Mengamati status
teman-teman dan melihat artikel berita terbaru.
Scroll
up scroll down … up down up down up down …
Banyak berkeliaran
status galau yang menyayat-nyayat hati.
Duh, ikut prihatin ya, mblo ….
Setelah beberapa lama ngutak-atik facebook, lantas ada notif di pertemanan.
Fuad Abdillah accepted your friend request.
Aku mengerutkan dahi,
menautkan alis, memutar-mutar bola mata, mengingat-ingat nama itu.
Fuad Abdillah, siapa???
Kapan aku nge-add???
Dan setelah pertarungan
ingatan yang cukup menegangkan itu *halah
Akhirnya aku bisa
mengumpulkan puing-puing ingatan yang berserakan.
Ya, dia adalah
narasumber public speaking saat Temu
Bakti GenRe di Malang dulu.
Seseorang yang nyentrik, aktif, pecicilan tapi
terstruktur hahahaha *iya, jadi meskipun belio
pecicilan tapi pecicilannya itu rapi, duh
gitu lah pokoknya …
Beliau adalah salah
satu orang yang memotivasi kami semua saat itu.
Kami, peserta dari
seluruh Kabupaten di Jawa Timur.
Aku masih ingat
bagaimana mukaddimah yang ia
lontarkan.
Aku masih ingat
bagaimana energiknya orang Jombang satu itu.
Aku masih ingat
bagaimana ia sampai harus naik ke atas kursi demi menjangkau audience-nya yang ada di belakang
*maklum, Mas Fuad ini imut, huwehehehe
Aku masih ingat
bagaimana ia menegurku karena ia pikir aku sedang sakit, hanya karena aku pakai
jaket waktu itu.
Aku masih ingat
kacamata nyentriknya yang berwarna putih itu.
Aku masih ingat teknik announcing gym yang ia ajarkan.
Aku masih ingat
materi-materi yang ia sampaikan.
Aku masih ingat kalimat
yang ia tulis dalam handout-nya
“Sejak teman-teman bangkit dari kursi, teman-teman sudah jadi sorotan. So, put a smile on your face.”
Begitu banyak ingatanku
tentang beliau.
Dan juga ilmu yang ia
berikan kepada kami.
Aduuuh Mas Fuad ini,
aku sampai lupa kapan nge-addnya.
Yang pasti nge-addnya
pas jaman ikut acara di Malang dan itu tahun 2014 silam.
Rong
tahun bek, bayangkan, aku nunggu
belio ngonfirm dua tahun lamanya.
Nunggu nggak selucu ini loh, Mas Fuad *untung
bukan nunggu kepastian dari gebetan yang nggak jelas, huwahahaa
Tapi nggak apa-apa, masih mending di confirm
daripada enggak ^^
Gomawo oppa J
Dua tahun lamanya,
sampai aku lupa bahwa aku pernah mengirim permintaan pertemanan.
Gaes,
sebenarnya aku nggak bermaksud untuk nyelimur dari topik tulisan ini.
Tapi ya gimana,
konteksnya pas banget buat dijadikan analogi.
Gini, seperti kasus
menunggu di atas.
Dulu, saat aku menekan
tulisan “Send friend request” pada
timeline Mas Fuad, aku nggak minta
untuk segera di terima.
Sampai aku lupa dengan
sendirinya dan tiba-tiba setelah dua tahun baru ada pemberitahuan.
Sama seperti urusan
perasaan, gaes.
Untuk kalian, mas-mas
maupun mbak-mbak yang sedang menunggu, ataupun yang sedang ingin move on …
Aku tahu bagaimana
perasaan kalian sampai akhirnya keluar ikrar dari dalam diri kalian untuk
menunggu seseorang yang kalian sayang.
Sampai
kapanpun pasti akan aku tunggu, begitu pasti.
Aku tahu bagaimana
perasaan itu, aku tahu bagaimana kalian mati-matian bertahan.
Tapi begini, gaes …
Menunggu itu sah-sah
saja. Menunggu itu hak asasi kita sebagai makhluk Tuhan yang galauan *hehehe
Tapi kita juga harus
tahu diri.
Tidak perlu kita
menyakiti diri sendiri dengan beban perasaan selama itu.
Dua tahun, tiga tahun,
empat tahun, lima tahun, …….
Duh
jeng,
mubadzir ah kalau waktu selama itu hanya digunakan untuk mikirin si dia.
Siapa yang bisa
menjamin bahwa hati kita tidak akan berpaling? Tidak akan berubah?
Ndak
ada yang bisa menjamin.
Apalagi manusia yang
kita tunggu itu sudah tidak menunggu kita.
Lho, lak malah rugi to?
Jadi, yuk mari isi
hari-hari dengan rutinitas seperti biasanya.
Be
more active, be more positive, be more kind.
Tidak apa-apa
kehilangan seseorang, pasti sakit, tapi sakit itu sementara.
Selalu ada waktu yang
bisa mengobati.
Selama kita tidak
kehilangan hati dan pikiran, everythings
gonna be oke.
Bukankah sebelum ada
dia kita juga bahagia???

Tidak ada komentar:
Posting Komentar