Sabtu, 29 Oktober 2016

Aku Lala Padamu, Mbah

Setelah adegan yang berurai tangis tadi selesai, Mas Sunan memberikan pengumuman bahwa dirinya akan mengantar Mbah menuju rumah salah satu budayawan yang ada di Banyuwangi. Mas Sunan mengajak Bibeh, Bibeh mengajak saya, dan hal itu telah di sepakati oleh anggota BEM-U yang lain.

Jadilah malam itu saya, Bibeh dan Mas Sunan pergi ke Hotel Blambangan. Tempat Mbah dan crew menginap. Dari sana tampak beberapa crew sedang leyeh-leyeh di pinggir kolam renang. Saya dan Bibeh memilih menyudut di depan salah satu kamar, dengan maksud pedekate ke colokan. Bibeh butuh mengisi batre ponsel, tentu, agar nantinya bisa untuk cekre-cekrek mengabadikan momen bersama Mbah.

Selang beberapa menit kemudian, Mbah dan tante (istrinya Mbah) keluar dari kamar. Mas Sunan memberi tanda untuk menghampiri simbah. Saya yang masih shock dengan kejadian di aula tadi, buru-buru berdiri dan membenarkan pakaian serta jilbab yang sebenarnya nggak apa-apa. Saya dan Bibeh akhirnya menemui simbah dan istrinya. “Ini istri saya.” Kata Mbah. Saya salim ke tante kemudian ke Mbah. Saya duduk di samping beliau. Bukan main salah tingkahnya saya dan Bibeh.

Bibeh membuka obrolan, “Beda kan ya mbah, aslinya sama yang di panggung tadi.” Saya paham maksud Bibeh, dan sepertinya simbah juga paham maksud Bibeh. Mbah menjawab, “Iya, lah.” Tetap dengan gayanya yang cool dan angker. *eh

Mbah menanyakan perihal kondisi budayawan yang akan kita kunjungi malam ini, dan lagi-lagi saya harus mengecewakan beliau dengan jawaban, “Wah, kurang tahu, Mbah.” Duh Mey, kamu ini tahunya apa? Apa-apa kok nggak tahu. Salah juga tadi nggak briefing dulu sama Mas Sunan, ya minimal tahu lah siapa nama budayawan itu. -____-

Sebelum ke rumah budayawan, Mbah dan crew ingin kulineran dulu. Langsung saja seperti yang saya rekomendasikan ke Mbak Popy tadi di aula, kita makan sego tempong. Beruntung simbah bukan orang yang rewel soal makanan. Akhirnya, saya dan semuanya berangkat ke Mbok Wah.

Jangan ditanya perjalanan kami akan lancar-lancar saja. Dua perempuan pemandu jalan ini sama ngeheknya. Kami nggak hapal gang Mbok Wah. Jadilah kami semua muterin perkampungan yang jebulnya di sebelah terminal sasak perot. Aduh, ampun. Beruntung orang-orang yang ada di mobil semuanya humoris. Mereka (Bang Koko, Pak Joe, dan Ibu-Ibu yang saya nggak tahu namanya) adalah tim dari Platinum. Mereka sih santai saja karena gps mereka salah jalan, yang saya kuwatirin mobil di belakang kami (isinya simbah dan pihak Bentang Pustaka). Setelah insiden tersesat itu, sampailah kami di tempat yang disambut dengan cengiran Mas Sunan. “Kemana tadi, Mey?” | “Nyasar, Mas. Maklum malem.” Saya ngeles.

Masuk ke warung, seperti yang sudah saya duga, tidak banyak orang yang mengenali Mbah. Dengan santainya Mbah menuju ke etalase yang penuh dengan ikan, dan memesan ke ibu-ibu yang sedang melayani. Benar-benar pemandangan yang lucu, menurut saya. Mbah nggelandot ke etalase sambil nunjuk-nunjuk menu yang beliau inginkan. Saya, Bibeh dan Mas Sunan sempat duduk di samping beliau untuk sekedar mengambil dokumentasi. Lalu ketika tante datang dengan sepiring nasi, beliau duduk di depan simbah. Saya dan Bibeh buru-buru berdiri dan menyilahkan tante untuk duduk di sebelah suaminya. Tapi tante dengan santainya bilang, “Udah, nggak apa-apa, duduk aja.” Bibeh mengambil kesempatan itu dengan melontarkan guyonan, “Aah, pasti biar bisa pandang-pandangan ya, Mbah?” tante tertawa, Mbah pun tertawa dan berkata “Kurang ajar.” Hahahaha, ekspresi ketika mbah berkata kalimat tersebut tidak akan pernah saya lupakan. Segala kebekuan yang sedari tadi menyelimuti saya, cair seketika.



Sebelum tante datang.
Akhirnya, Mbah beserta crew menikmati makan malam ronde pertama mereka. Saya dan Bibeh mojok berdua di dekat mbak kasir. Kami hanya menikmati sesisir pisang dan segelas es teh. Iya, romantis, kan? Pisang satu berdua, es teh segelas berdua.

Selesai makan, mbah ingin bakso. Ini makan malam ronde kedua. Saya merekomendasikan bakso Pak Untung perliman. Sayangnya, Pak Untung tutup. Akhirnya kami lurus dan belok kanan. Berhenti di warung bakso Pak Saleh, pertigaan Naga Bulan. Barulah di warung ini saya dan Bibeh ikut makan. Para laki-laki kecuali simbah, nggak ikut makan. Saya makan di meja yang terpisah dari Mbah dan para ciwi-ciwi (tante, Mbak Popy, Mbak Ulil, Mbak Fitri, Bibeh). Gile, udah saya ini jomblo, makan sendirian pula. Beruntung saya di samperin Mas-mas dari Platinum, yang sampai detik itu saya nggak tahu siapa namanya.

Kesian bener, makan sendirian :(
Bapak yang di belakang? Ngapain? :D
Beliau sempat bingung dengan mi loksor yang ada di mangkuk saya. “Kok warnanya ijo?” katanya. “Kok ijo sih, Mas? Bukannya biru?” nggak penting banget, kan, yang kami debatkan? Akhirnya kami kenalan. Barulah saya tahu namanya adalah Rico. Mas Rico sempat bercerita tentang pengalamannya yang kehilangan hape di Banyuwangi. Buset, baru sehari di Banyuwangi, HP udah ilang aja, pikir saya. Beliau juga tanya tentang pantai di Banyuwangi. Saya sebutkan pantai-pantai yang terlintas di pikiran saya, juga saya tunjukkan wallpaper ponsel Bibeh, Teluk Ijo. “Ah, yang begitu mah banyak di Jogja, Mey.” Iya juga, sih. Di Jogja yang begitu sudah biasa. Lalu, mulailah Mas Rico –bak para marketing- promosi Jogja. “Tiap sudut Jogja itu romantis.” Saya mengiyakan, tidak membantah. “Memang, Mas, tiap sudut jogja itu ngangenin. Aku ke Jogja cuma tiga hari, ya ampun, nggak kerasa.”

“Duh, tiga hari tuh nggak ada apa-apanya. Ke Jogja tuh seminggu. Tiga hari paling cuma ke Keraton, Prambanan, bla bla bla ...”

Memang, Mas, memang. Hiks.

Ngobrol ngalor ngidul, nggak kerasa Mbah dan lainnya sudah selesai makan. Kami menuju ke studio tiga, rumah budayawan yang dimaksud Mas Sunan. Turun dari mobil, Mbah sempat bertanya ke saya “Kamu ada keturunan arabnya, ya?”

Lailahailallah. Segitu kentaranya, kah, Mbah? Padahal ini wajah sudah kucel banget. “Bapak, Mbah.” Mbah tanya lagi “Mmm, Bapak. Ibu apa? Jawa?” saya mengiyakan. Lalu beliau tanya lagi, “Apa arabnya?” saya paham maksudnya, pasti beliau bertanya apa marga saya. “Nganu, Mbah, saya sudah nggak pakai marga-marga gitu. Kalo orang lain kan Arabnya nggenah, ya, nah kalau saya sudah nggak nggenah.” Mbah tertawa, saya juga, nggak mau kalah. Duh, esemannya semendal ring ati, gaes.
 
Setelah selesai interogasi, Mbah dan beberapa orang masuk ke rumah. Beberapa dari kami tidak ikut masuk ke dalam rumah (termasuk saya dan Bibeh). Kami lebih memilih rebahan di pondok kecil yang ada di depan rumah. Ada saya, Bibeh, Bang Koko, Mas Rico, Mbak Ulil, Mbak Fitri dan Tante yang dari Platinum tadi. Sekitar 30 menit akhirnya mereka keluar.

Mbah sudah masuk ke dalam mobil ketika Mas Sunan pamitan ke Mbah. Mas Sunan tidak ikut mengantar Mbah ke hotel, karena Mas Sunan masih ingin berdiskusi dengan budayawan itu. Dan, satu lagi sisi lain dari Mbah yang saya lihat. Beliau turun dari mobil dan menyalami Mas Sunan. Ya Allah, benar-benar pemandangan yang so touching. Terlebih bagi saya. Bisa saja kan, Mbah tidak perlu turun dari mobil, lha wong cuma salaman kok, lewat jendela mobil juga bisa. Tapi Mbah tidak begitu. Beliau turun dari mobil. Jempolku padamu, Mbah.

Kami pulang ke hotel. Semua pasti kelelahan. Saya dan Bibeh masih bertahan, kami ingin foto bareng. Mbah memberi kode untuk menunggu. Mas Rico nyahut “Nah, tunggu. Berarti kalian nggak boleh pulang.”

Mbah dan crew melakukan evaluasi di bangku sebelah kolam renang. Saya dan Bibeh hanya duduk sambil sesekali nguping pembicaraan mereka. Tidak sampai lima belas menit, evaluasi mereka selesai. Saya dan Bibeh yang tadinya sudah berdiri karena ingin ke toilet, akhirnya duduk kembali. Mbah bermaksud mengantar kami ke depan, tapi saya menyampaikan niat untuk foto bersama dulu. Suasana jadi menyenangkan, saya memilih spot untuk berfoto. Background penari gandrung menjadi pilihan. Saat berjalan ke tempat foto, Pak Joe nyeletuk, “Udah, ya. Jangan nangis lagi.” Saya hanya bisa tertawa sambil ngangguk-ngangguk.

Selesai foto bersama, saya menyalami tiga perempuan yang baik hati (Mbak Popy, Mbak Ulil, Mbak Fitri). Mereka benar-benar luar biasa. Yang saya sesalkan adalah tidak sempat ambil dokumentasi dengan Mbak-Mbak tersebut.

Selesai sudah kegiatan kami bersama Mbah. Dan, seperti yang beliau katakan tadi, Mbah mengantar saya dan Bibeh ke tempat parkir. Ada Bang Koko dan Mas Rico juga. Gaes, ada satu momen yang membuat saya benar-benar merasa tersentuh. Ketika kami pamitan ke Mbah, “Mbah, pulang dulu ya. Terimakasih.” Bibeh salim, dan Mbah mengusap kepala Bibeh. Saya terkesiap dan refleks berujar “Barakallah.”

“Iya, hati-hati, ya.” Kata Mbah.

Pun sama ketika saya salim, Mbah mengusap kepala saya. Tidak sekedar mengusap, tapi seperti dipijit. Saya pingin nangis. Tapi sudah terlalu lelah, air mata tertahan di pelupuk mata. Kami pamitan ke Mas Rico. Pesan darinya adalah “Hati-hati, ya. Semangat skripsinya.”

Huwaaaa, berpisah dengan orang-orang yang baik hatinya. Sepanjang jalan pulang saya dan Bibeh nggak habis-habisnya bernarasi tentang kejadian malam ini. Sujiwo Tedjo, seniman nyentrik yang biasanya hanya saya lihatin dari twitter, akhirnya bisa bertemu secara nyata. Makan bareng, jalan bareng, foto bareng, dan guyon bareng. Benar-benar Tuhan Maha Asik. Aku lala padamu, Mbah. Mohon maaf apabila selama acara berlangsung banyak kekurangan. Karena sejatinya tak ada yang sempurna di dunia ini, Mbah. Ah, wis lah. Maturnuwun, Mbah.

Sampai jumpa lagi, Mbah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar