Sabtu, 29 Oktober 2016

Drama #SeratTripama

“Padahal segunung apapun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada paham mengapa aku mencintaimu.”
“Cinta tak perlu pengorbanan. Pada saat kau merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai pudar.”
“Sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang  dikenang, kekasih.”
Para Jancukers sekalian pasti telah akrab dengan pemilik kalimat-kalimat romantis itu. Ya, beliau adalah Sujiwo Tejo. Merupakan sebuah kehormatan luar biasa beliau dapat hadir dan mengisi acara Dialog Budaya dan Musikalisasi Serat Tripama di Kampus Untag Banyuwangi.

Saya pribadi, dari awal sempat tidak percaya jika Simbah akan mengisi acara di kampus. Apalagi yang menginisiasi adalah BEM-U, bukan pihak Universitas. Namun, setelah saya membaca proposal kerjasama yang telah disepakati, saya pun masih tidak percaya. (setelah beragam kejadian yang menimpa saya akhir-akhir ini, saya jadi nggak percayaan sama orang/sesuatu -_-)

Saya benar-benar bangga kepada kawan-kawan BEM-U, terlebih lagi kepada Mas Sunan (ketua BEM-U). Berulang kali Mas Sunan menekankan kepada kami “Ayo kita cetak sejarah bersama”. Padahal jika boleh dibilang, beliaulah pelopor pencetak sejarah itu sendiri. Beliau yang dari awal melakukan komunikasi-komunikasi dengan pihak dari Simbah.

Hingga sampai pada hari-H, sampai pada saat dimana aula telah ter-set oleh atribut-atribut berbau kebudayaan, sampai pada saat dimana telah terpasang banner besar bertuliskan “Dialog Budaya dan Musikalisasi Serat Tripama” di atas pentas, sampai pada saat dimana saya bertemu dengan Mbak Popy, Mbak Ulil, dan Mbak Fitri (dari pihak Bentang Pustaka), sampai pada saat saya melakukan briefing bersama mereka, hingga sampai pada saat dimana saya melihat langsung Simbah ada di luar aula sedang berfoto bersama beberapa peserta. Dari situlah saya percaya. Ini nyata.

Selama ini, saya hanya mengamati beliau lewat dunia maya. Selama ini, saya hanya melihat “kebadungan” beliau lewat televisi. Tapi hari ini saya melihat beliau secara langsung, from toe to the top. Cara simbah duduk, cara simbah menghisap ududnya, cara simbah berjalan, hingga cara simbah manggung. Semua telah saya lihat. Dan itu semua sangat membekas di hati saya.

Selama show berlangsung, saya terlalu terpukau dengan beliau. Apalagi ketika beliau menyanyikan lagu Banyuwangi lawas yang entah tak tahu apa judulnya, namun lagu itu masih terdengar familiar di kuping saya. Bagaimana interaksi simbah dengan penonton. Bagaimana hingga akhirnya kata Jancuk terdengar di seluruh ruangan. Mengesankan!

Namun, satu kejadian akhirnya membuat suasana jadi tegang. Ketika Mbah menyanyikan lagu “Pada Suatu Ketika” tiba-tiba mic beliau macet. Mbah kemudian membanting mic-nya. Saya kaget. Dan saya yakin seluruh manusia yang ada di dalam aula itu juga sama seperti saya. Mbah badmood. Jujur, saya takut denga sorot mata beliau. Padus yang ada di sebelah Mbah tetap pada tugasnya, mereka menyelesaikan lagu hingga akhir.

Sejak kejadian itu, saya langsung lemas. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Moderator acara waktu itu juga menyampaikan permintaan maaf ke Mbah. Mbah mengambil mic yang lain dan berkata, “Saya mau nyanyi lagi, asal mic nggak mati. Dan tolong yang tidak suka kesenian bisa keluar dari ruangan ini.” Intinya, Mbah menekankan bahwa seni adalah sesuatu yang harus di hargai.

Saya diam. Dan ketika Mbah mulai menyanyi lagi, saya nangis. Awalnya biasa, tapi lama-lama saya sesenggukan. Nggak ngerti kenapa. Saya orangnya paling nggak bisa kalau dibentak. Memang, Mbah nggak bentak saya. Tapi kejadian Mbah banting mic itu membuat saya kaget. Benar-benar kaget. Pasti Mbah kecewa. Mbah mangkel, marah, jengkel. Dan itu yang membuat saya jadi merasa bersalah. Mbah melanjutkan nyanyiannya dengan sangat baik. Dan di setiap lirik, saya semakin menangis.

Waktu itu kondisi aula gelap. Tidak ada panitia yang tahu ketika saya menangis. Barulah akhirnya Dodi –yang waktu itu di sebelah saya- menyadari bahwa saya sedang menangis. Reaksi Dodi memancing Bintang yang ada di depan stage menghampiri saya. Bintang bilang, “Kenapa, Mbak?”

Duh, saya paling nggak bisa kalau sedang nangis gitu terus ada yang puk²-in, nangis saya pasti malah semakin jadi. Setelah Bintang, datang Bibeh. Makin jadilah sesenggukan saya. Saya tetap di tempat saya sampai Mbah menyelesaikan lagunya. Bintang dan Bibeh menghibur saya. Bintang bilang “Sudah, Mbak. Ini bukan salahnya Mbak Mey. Jangan nangis.” Saya makin nangis. Saya berusaha diam setelah menenggak air putih yang di sodorkan Bibeh. Aula masih gelap ketika saya melihat Mbah duduk ngelesot di bawah sambil menikmati tari Sri Ganyong yang dibawakan oleh UKM Tari. 

Saya berusaha sekuat hati melihat ke arah Mbah. Meskipun yang saya lihat sedang fokus ke panggung. Tapi tiap saya melihat Mbah, saya jadi nangis lagi. Aura di dalam aula benar-benar membuat saya tidak nyaman. Gimana, ya? Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana suasana hati saya saat itu. Mereka yang mengenal saya dengan baik pasti nggak akan kaget melihat saya nangis. Saya yang kebetulan nangisan dan nggak bisaan melihat sesuatu yang mengandung unsur kekerasan, harus rela melihat kejadian tersebut. Andai saya tidak melihat langsung kejadiannya, saya juga pasti tidak akan menangis. Ya sduah lah, saya memang tipe-tipe dramaqueen.
 
Setelah Sri Ganyong selesai, aula berubah jadi terang. Semua lampu dihidupkan. Dari situ lah akhirnya wajah saya bisa ketahuan oleh teman-teman yang lain. Sembap. Merah. Akhirnya Mbak Popy melihat saya dalam kondisi yang memalukan itu. Mbak Popy memeluk saya. Nangis lagi lah saya akhirnya. Mbak Popy juga berusaha menenangkan saya. “Sudah, nggak apa-apa. Ini bukan human error kok. Kamu dan teman-temanmu sudah luar biasa.”

Dan saya baru bisa berhenti dari sesenggukan ketika saya sudah lelah. Saya melihat semua orang berkumpul di stand book signing. Semua sedang sibuk berfoto bersama Presiden Jancukers. Saya terlalu letih untuk sekedar berdiri. Akhirnya saya hanya bisa mojok di meja operator. Hingga Pak Joe duduk di sebelah saya. Beliau tersenyum melihat saya. “Udah, nggak apa-apa.” katanya. Saya sudah nggak bisa nangis lagi. “Di Malang kemarin katanya Mbah juga marah ya, Pak?” | “Wah, malah lebih parah. Mbah sampai bilang ‘tai, kalian semua’ pas di Malang itu.” saya mendelik, “Serius, Pak?” | “Iya. Mbah itu nggak suka suasana yang nggak kondusif, rame, peserta keluar masuk. Tadi saya sempat marah tuh pas di pintu masuk.” dan bla bla bla .....

Meskipun Pak Joe bilang yang di Malang itu lebih parah, saya masih belum bisa bernafas lega. Saya masih berkutat dengan perasaan-perasaan mellow saya. Susah move on dari kejadian banting mic itu. Akhirnya, sampai acara benar-benar selesai saya hanya duduk diam menyaksikan lalu lalang orang-orang. Saya sempat menghampiri tim padus dan menyampaikan rasa terimakasih sebanyak-banyaknya. Mereka melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Kondisi emosional mereka tidak berubah ketika Mbah membanting mic. Mereka tetap menyanyi hingga selesai. Bayangkan kalau saya jadi bagian dari tim padus tersebut? Bisa-bisa saya semaput di panggung.

Nah, itu lah, gaes. Sepenggal kisah hari ini. Acara ini benar-benar menguras emosi serta tenaga. Acara ini juga benar-benar mengajarkan saya bagaimana itu Event Organizer. Terimakasih, telah menjadikan saya chief of event organizer. Dan ketegangan hari ini berakhir dengan makan bersama dengan panitia yang lain. Saya baru sadar kenapa saya terlalu sensitif tadi. Ternyata saya lapar, gaes. Nasi bungkus untuk panitia saya lahap sampai benar-benar bersih. Ealah, tibak e luwe, rek.

Sebagian panitia #SeratTripama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar