Selasa, 02 Mei 2017

Mengapa Wandra ada di Brosur dan Baliho Untag Banyuwangi?

Senin sore kemarin, sekitar pukul 16.30 saya sudah nongkrong di warung Pak RT dengan memeluk karung berisi brambang a.k.a bawang merah. Waktu itu saya sedang mapag tante saya. Mapag is ‘menunggu’ in Indonesia. Yah perempuan mah gitu, bisanya cuma nunggu. Saya terus melihat arah Selatan, hingga akhirnya Avanza putih berplat P 935 X berhenti di depan TK Hang Tuah. Saya yang kecil mungil ini langsung menyeberang jalan yang waktu itu lumayan lengang, sambil tertatih-tatih karena karung berisi brambang itu lumayan berat.

Setelah memastikan bahwa yang ada di dalam mobil itu adalah sanak famili saya, saya masuk. Ya, kan, nggak lucu, gaes, kalau besoknya ada berita yang isinya ‘Seorang gadis diculik di depan gang rumahnya karena diduga membawa sesuatu yang mencurigakan dalam karung berwarna putih’. Tidak mbois sama sekali, kan?

Di dalam mobil sudah ada tante, om, Raisya dan Lintang. Sepanjang perjalanan ke Lateng saya banyak ngobrol dengan Lintang. Lintang adalah adik sepupu saya. Anak ketiga dari om dan tante saya. Saat ini dia kelas 4 sekolah dasar.

Tidak terasa mobil yang om saya kemudikan sudah melewati depan kampus Untag. Hingga tiba-tiba Lintang menanyakan sesuatu, “Mbak Dian, kenapa itu kok ada gambarnya Wandra?” saya tahu yang dia maksud pasti baliho besar yang ada di pertigaan tadi. Saya jawab, “Ya, kan, Wandra kuliah di Untag.” Dia jawab lagi, “Emang kenapa se? Wandra pinter ta?” (maksudnya, apa Wandra itu cerdas, berprestasi dalam bidang akademik, sehingga fotonya terpampang disana). Saya paham betul bahwa anak kecil itu rasa ingin tahunya sangat tinggi, apalagi seusia Lintang, dia akan terus menuntut jawaban yang memuaskan dirinya.

Saya tertawa ketika dia jawab seperti itu, tapi lantas saya jawab, “Ya nggak tahu. Kan dia artis.” Dia jawab lagi, “Emang opo’e se kalo artis?” innocent sekali. Ya Karim. Karena tidak ingin kalah, saya jawab juga akhirnya, “Itu namanya strategi marketing.” What the hek, kenapa saya jadi ngomongin strategi marketing sama bocah kelas 4 SD? Saya jawab begitu sambil tertawa, dia juga, tapi sedikit. “Ya saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Kalo Mbak Dian yang dipajang, gak ada yang daftar nanti. Hahahaha.” Alhamdulillah, dia sudah skak mat, meskipun saya bisa lihat ada ketidakpuasan di wajahnya. Setidaknya saya nggak perlu putar otak lagi untuk kasih jawaban yang membuat anak seusia dia paham.

Dalam dunia marketing hal tersebut dikenal dengan istilah ... apa, ya? Saya bukan orang ekonomi, sih. Jadi nggak paham. Hehehehe.

Dulu, semasa jabatan Bu Endang, saya pernah diberi kesempatan untuk belajar. Saya ingat betul waktu itu jika tidak salah saya masih semester dua. Di masa itulah kemampuan public speaking saya benar-benar di uji. Mengingat motivasi saya masuk Untag dulu adalah keinginan untuk belajar public speaking, karena nggak ada jurusan Ilmu Komunikasi jadilah aing masuk ke FISIP. Dari sekolah satu ke sekolah lain, saya bertemu dengan bermacam-macam karakter siswa. Tiap-tiap dari mereka memberikan kontribusi yang besar untuk saya. Bagaimana cara menangani nerveous, grogi, garing, bosan.

Selama kurang lebih sebulan saya belajar bersama Tim PMB. Saya mengamati bagaimana cara Bu Endang, Pak Miskawi dan senior-senior saya dulu berkomunikasi dengan para adik-adik SMA. It was really amazing experience. Ilmu yang Tuhan berikan secara cuma-cuma dan sangat bermanfaat.

Setiap tahunnya Tim PMB selalu melakukan promosi ke sekolah-sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang kampus kami lakukan. Karena tentu tidak akan cukup jika kita hanya duduk diam menunggu siswa mendaftar tapi tidak melakukan apa-apa. Maka, dilakukanlah hal tersebut.

Tim PMB juga berisikan mahasiswa-mahasiswa dari enam fakultas yang ada di kampus. Ada yang namanya brand storytelling dalam dunia marketing. Jadi kita menjelaskan atau lebih tepatnya bercerita, bagaimana sih Untag itu? Apa saja keuntungan kita kuliah disana? Kenapa harus Untag? Dan lain sebagainya. Waktu saya ikut promosi dulu, ada siswa yang sempat bertanya, “Mbak, FISIP itu pelajarannya gimana? Ngapain aja? Nanti kalau udah lulus kerja dimana?” saya lupa waktu itu di sekolah mana, yang jelas masih dalam naungan perpenas.

Sebagai mahasiswa FISIP, tentu itu kesempatan yang baik bagi saya untuk menjelaskan apa saja yang ada di FISIP. Saya juga menceritakan alumni-alumni FISIP yang terbilang sukses dalam karirnya. Contoh: Bunda Anggi dan Pak Sahlan. Bunda saat ini menjadi MD, MC, Announcer, yang cukup kondang. Sedangkan Pak Sahlan adalah jebolan FISIP yang berhasil menjadi anggota DPRD. Saya selalu mengandalkan dua sosok ini ketika melakukan promosi. (ya karena waktu itu yang saya tahu hanya beliau berdua).

Nah, apa yang Untag lakukan –dengan memasang wajah Wandra di baliho­– adalah sama dengan apa yang saya lakukan. Tentu kami bangga, seniman muda seperti Wandra hadir menjadi bagian dari keluarga besar Untag Banyuwangi. Sejalan dengan namanya yang semakin dikenal masyarakat Banyuwangi, Untag Banyuwangi pun akhirnya juga kecipratan hal baik. Saya ambil contoh ketika saya dan beberapa tim PMB sedang buka stand di SMK N 1 Banyuwangi. Waktu itu ada beberapa siswa yang lewat stand kami dan bergumam “Eh, kok enek fotone Wandra.” Saya yang mendengar itu langsung sok SKSD, “Kan kuliah Untag Wandranya, Mbak.” dengan memasang senyum semanis mungkin. Siswi itu hanya ber-ooooo ria sambil senyum-senyum ke teman di sebelahnya.

Ah, Mey, dulu juga banyak artis-artis Banyuwangi yang kuliah disana, tapi foto mereka nggak ada di brosur-brosur, apalagi baliho segede itu. Ada Mahesa, Adistya Mayasari, Mbok Mamik, Kiki Anggun.
Mereka memang tidak ada di brosur ataupun baliho, mereka ada disini. (nunjuk dada, eaaaa!)

Saya tidak tahu menahu masalah itu, karena waktu beberapa dari artis-artis itu kuliah, sepertinya saya masih duduk di bangku SMK. Begitulah, Lin, kenapa ada wajah Wandra dan Mbak Inanda (finalis Putri Indonesia) di brosur serta baliho. Karena jika wajah Mbak Dian yang terpampang, mereka bukannya daftar, yang ada malah ngelamar. Huwehehehe ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar