Setelah
akhir tahun 2015 lalu saya diberi sebuah buku oleh salah satu sahabat saya,
baru hari ini saya membaca beberapa bagian di dalam buku itu. Maklum, setelah
dapat buku berjudul “Jomblo Istiqomah” itu saya langsung nggak sengaja pamer ke
teman-teman LDK. Jadilah akhirnya buku itu diperebutkan oleh mereka-mereka yang
sudah pasti juga jomblo. Lha kalau nggak jomblo ngapain pinjam buku itu, kan?
Akhirnya,
meskipun saya belum baca, barang kata pengantarnya sekalipun, saya meminjamkan buku
itu kepada salah satu teman. Dan, setengah tahun pun berlalu ……..
.
.
.
Buku
itu berisi curhatan dari tiga puluh sembilan penulis yang juga sudah pasti
jomblo *hahahahahaha ….
Tulisan
dari 39 orang itu dikumpulkan jadi satu dan akhirnya menjadi sebuah buku. Saya
hanya sempat membolak-balik buku berwarna kuning tersebut. Hingga akhirnya saya
berhenti pada salah satu tulisan dari miliknya @Permoto.
Di
awal tulisannya, @Permoto memberikan sindiran-sindiran kekinian untuk para
jomblo di dunia. Truk aja gandengan, masa kamu enggak? Sepatu aja ada
pasangannya, masa kamu enggak? Jamban aja ada yang ngisi, masa hatimu enggak?
-_____-
Itu
adalah slogan-slogan terbaru dan terkampret yang pernah saya dengar. Segitunya
banget ya jomblo dizalimi *wkwkwk
Membicarakan
jomblo memang tak ada hentinya, sama seperti jonru yang tak henti-hentinya nyinyir. Ya gimana, status jomblo itu bullyable sekali, dan pas djadikan bahan
guyonan. Nah, untuk yang satu itu hanya berlaku bagi orang-orang dengan selera
humor level ma’rifat dan kesabaran yang luar biasa.
Jangan
coba-coba untuk guyon sama orang yang dikit-dikit sensi, dikit-dikit ngambulan, ditambah dia juga jomblo.
Mending jauh-jauh, biar selamet. Tapi nggak pakai Bunyamin, karena Slamet
Bunyamin itu nama Bapak saya.
Untuk
masalah guyonan, saya juga termasuk salah satu oknum yang suka nyinyirin teman
yang jomblo. Padahal saya sendiri sama keadaannya seperti mereka. Yah anggap
saja sedang mentertawakan hidup bersama-sama, kan nggak enak kalau pura-pura
bahagia sendirian.
Oke,
kembali kepada slogan yang kampret tadi.
Begini,
mengutip salah satu tulisan Mas Agus Mulyadi di Mojok.co. Kepada teman-teman
saya yang sudah eneg karena
disama-samain dengan truk gandeng, kalian bisa jawab hinaan itu dengan elegan
seperti ini, “Buat apa gandengan kalau jalannya pelan kaya keong? Buat apaaaaaa???
Mending nggak gandengan tapi gesit dan irit, lincah pula.”
Kok
seperti iklan motor, ya? -__-
Dijamin
lawan bicara kita akan K.O, kecuali kalau lawan bicaranya adalah Farhat Abbas
yang jago bersilat lidah, atau Vicky Prasetya yang perbendaharaan kosa katanya
bikin kita melongo saking iyuuuh-nya.
Untuk
masalah sepatu, ya sudah seharusnya sepatu itu punya pasangan. Masa iya ada
sepatu jomblo? Selisihan? Siapa yang mau beli? Siapaaaaa…??? Kalau manusia mah,
ya memang manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi kan nggak ujug-ujug pas lahir procot sudah
ditemukan pasangannya? Semua kan ya butuh proses to, gaes, bukan begitu?
Kalau
sepatu/sendal ya sejak awal produksinya memang sudah diciptakan sepasang. Coba,
pabrik sepatu sebelah mana yang memproduksi sepatu hanya bagian kanan saja atau
kiri saja? Kalau ada, ajak saya kesana.
Dan
slogan yang satu ini “Jamban aja ada yang ngisi, masa hati kamu enggak???”
memang benar-benar kampret dan bedebah sekali. Ya Rabb, ya keleus hati ini
disamakan dengan jamban -__-
Jamban
isinya eek manusia dan segala hal yang kotor-kotor. Duh, Bang, hati Eneng nggak
sehina itu, hiks.
Sebenarnya
saya juga gagal paham dengan definisi jomblo itu sendiri. Sek tah, jomblo itu kan gelar yang hanya pantas disandang oleh
orang-orang yang pernah pacaran terus putus, untuk waktu yang lamaaaaaaaa,
sehingga hati itu kosong kemudian muncul sarang laba-laba di berbagai sudutnya.
Misalnya
seperti ini, kamu sudah putus dengan mantan sejak dua tahun lalu, terus ada
orang yang dengan isengnya bertanya, “Jomblo sudah berapa lama?” | “Sudah dua
tahun.”
Nah,
kalau seperti itu kan jelas, yak.
Jomblo sudah dua tahun. Nah, disini yang bingung akhirnya kan saya. Pas
kebetulan ada orang bertanya ke saya, “Jomblo sudah berapa lama?”, ya masa saya
jawab “Sudah 21 tahun …”. Aduuuuuh mama sayangeeee, itu jomblo apa antre naik
haji?
Untuk
perempuan yang sejak dikandung badan saja, sampai segede gaban begini nggak
pernah pacaran, apa pantas disebut jomblo? Mbok
tulung, nuranimu rek :(


Mestinya kalau kasusnya seperti cerita di atas bukan disebut jomblo tapi wanita Single :D *lebih elegan istilahnya :v
BalasHapusDan sepertinya kita senasib mey :v
Nah itu, kita bukan jomblo tapi single, yara gedigu? 😁
Hapus