Semakin hari saya semakin ndak ngerti dengan apa yang terjadi di kampus saya. Banyak drama ecek-ecek yang menghiasi kehidupan
berorganisasi di kampus. Hari ini saya berangkat dengan hati riang gembira dari
rumah karena akan menghadiri acara Musyawarah Mahasiswa Untag Banyuwangi yang
ke-XV (lima belas). Dengan harapan dari rumah bahwa musma kali ini akan
berjalan lancar, baik serta kondusif.
Ndilalah kok saya sudah disuguhi kebiasaan ngaret entah turunan nenek moyang siapa.
Undangannya jam delapan, ngaretnya dua jam lebih. Dari sana aulanya masih di
tutup.
Sebenarnya semua berjalan baik-baik saja, hingga
sampai pada masalah siapa yang harusnya jadi pimpinan sidang. Ketua MPM atau
ketua panitia musma? Karena penampakan yang terjadi tadi adalah ketua MPM
menjadi pimpinan sidang.
Nah, entah mengapa gaes, masalah kian meluber ke mana-mana. Yang ngomongin SC lah, yang ngomongin
pembuat AD/ART lah, yang ngomongin
jumlah delegasi, sampai akhirnya ngomongin
masalah keabsahan musma Fakultas Ekonomi. Dari sini saya sebenarnya mulai bisa
menangkap inti permasalahan. Peninjau yang sedari tadi koar-koar masalah teori itu sebenarnya ingin kejelasan status dari
musma Fakultas Ekonomi. Karena beredar kabar bahwa Fakultas Ekonomi terjadi dualisme
kepemimpinan.
Sebagai mahasiswa, nih ya, kita lagi ngomongin
mahasiswa. MAHASISWA, siswa yang MAHA, maha segala-galanya dah tuh, harusnya kan sikap kita juga nggak sama kaya bocah SMA? Katanya agent of change? Katanya mahasiswa intelek? Katanya organisatoris
sejati? Katanya berpendidikan?
Kalau yang seperti itu tadi dinamakan manusia berpendidikan,
sungguh, salah apa Ki Hajar Dewantara dulu? Kenapa kok generasinya jadi
sedemikian norak begini?
Saya memang bukan mahasiswi cerdas macam kakak-kakak
organisatoris itu, yang saking
cerdasnya sampai melewati batas. Saya nggak
habis pikir saja kenapa kok mereka
yang lebih cerdas dari saya itu justru menunjukkan sikap yang sama sekali tidak
cerdas. Tadi itu saya bukan menghadiri acara musyawarah mahasiswa, tapi
menghadiri acara reality show yang disiarkan secara langsung.
Saya juga menyayangkan sikap arogan para kakak-kakak
mahasiswa. Main banting kursi seenaknya, main gebrak meja seenanknya, main
banting meja seenanknya, nyolot, nunjuk-nunjuk seenaknya, ngomong kasar, dari uwaaaasuu sampai jiancok pun tak ketinggalan. Bukan lagi asu dan jancuk, tapi sudah uwasu dan jiancok. Bahkan sampai bawa clurit segala, edyan!
Gini loh, kamu banting kursi sampai sempal begitu memang itu kursi punya simbahmu? Iya, memang kamu bayar SPP
tapi kan ya nggak ujug-ujug jadi
merasa memiliki begitu? Sumpah, saya kasihan melihat kursi yang dibanting tadi
sampai meleyot-meleyot begitu.
Meja di jungkir balikkan, cukup perasaanmu aja Kak
yang jungkir balik ngelihat gebetan jalan sama cowok lain, property kampus
jangan kamu jungkir balikkan juga seenak udelmu
gitu dong? Memangnya kamu yang jadi sponsor untuk menyediakan meja? Kalau iya,
monggo jungkir balikkan sesukamu.
Nyolot, nunjuk-nunjuk, ngomong kasar. Saya heran,
justru mereka yang dari kader organisasi bernafaskan Islam yang melakukan
hal-hal murahan seperti itu. Ya maaf kalau saya bawa-bawa organisasi ekstra
kampus, tapi saya sudah kadung eneg
sama kelakuan-kelakuan kader macam mereka. Kader yang hanya mencoreng nama baik
organisasinya. Katanya kader berkarakter? Katanya kader berakhlakul karimah? Lah
yang begitu tadi letak karimahnya dimana, Kak? Dimana??? Tolong tunjukkan ke
adek …
Apalagi ini bulan suci Ramadhan. Ente-ente semua yang Islam pada kagak
pernah ngaji kali, ya? Ngerti nggak
kalau bulan puasa itu menahan hawa nafsu? Kagak
boleh makan, minum, lebih dari itu semua ente
kagak boleh marah-marah. Heran saya
sama kakak-kakak ini. Dibilang ngerti itu nggak ngerti, dibilang nggak ngerti
tapi sudah pada tua semua. Kalau hal-hal semacam ini saja Kakak nggak ngerti
gimana mau ngajarin adek ilmu agama, Kak? Gimana mau jadi imam yang baik buat adek? Mau dibawa kemana roda rumah tangga kita
nanti? Ke emperan neraka?
Jangan salahkan saya kalau saya mojokin mereka, para kader abal-abal, karena memang mereka sendiri yang
menunjukkannya didepan saya, di depan kami semua. Kok ya gampang banget gitu
loh misuh-misuhin orang. Kok ya
gampang banget marah-marah. Astaghfirullah, akhi … Dan bawa-bawa clurit segala.
Duh, yang ini kok ya kepikiran gitu buat bawa clurit. Kamu habis ngeramban dimana sih, Kak? Saya nggak
ngerti siapa yang mengeluarkan clurit di depan ketua MPM tadi, yang jelas hal
itu menjelaskan sekali ada drama di antara kita. Sudahlah, kalau memang
permasalahan yang terjadi itu bisa diselesaikan dengan otak, kenapa harus pakai
otot? Kalau bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus marah-marah? Kalau
bisa diselesaikan dengan damai, kenapa harus ditilang? #halah
Saya nggak peduli kalian datang dengan bendera
masing-masing, monggo, silahkan. Tapi
mbok ya tolong, kalau sudah memasuki kawasan “Musyawarah Mahasiswa” benderanya
ditinggal dulu. Ini kita berbicara kepentingan mahasiswa, bukan kepentingan
kelompok/organisasi. Kalau mau gelut ya silahkan gelut diluar, jangan gelut di
forum seperti itu. Nggak habis pikir saya. Saya nggak peduli juga sama yang
merah, biru, kuning, hijau atau hitam sekalipun. Yang saya tahu kita semua
ini adalah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, sudah itu saja.
Lagian kakak-kakak tadi ngapain sih begitu? Biar kelihatan
sangar? Kelihatan keren? Kelihata jago? Cuih. Kelakuan model begitu juga nggak
akan menarik perhatian kami para ciwi-ciwi
innocent nan lemah lembut ini. Justru kami engap melihatnya.
Sudahlah, jangan suka nunjukin kekuatan seperti itu hanya demi mbribik gebetan kalian. Saya jamin, gebetan kalian juga bakal nge-blacklist kalian dari daftar incaran
mereka kalau cara kalian tebar pesona norak begitu. Kalau mau keren di mata
kami para ciwi-ciwi, jadilah pribadi
yang bijaksana, pribadi yang tetap tenang namun tegas, pribadi yang nggak gampang emosi, pribadi yang nggak gampang tebar pesona, pribadi yang
berkharisma, atau mungkin kalau perlu jadi pribadi yang cuek kaya mas-mas
perpus sekalian biar para ciwi
jadi penasaran sama kalian, wahai para ikhwan yang budiman.
Nah, sayangnya diantara kakak-kakak sekalian nggak
ada yang seperti itu …
Hari ini Musyawarah Mahasiswa mengalami deadlock. Para petinggi MPM sedang
mediasi dengan pihak rektorat. Saya hanya berdoa semoga besok tidak menemukan
lagi drama penuh kepentingan yang membuang-buang waktu itu. Yang tadinya kawan
jadi lawan.
Eh, tapi sebentar, sebenarnya ini drama atau
realita?


Ini kenapa versimu beda suasana sama versi pak ketua .. 😂
BalasHapusMahasiswa baper kalo nulis gini ni gebetan dibawa2 .anjaaay adek ngakak kak ... 😂😂😂😂😂
Versi ketua piye emang ndo???
HapusYa gitu deh, Dik. Semua-mua dibaperin hahahaha
Ini kenapa versimu beda suasana sama versi pak ketua .. 😂
BalasHapusMahasiswa baper kalo nulis gini ni gebetan dibawa2 .anjaaay adek ngakak kak ... 😂😂😂😂😂
Lhooo... Aksi teatrikal yang menyindir adegan di Senayan mungkin atau meniru? muehehe...
BalasHapusLho, aksi yang di senayan itu kan dulunya juga terjadi di bangku kuliah Mas, hahahaha
Hapus