Jumat, 29 Juli 2016

BIBEH: Makhluk Tuhan Paling Selow

Khusus postingan ini saya akan bercerita tentang teman yang balum lama ini kami saling mengenal.

Namanya Durrotun Nasihah. Panggilan “Bibeh”. Tolong jangan ada yang bertanya kenapa panggilannya bisa Bibeh. Karena saya pun tidak tahu. Saya kenal Bibeh di awal-awal perkuliahan. Saya ingat sekali, waktu itu saya sedang ngapelin (bukan ngepel loh, ya) masjid kampus, lantas bertemu Mila (yang waktu itu juga baru kenal, karena kami satu kelas saat opspek) bersama seorang temannya. Saya dikenalkan oleh Mila pada temannya itu. Saya pun ingat sekali, saat berkenalan dia dengan riang gembiranya menjabat tangan saya kemudian menyebut namanya, “Bibeh”.

Saya sempat menoleh ke Mila sepersekian detik, memastikan bahwa makhluk di depan saya ini sedang tidak bercanda. Isyarat saya yang mengatakan pada Mila “Namanya beneran Bibeh?”, dibalas anggukan kepala oleh Mila. Saya sempat hank beberapa detik. Ya sudah lah ya, apalah arti sebuah nama.

Sejak itu saya, Bibeh dan Mila berteman dengan baik. Saya mulai terbiasa dengan pemandangan dimana ada Mila, disitu ada Bang … eh, Bibeh wkwkwk. Begitu pun sebaliknya. Saya akhirnya juga tahu bahwa mereka berdua menjadi anggota dari sebuah organisasi yang sama.

Hingga sejak munculnya organisasi keagamaan di kampus yang sementara ini kami sebut LDK, semakin dekatlah kami bertiga. Saya, Bibeh, Mila. Memang pada dasarnya mereka berdua sudah lebih dulu terjun dalam menekuni ilmu agama, maka semakin semangatlah saya berada di tengah-tengah mereka. Ya mereka berdua itu lah pengingat saya, tempat saya bertanya ini-itu.

Dari LDK kemudian saya dan Bibeh masuk dalam organisasi intra kampus yang sama. Kali ini tempat kami mengabdi lebih menantang. Saya dan Bibeh, bagaimana caranya, mau tidak mau, harus saling nguatin satu sama lain. Karena tidak selamanya di dalam organisasi itu kita akan satu visi dengan anggota lainnya. Nanti, pada saatnya pasti akan ada hal semacam itu.

Kembali ke Bibeh. Dua bulan terakhir ini saya nyemplung ke lingkungan dimana Bibeh juga ada di dalamnya. Sebuah project penelitian sedang digarap oleh PCNU Banyuwangi. Mau tidak mau saya semakin terbiasa dengan orang-orang yang ada di sana. Dan, mau tidak mau juga, saya sering terseret secara sengaja maupun tidak sengaja ke dalam kegiatan-kegiatan yang sedang mereka selenggarakan. Bicara PCNU, sudah pasti jodohnya adalah IPNU dan IPPNU, jelas. Memang kamu, yang jodohnya belum jelas. Nah, Mila dan Bibeh itu adalah anggota dari IPPNU Banyuwangi. Ada beberapa kegiatan yang saya turut terlibat, secara sengaja maupun tidak sengaja. Beruntung Bibeh ini adalah anggota yang aktif, selain baik budinya, tentunya. Jadi, saya nggak nganggur-nganggur banget di tempat acara.

Seperti acara kemarin. Seminar Keterpelajaran yang di adakan oleh IPNU dan IPPNU. Saya datang ke Hotel Manyar (tempat seminar dilaksanakan) setelah mengikuti halal bi halal perpenas di kampus. Acara ini keren. Salah satu narasumbernya adalah Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dan yang lebih keren adalah moderatornya, Ira Rahmawati. Di saat semua orang foto bersama Bapak KPAI, saya dong, foto sama moderator hahaha.

Singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta acara selesai. Bibeh mendekati saya dan bilang kalau pulang bersama dia saja. Saya di ajak ke Solong dulu. Setelah menimbang dan seterusnya, akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

Di tempat seminar itu juga, akhirnya saya tahu bahwa Bibeh ini adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling selaw. Bagaimana tidak??? Dia kehilangan tas seminarnya yang di dalamnya berisi tasnya. Emmm … paham kan, gaes, apa yang saya maksud?

Padahal jodohnya tasnya sedang tidak jelas dimana rimbanya, tapi dia malah sudah siap sedia di atas motor untuk berangkat ke Solong. Fitria, Fida dan Mbak Halimah yang ada di pelataran parkir pun tidak habis pikir dengan kelakuan gadis satu itu. Saya berusaha menyadarkan Bibeh dari perbuatannya itu, mengajaknya masuk lagi ke dalam ruangan untuk mencari tasnya.

Tapi yang ada saya justru di giring naik ke atas motor. Melajulah kami ke Solong -___-

Saya nggak habis pikir kenapa dia bisa se-selow itu. Kalau sudah begitu dia bakal bilang, “Ya gue harus gimana, Mey? Nangis-nangis? Kan enggak. Ya udah sih, kalau memang rezeki pasti balik.” sambil tertawa.

Dan saya pun hanya bisa ber-nggumun ria. Baru dia, teman saya yang cuek cicak ketika ada barangnya yang hilang. Fitria bilang hal itu sudah biasa. Tapi bagi saya yang baru mengetahui sifat Bibeh itu, ya jelas nggak terima. Di dalam tas itu ada SIM, ATM, KTP, jodoh kan repot kalau sampai hilang?

Ya sudah, akhirnya kami berdua ke Solong tanpa tas Bibeh yang tidak jelas nasibnya. Saya masih nggumun tapi Bibeh malah marah mirip perawan lagi dilep. Dalam keadaan seperti itu justru dia yang menenangkan saya. Kan, serba kebalik pokoknya.

***

Acara yang Bibeh ikuti berlangsung hingga larut malam. Aku mengusulkan untuk menginap di tempatku saja. Jadilah akhirnya kami tidur berdua tadi malam. Ini pertama kali Bibeh menginap di tempatku.

Dan cerita tentang tas Bibeh yang hilang akhirnya berakhir bahagia. Ternyata salah satu anggota IPNU yang membawanya. Ya Alhamdulillah yang menemukan masih anggota IPNU, coba kalau orang lain?

Momen menginapnya Bibeh di Banyuwangi di manfaatkan untuk pergi ke Watu Dodol Hill. Kebetulan Bibeh belum pernah naik dan saya juga belum pernah naik semenjak tempat itu di benahi seperti saat ini. Kami berdua pergi sekitar pukul 6 lebih. Masih terlalu pagi, karena sampai di sana belum terlihat mas-mas parkir yang berjaga.

Sampai di tempat, saya dan Bibeh duduk dengan bermandikan kenangan mantan sinar mentari pagi. Lumayan, hangat-hangat panas. Setelah sarapan dengan bekal roti dan susu kotak, kami duduk diam. Hari ini saya mengenal Bibeh lebih dalam lagi. Hari ini dia banyak bercerita. Cerita tentang masa lalunya, tentang keluarganya, tentang dirinya sendiri.

Insiden tas itu ternyata memang bukan satu-satunya. Dia sudah berulang kali kehilangan harta bendanya. Kalung, ponsel. Dan itu tidak hanya sekali dua kali.

“Hakikat hidup itu kan nggak memiliki, Mey. Kalo kamu masih gitu berarti kamu belum belajar.”

Mak deg. Rasanya nyut-nyutan, gaes :D
Bibeh benar, saya masih harus belajar lagi. Belajar, belajar dan belajar.
Bibeh adalah kawan yang luar biasa. Dia ya dia. Dia akan bilang salah jika saya salah. Dia dan saya sama-sama memiliki konflik batin di dalam keluarga. Kami memiliki ke-tidak sepahaman dengan bagaimana kebiasaan yang terjadi dalam keluarga kita masing-masing.

Dan di depan makam Putri Sekardadu kami bercerita tentang cita-cita mendidik anak kelak. Dia bilang dia ingin memiliki tiga anak. Anak yang satu harus jadi hafiz, yang kedua pecinta sholawat, dan ketiga netral. Bibeh bilang terserah dah mau main politik atau apapun,. “Pokoknya gue mau anak tiga.”

Saya ngakak, sekaligus bangga. Saya yakin dia adalah madrasah yang baik dan hebat untuk anak-anaknya kelak. Tinggal bagaimana mendapat imam yang se-visi dengannya, dan imam yang super-duper sabar menghadapi dia.

Woh, terima kasih banyak ya atas pelajarannya hari ini. Pemahaman kamu tentang kehidupan. Pengalaman hidup kamu yang luar biasa. Roller coaster hidupmu benar-benar menantang. Saya bangga jadi teman kamu. Saya bangga anak-anak saya nanti bisa punya tante sehebat kamu. Jangan bosen-bosen berteman ama saya, Woh. Jangan bosen-bosen ngasih tahu saya kalau saya salah. Jangan bosen-bosen lah pokoknya.

Sekali lagi, thank you yaa …

Bibeh, yang baju kuning :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar