosesnya memiliki sensasi.

Selalu pelihara semangatmu, Mas.
Bukan hanya kamu yang bangga padaku.
Jauh sebelum kita saling mengenal, aku sudah bangga padamu.
Dan akan selalu begitu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar