Rabu, 07 September 2016

Balada Semester Tujuh

Selamat datang semester tujuh.

Fase dimana kegiatan perkuliahan jadi semakin ekstrim dan menantang. Fase dimana kegiatan perkuliahan jadi semakin horor ala dunia lain. Fase dimana kuliah rasanya jadi beraaaaat sekali.
Oh my! Akhirnya saya sampai pada titik ini. Yes, I did. Rasanya baru kemarin masuk ke kampus merah putih dengan atribut opspek yang nasionalis itu. Rasanya baru kemarin saya mendengar cerita tentang Tarakan dari Feni. Rasanya baru kemarin saya mengantar dia pulang. Rasanya baru kemarin … ah sudahlah.

Ya, waktu terus berjalan bagaimanapun keadaannya. Waktu tidak akan menunggu saya siap untuk sampai ke semester tujuh ini. Waktu tidak akan berjalan lambat semau apapun saya. Semua berjalan pada porosnya.

Hari ini saya bertemu Mbak Ken Rahajeng di kampus. Senior saya yang Desember depan sudah mengenakan toga. Senior saya yang Desember depan akan Wis-Sudah. Huwaa, bahkan atmosfer bahagianya nyetrum ke saya. Sebenarnya nggak sengaja ketemu di depan perpustakaan. Saya yang sore tadi duduk di depan perpus kampus sedang menunggu kejelasan akan di jemput siapa -maklum lah ya, single fighter, kemane-mane sendirian- dan Mbak Ken berdiri di depan pintu perpus yang juga sedang menunggu.

Akhirnya setelah adegan-adegan yang terskip, terlibatlah kami dalam perbincangan hangat nan seru. Saya menanyakan banyak hal pada Mbak Ken. Tentang skripsi, matriks skripsi, dosen pembimbing, bimbingan, sidang, dan sebagainya.

Mbak Ken, walaupun baru kali ini kami chit-chat, tapi saya langsung merasa nyaman. Dia adalah pribadi yang menyenangkan, friendly, welcome (bukan keset), dan seru.

Dari cerita Mbak Ken, saya bisa mendapat gambaran bagaimana rasanya menempuh tugas akhir yang banyak menguras tenaga, pikiran serta perasaan itu. Tugas akhir yang tidak mungkin tidak dipisuhi oleh para mahasiswa tingkat akhir.

Mbak Ken sempat bercerita bagaimana beratnya masa-masa bimbingan dulu. Waktu itu bertepatan dengan bulan puasa. Dosen pembimbing yang moody-an hanya menerima bimbingan setelah tarawih. Dan Mbak Ken yang rumahnya nun jauh di Singojuruh sana, eh, Singojuruh apa Songgon ya, harus rela datang ke Banyuwangi malam-malam begitu. Duh, Mbak, calon istri idaman kamu mah, setrong.
Mbk Ken juga bercerita tentang bagaimana repotnya bimbingan dengan dosen yang moodnya suka berubah-ubah. Sudah mood suka berubah, pelupa, inkonsistensi pula. Apa nggak lengkap penderitaannya? Dari situ lah ketahanan seorang mahasiswa di uji.

“Pokok e kudu sabar, ojo mbantah, enggeh-enggeh ae. Koncoku keseringen mbantah malah susah dewe.”

Dari situ lah (lagi) terbukti bahwa dosen tak pernah salah. Kemudian Mbak Ken bercerita tentang bagaimana suasana sidang yang telah dia alami.
“Tegang. Padahal yo dosene iku-iku ae. Ditakoni ‘apa masalahmu?’ pokok sekali awakmu njawab, pasti di uber terus wes.”

Gaes, jangan kalian tanya bagaimana ekspresi saya ketika Mbak Ken cerita bagian itu. Kaki ini sudah mencak-mencak, tas saya peluk erat-erat, badan maju mundur nggak karuan. Mbak, kalau saya disodorin pertanyaan macam “Apa masalahmu?”, saya bakal jawab “It’s complicated, Pak, Bu. There is something that I can’t explain. It’s too too toooooo complicated.” ____ Halah!

“Opo maneh lek pas wayae pengumuman ngono, duh iku nangis-nangis wes. Aku malah di apusi nggak lulus ambek dosen-dosen iku.” Nah, bagian ini saya ngembung. Hamboh lah, padahal yang cerita nggak apa-apa, saya malah yang nangis :D
“Perasaan buru wingi melebu kuliah, sakiki wes meh lulus ae.” Tuh kan, saya juga, Mbak. Perasaan baru kemarin, ya …

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa suatu saat nanti akan berada dalam fase ini. And see, by God willing I’m here. Mbak Ken juga blak-blakan bercerita bahwa dia sempat sambat “Opo’o aku biyen kuliah yo?” hanya karena dihadapkan pada skripsi. Masih mending, Mbak. Lha di kelas saya sudah banyak yang sambat minta dinikahin aja padahal baru ngadepin semester lima. Bayangkan kalau ngadepin skripsi? Minta apa coba?

Semua itu ada masanya. Semua sudah tertata rapi. Ini bukan pertama kali saya berbincang dengan senior yang sedang dalam masa menjadi zombie. Lain hari, Mbak Ames pernah memberikan nasihat-nasihat tentang skripsi. Hari ini saya bertemu Mbak Ken, yang saya yakin telah di atur oleh Tuhan, untuk memberikan wejangan-wejangan kepada saya. Dua perempuan ini memberikan dua atmosfer yang berbeda kepada saya. Jika Mbak Ames lebih menekankan kehati-hatian dalam memilih judul, dan membuat saya, lawan bicaranya ini menjadi ketar-ketir, lain lagi Mbak Ken.

Atmosfer yang diberikan Mbak Ken lebih ke arah menentramkan. Intinya membuat saya jadi tidak terlalu tegang menghadapi skripsi. Susah memang iya, tapi semua itu pasti bisa dilewati. Meskipun STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo), I don’t even care, yang jelas semenjak semester enam saya menjadi lebih bersemangat kuliah. I don’t know why. Padahal gambaran untuk skripsi pun belum jelas. Saya belum dapat petunjuk, yailah petunjuk :D, untuk mengangkat permasalahan apa.

Begitulah, gaes. Semester tua gini curhatannya sudah beda. Kayak ada sepet-sepetnya gitu, hahahaha. Thank you, Mbak Ken, for chit-chat today :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar