Malam itu, 21 Maret 2016 kamu memintaku untuk tidak
meninggalkan kampus terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang ingin kau
sampaikan. Malam itu pula sebenarnya aku sudah dapat menerka-nerka apa yang
hendak kamu sampaikan. Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa kamu akan
berbicara tentang urusan perasaan padaku.
Karena sikapmu yang seperti itu bukan kali pertama.
Tiga kali kamu berusaha untuk berbicara hanya berdua denganku. Namun, tiga kali
itu pula aku selalu berusaha menolak. Kamu selalu memanggilku dengan disertai
tatapan yang tidak biasa. Dari raut wajah dan tatapan itu aku menjadi tahu. Aku
hanya takut kamu akan menyampaikan hal yang belum siap aku terima.
Ternyata sesuai dugaan. Malam itu menjadi ajang blak-blakan bagimu. Kamu menanyakan perihal
blogmu yang sudah aku baca. Dan, kamu membenarkan bahwa tokoh -yang katamu
fiksi itu- yang ada dalam blogmu adalah aku. Ya, aku.
Jujur, aku tidak terkejut ketika kamu bilang bahwa
tulisan itu memang untukku. Karena aku sudah menyiapkan diri sedemikian rupa
untuk bersikap tenang. Sebenarnya sudah lama aku tahu tulisan-tulisan di blogmu
yang mengerucut pada seorang perempuan. Dua tulisan yang sejujurnya sudah
kuketahui sejak lama. Hanya saja aku berani bertanya padamu pada awal Maret
lalu. Dari tulisan itu aku sempat berfikir apa perempuan yang kamu maksud itu
aku? Bukan bermaksud untuk terlalu percaya diri. Tapi berdasar apa yang
kuketahui, kamu tidak pernah bercerita tentang seorang perempuan yang sedang
kau suka.
Aku tidak menyangka kita akan ada dalam situasi yang
seperti ini. Yang membuatku lebih tidak menyangka adalah pengakuanmu bahwa kamu
menyukaiku sejak kita masih dalam masa Opspek. Padahal pada masa itu kita
bahkan tak saling mengenal. Aku juga heran, karena tidak mungkin apa yang
melandamu itu adalah love at first sight.
Karena aku tidak percaya pada hal tersebut, sama sekali.
Kamu menjadi seseorang yang berbeda ketika
mengutarakan perasaanmu padaku. Tidak seperti kamu yang kukenal. Tiba-tiba serius,
blak-blakan, tegang. Padahal kamu
tahu sendiri bahkan malam itu aku masih sempat tertawa, tidak bisa serius sama
sekali.
Sesuai janjiku, aku akan menjawab semuanya melalui
tulisan ini. Aku dan kamu sudah lama saling mengenal. Aku tahu kamu, kamu tahu
aku. Kita sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik. Pertemanan yang
terjalin hingga muncul label sahabat adalah puncak pertemanan yang paling erat.
Baru kali ini aku memiliki teman laki-laki sedekat kamu.
Kamu tahu bahwa sebenarnya hal seperti ini akan kamu
sampaikan kelak saat kita sudah lulus kuliah atau saat kamu sudah siap.
Nyatanya malam itu kamu berterus terang. Seperti katamu yang bilang bahwa
perasaan itu sudah seperti Gunung yang akan meletus. Tidak bisa dibendung lagi.
Aku sangat menghargai perasaanmu padaku. Seperti aku
menghargai perasaan laki-laki lain yang pernah mengutarakan perasaan mereka
padaku. Aku hanya menyimpan pengakuan mereka dalam ingatanku. Jujur setelah
pengakuanmu itu aku tidak tahu harus menjawab apa.
Seperti yang kukatakan, aku tidak menyangka akan
terlibat dalam perbincangan serius seperti ini saat aku masih mengenyam
pendidikan. Aku benar-benar bingung.
Begini…
Jika aku menerimamu, setelah itu bagaimana? Kamu
jelas tahu bahwa aku tidak berkenan pacaran. Menikah? Hal itu bahkan sangat
jauh dari prioritasku saat ini. Aku bertekad untuk menamatkan pendidikan,
bekerja, menyekolahkan Fahri, baru setelah itu menikah. Itu life goals yang kubuat.
Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan akan
membolak-balikkan hati dan perasaan manusia. Aku tidak menyuruhmu untuk
menunggu. Karena aku juga tidak akan menjanjikanmu dengan sebuah perasaan yang
dapat berubah sewaktu-waktu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku masih
memiliki perasaan terhadap seseorang. Sama sepertimu, jika ternyata laki-laki
itu memintaku pada orangtuaku di saat keadaanku masih seperti ini, pasti aku
menolaknya. Aku masih ingin meraih cita-cita dan masih ingin meningkatkan
kompetensi diri.
Bukankah tidak terlalu cepat saat kamu mengutarakan
perasaanmu itu padaku? Aku sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku
merasa masih seperti anak-anak yang tidak seharusnya memikirkan hal semacam
ini.
Kamu adalah laki-laki yang baik. Aku nyaman berada
disekitarmu, karena kamu juga memberikan perlindungan yang baik padaku. Kamu
pandai membuat setiap wanita merasa nyaman di sampingmu. Saat menjadi imamku
sholat, dan perhatian-perhatian kecil yang kamu tunjukkan, sempat ada sesuatu
yang berdesir dalam hati. Sama sepertimu, berulang kali aku meneguhkan diri
bahwa kamu adalah seorang teman, seorang sahabat, tidak lebih. Tapi ternyata
ada hal lain yang mengganjal. Aku tidak tahu apakah itu perasaan yang sama
seperti perasaanmu atau bukan.
Kita jalani saja hari-hari ke depan seperti
biasanya. Aku dan kamu sudah sama-sama mahfum dengan olok-olok teman yang
mengira kita berpacaran. Padahal kamu tahu aku perempuan seperti apa. Kata-kata
“pacaran” menjadi sangat aneh bagiku, bahkan ketika mereka dengan mudah
mengucapkannya.
Aku harap kamu dapat dengan bijaksana mencerna apa
yang aku tuangkan dalam tulisan ini. Terimakasih karena telah berani
mengungkapkan apa yang sedang kamu rasakan. Pasti was-was karena harus keluar
dari tempurung perasaan yang telah tersimpan rapi selama dua tahun.
Aku dapat melihat keseriusan dan ketulusan yang
memang kau tunjukkan. Tapi seperti yang sudah kubilang, aku tidak akan
menjanjikan sebuah perasaan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Percaya saja bahwa
Tuhan selalu memiliki kejutan-kejutan tak terduga untuk setiap hambanya. Jika
pada akhirnya aku dan kamu berjodoh tentu tidak ada suatu apapun yang mampu
menolak kuasa-Nya. Karena pada akhirnya yang kita dapat jika bukan teman hidup,
ya pelajaran hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar