Saya
memahami bahwa tidak ada yang mudah dalam proses berhijrah, berpindah, atau
apapun sebutannya. Bagi seseorang yang ingin berhijrah, hanya sekedar keinginan
saja pun susahnya luar biasa. Mereka harus mengumpulkan niat dan keberanian
untuk memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tidak jarang, perubahan menuju
kebaikan itu seringkali ditertawakan oleh ‘dunia’. Maka, menghargai keputusan
setiap orang untuk berhijrah, menghargai proses seseorang untuk berubah menjadi
lebih baik, adalah sebaik-baiknya hal yang harus kita lakukan. Minimal jika tak
mampu membantu, kita tak perlu mencela.
Setelah
melihat kondisi sosial di sekeliling saya, begitu banyak teman yang hari ini
berubah menjadi luar biasa, atmosfer berhijrah yang entah itu trend atau kesadaran diri, membuat saya
memutar kembali perjalanan hidup.
Begitu
banyak Tuhan mengajarkan nilai-nilai hidup kepada saya. Entah melalui teman,
keluarga atau orang lain. Seperti yang Ibu saya pernah bilang “Alam semesta ini
adalah Universitas.” Ya, Universitas Alam Semesta, namanya. Semua orang bisa
menjadi pemberi pelajaran. Semua orang juga adalah mahasiswa.
Kita
tidak pernah tahu bagaimana keadaan akhir kita di hadapan Tuhan, bukan? Hal ini
selalu saya tekankan dalam setiap tulisan bertema ‘muhasabah’. Mengingat masa lalu
kadang membuat saya tertawa. Menertawai diri sendiri lebih tepatnya. Disadari atau
tidak, setiap orang pasti ingin hidupnya berada pada comfort zone. Zona dimana everything’s
run well. Tidak perlu pusing memikirkan sekolah, kuliah, pekerjaan, omongan
orang, masalah rumah tangga, hutang, penyakit, jodoh, materi. But, yeah, this is life. All we need is face
it. Tidak ada hidup yang tidak bermasalah. Kecuali kamu mati. Usai sudah
masalah hidup.
Hijrah
juga salah satu masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Saya teringat sebuah foto
yang mengabadikan saya dalam busana casual.
Celana jeans, polo t-shirt, dan
ditutup dengan cardigan. Seingat saya, itulah hari dimana terakhir kali saya
mengenakan jeans.
Bukan
tanpa alasan saya tidak pernah lagi mengenakan jeans, atau lebih tepatnya
menanggalkan. Namanya hidup, proses didalamnya lah yang akhirnya membawa kita
pada sebuah pemahaman. Saya ingin berubah. Saya bukan lagi perempuan kemarin
sore yang baru lulus SMA. Saya niatkan semuanya semata untuk Tuhan saya. Saya tidak
berubah untuk seseorang, saya juga tidak ingin berubah demi pujian seseorang. Nanti,
pada saatnya, semua perempuan pasti akan memilih jalan ‘menjadi baik’ untuk
masa depannya. Nanti, pada saatnya, semua perempuan pasti akan memilih ‘kembali’
kepada Tuhan mereka.
Saya
sadar, ilmu pengetahuan saya jauh dari kata cukup untuk bekal mendidik anak
kelak. Saya sadar, apa yang ada dalam diri saya tidak ada apa-apanya untuk
menahkodai sebuah kapal yang bernama ‘rumah tangga’. Maka dari itu, saya harus
memperbaiki diri.
Namanya
memperbaiki diri, tidak ada yang mudah dan instan. Namanya memperbaiki diri,
akan selalu berbanding lurus dengan orang-orang yang berkata ‘kamu tidak rusak,
tidak perlu memperbaiki apapun’. Melalui mereka, Tuhan ingin melihat seberapa
serius kita ingin memperbaiki diri.
Saya
bukan perempuan yang dibesarkan oleh keluarga religius. Saya dibesarkan oleh keluarga
yang menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang baik. Tetap saja, untuk
apa baik pada hubungan horizontal namun hubungan vertikal kita buruk?
Seiring
bertambahnya usia, saya akhirnya memahami bahwa menjadi baik itu tidak hanya
bagaimana kita bersikap terhadap sekitar kita, menjadi baik itu juga salah satu
kontribusi dari ketenangan hati. Ketenangan hati hanya akan kita dapatkan jika
kita mendekat padaNya. Mensyukuri apapun yang Dia berikan.
Kembali
kepada Jeans. Awal kuliah hingga pertengahan Mei 2015, saya masih mengenakan
jeans saat kuliah, meskipun tidak sering. Perlahan saya mulai menggeser celana
jeans saya dengan celan kain. Saya sebenarnya tidak begitu mengerti kenapa
melakukannya. Just so so.
Lalu
ketika saya bertemu dengan mereka yang membuat saya nyaman dan memberi pengaruh
baik, saya ambil kesempatan yang Tuhan berikan itu. Perlahan saya membiasakan
diri dengan rok, jilbab lebar, gamis dan semacamnya.
Aneh,
iya. Saya tipe perempuan yang kalian tahu sendiri lah bagaimana. Rame, berisik.
Tapi sudah dijelaskan di awal, namanya memeperbaiki diri itu tidak semudah
mengambil nafas. Kadar iman seseorang itu naik turun. Sejalan dengan menjaga
busana, saya juga berusaha menjaga ‘wajib lapor’ saya tepat waktu. Meski sungguh
luar biasa godaannya.
Sebenarnya
meninggalkan celana jeans dan menggantinya dengan celana kain memiliki bebarapa
keuntungan. Keuntungan pertama adalah saya tidak perlu lagi berpeluh-peluh
mencucinya. Tahu sendiri bagaimana celana jeans kalau sudah kena air. Benar-benar
tidak sebanding dengan tubuh imut saya ini. Ya kecuali kalau saya pakai mesin
cuci.
Berdasarkan
pengalaman, memakai celana jeans itu juga ribet. Pernah suatu hari saat saya
sedang trip bersama teman-teman,
ketika istirahat untuk sholat, saya kesulitan membasuh bagian kaki. Ya tahu
sendiri bagaimana sifat celana jeans. Ketat. Beda dengan celana kain yang lebih
mudah penanganannya. Tapi kembali lagi pada masing-masing individu. Ini hanya
menurut pendapat saya.
Kain
celana jeans itu juga tebal. Saya akan mengalami kesulitan ketika si celana
mengalami beberapa masalah seperti terlalu longgar atau ada bagian yang robek. Tidak
cukup hanya dijahit dengan tangan, saya harus ke vermak lepis.
Sekali
lagi, itu hanyalah sudut pandang saya. Tak perlu memberikan umpatan kepada saya
dengan ‘ah, aleman.’ Pilihan hidup
orang berbeda-beda. Mari biasakan diri untuk menghargai setiap perbedaan.
Sekedar
tips untuk teman-teman yang juga berada dalam masa transisi memperbaiki diri. Dalam
segi berpakaian, hibahkan pakaian-pakaian kita yang dirasa tak perlu dipakai
lagi, kepada orang yang membutuhkan. Mulailah mengumpulkan pakaian tertutup nan
longgar. Juga kumpulkan jilbab yang tidak tembus pandang. Atau jika memang
belum mampu membelinya (karena kita tahu untuk menjadi lebih baik modalnya
nggak sedikit ^_^) pakailah jilbab double
agar tidak transparan. Bisa juga menggunakan jilbab bermotif. Lalu biasakan
diri untuk melungsurkan jilbab hingga menutup dada. Memang susah, saya pun
kadang masih memakai jilbab sekenanya. Namun bukan berarti kita tidak bisa. Tidak
perlu mencibir saudara kita yang sudah berusaha menutup aurat. Berikan saja
kepada mereka contoh. Contoh melalui diri kita sendiri.
Hingga
hari ini saya masih belajar. Belajar untuk membiasakan diri dengan hal-hal
baik. Belajar menahan diri dari sifat-sifat buruk saya. Keras kepala, suka
marah tanpa sebab, dan sifat-sifat buruk lainnya (include suara cempreng kali ya, hahaha).
Untuk
urusan ibadah, saya hanya berpikir bahwa ini adalah ibadah terakhir saya. Tidak
ada yang pernah tahu apakah besok saya masih hidup atau tidak.
![]() |
| 18 Mei 2015 |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar