Rabu, 15 Juni 2016

Drama atau Realita?

Semakin hari saya semakin ndak ngerti dengan apa yang terjadi di kampus saya. Banyak drama ecek-ecek yang menghiasi kehidupan berorganisasi di kampus. Hari ini saya berangkat dengan hati riang gembira dari rumah karena akan menghadiri acara Musyawarah Mahasiswa Untag Banyuwangi yang ke-XV (lima belas). Dengan harapan dari rumah bahwa musma kali ini akan berjalan lancar, baik serta kondusif. 

Ndilalah kok saya sudah disuguhi kebiasaan ngaret entah turunan nenek moyang siapa. Undangannya jam delapan, ngaretnya dua jam lebih. Dari sana aulanya masih di tutup.

Sebenarnya semua berjalan baik-baik saja, hingga sampai pada masalah siapa yang harusnya jadi pimpinan sidang. Ketua MPM atau ketua panitia musma? Karena penampakan yang terjadi tadi adalah ketua MPM menjadi pimpinan sidang.

Nah, entah mengapa gaes, masalah kian meluber ke mana-mana. Yang ngomongin SC lah, yang ngomongin pembuat AD/ART lah, yang ngomongin jumlah delegasi, sampai akhirnya ngomongin masalah keabsahan musma Fakultas Ekonomi. Dari sini saya sebenarnya mulai bisa menangkap inti permasalahan. Peninjau yang sedari tadi koar-koar masalah teori itu sebenarnya ingin kejelasan status dari musma Fakultas Ekonomi. Karena beredar kabar bahwa Fakultas Ekonomi terjadi dualisme kepemimpinan.

Sebagai mahasiswa, nih ya, kita lagi ngomongin mahasiswa. MAHASISWA, siswa yang MAHA, maha segala-galanya dah tuh, harusnya kan sikap kita juga nggak sama kaya bocah SMA? Katanya agent of change? Katanya mahasiswa intelek? Katanya organisatoris sejati? Katanya berpendidikan?
Kalau yang seperti itu tadi dinamakan manusia berpendidikan, sungguh, salah apa Ki Hajar Dewantara dulu? Kenapa kok generasinya jadi sedemikian norak begini?

Saya memang bukan mahasiswi cerdas macam kakak-kakak organisatoris itu, yang saking cerdasnya sampai melewati batas. Saya nggak habis pikir saja kenapa kok mereka yang lebih cerdas dari saya itu justru menunjukkan sikap yang sama sekali tidak cerdas. Tadi itu saya bukan menghadiri acara musyawarah mahasiswa, tapi menghadiri acara reality show yang disiarkan secara langsung.

Saya juga menyayangkan sikap arogan para kakak-kakak mahasiswa. Main banting kursi seenaknya, main gebrak meja seenanknya, main banting meja seenanknya, nyolot, nunjuk-nunjuk seenaknya, ngomong kasar, dari uwaaaasuu sampai jiancok pun tak ketinggalan. Bukan lagi asu dan jancuk, tapi sudah uwasu dan jiancok. Bahkan sampai bawa clurit segala, edyan!

Gini loh, kamu banting kursi sampai sempal begitu memang itu kursi punya simbahmu? Iya, memang kamu bayar SPP tapi kan ya nggak ujug-ujug jadi merasa memiliki begitu? Sumpah, saya kasihan melihat kursi yang dibanting tadi sampai meleyot-meleyot begitu.

Meja di jungkir balikkan, cukup perasaanmu aja Kak yang jungkir balik ngelihat gebetan jalan sama cowok lain, property kampus jangan kamu jungkir balikkan juga seenak udelmu gitu dong? Memangnya kamu yang jadi sponsor untuk menyediakan meja? Kalau iya, monggo jungkir balikkan sesukamu.

Nyolot, nunjuk-nunjuk, ngomong kasar. Saya heran, justru mereka yang dari kader organisasi bernafaskan Islam yang melakukan hal-hal murahan seperti itu. Ya maaf kalau saya bawa-bawa organisasi ekstra kampus, tapi saya sudah kadung eneg sama kelakuan-kelakuan kader macam mereka. Kader yang hanya mencoreng nama baik organisasinya. Katanya kader berkarakter? Katanya kader berakhlakul karimah? Lah yang begitu tadi letak karimahnya dimana, Kak? Dimana??? Tolong tunjukkan ke adek …

Apalagi ini bulan suci Ramadhan. Ente-ente semua yang Islam pada kagak pernah ngaji kali, ya? Ngerti nggak kalau bulan puasa itu menahan hawa nafsu? Kagak boleh makan, minum, lebih dari itu semua ente kagak boleh marah-marah. Heran saya sama kakak-kakak ini. Dibilang ngerti itu nggak ngerti, dibilang nggak ngerti tapi sudah pada tua semua. Kalau hal-hal semacam ini saja Kakak nggak ngerti gimana mau ngajarin adek ilmu agama, Kak? Gimana mau jadi imam yang baik buat adek? Mau dibawa kemana roda rumah tangga kita nanti? Ke emperan neraka?

Jangan salahkan saya kalau saya mojokin mereka, para kader abal-abal, karena memang mereka sendiri yang menunjukkannya didepan saya, di depan kami semua. Kok ya gampang banget gitu loh misuh-misuhin orang. Kok ya gampang banget marah-marah. Astaghfirullah, akhi … Dan bawa-bawa clurit segala. Duh, yang ini kok ya kepikiran gitu buat bawa clurit. Kamu habis ngeramban dimana sih, Kak? Saya nggak ngerti siapa yang mengeluarkan clurit di depan ketua MPM tadi, yang jelas hal itu menjelaskan sekali ada drama di antara kita. Sudahlah, kalau memang permasalahan yang terjadi itu bisa diselesaikan dengan otak, kenapa harus pakai otot? Kalau bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus marah-marah? Kalau bisa diselesaikan dengan damai, kenapa harus ditilang? #halah

Saya nggak peduli kalian datang dengan bendera masing-masing, monggo, silahkan. Tapi mbok ya tolong, kalau sudah memasuki kawasan “Musyawarah Mahasiswa” benderanya ditinggal dulu. Ini kita berbicara kepentingan mahasiswa, bukan kepentingan kelompok/organisasi. Kalau mau gelut ya silahkan gelut diluar, jangan gelut di forum seperti itu. Nggak habis pikir saya. Saya nggak peduli juga sama yang merah, biru, kuning, hijau atau hitam sekalipun. Yang saya tahu kita semua ini adalah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, sudah itu saja.

Lagian kakak-kakak tadi ngapain sih begitu? Biar kelihatan sangar? Kelihatan keren? Kelihata jago? Cuih. Kelakuan model begitu juga nggak akan menarik perhatian kami para ciwi-ciwi innocent nan lemah lembut ini. Justru kami engap melihatnya.

Sudahlah, jangan suka nunjukin kekuatan seperti itu hanya demi mbribik gebetan kalian. Saya jamin, gebetan kalian juga bakal nge-blacklist kalian dari daftar incaran mereka kalau cara kalian tebar pesona norak begitu. Kalau mau keren di mata kami para ciwi-ciwi, jadilah pribadi yang bijaksana, pribadi yang tetap tenang namun tegas, pribadi yang nggak gampang emosi, pribadi yang nggak gampang tebar pesona, pribadi yang berkharisma, atau mungkin kalau perlu jadi pribadi yang cuek kaya mas-mas perpus sekalian biar para ciwi jadi penasaran sama kalian, wahai para ikhwan yang budiman.

Nah, sayangnya diantara kakak-kakak sekalian nggak ada yang seperti itu …

Hari ini Musyawarah Mahasiswa mengalami deadlock. Para petinggi MPM sedang mediasi dengan pihak rektorat. Saya hanya berdoa semoga besok tidak menemukan lagi drama penuh kepentingan yang membuang-buang waktu itu. Yang tadinya kawan jadi lawan.

Eh, tapi sebentar, sebenarnya ini drama atau realita?

5 komentar:

  1. Ini kenapa versimu beda suasana sama versi pak ketua .. 😂
    Mahasiswa baper kalo nulis gini ni gebetan dibawa2 .anjaaay adek ngakak kak ... 😂😂😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Versi ketua piye emang ndo???
      Ya gitu deh, Dik. Semua-mua dibaperin hahahaha

      Hapus
  2. Ini kenapa versimu beda suasana sama versi pak ketua .. 😂
    Mahasiswa baper kalo nulis gini ni gebetan dibawa2 .anjaaay adek ngakak kak ... 😂😂😂😂😂

    BalasHapus
  3. Lhooo... Aksi teatrikal yang menyindir adegan di Senayan mungkin atau meniru? muehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, aksi yang di senayan itu kan dulunya juga terjadi di bangku kuliah Mas, hahahaha

      Hapus