Senin sore kemarin, sekitar pukul 16.30 saya sudah
nongkrong di warung Pak RT dengan memeluk karung berisi brambang a.k.a bawang merah. Waktu itu saya sedang mapag tante saya. Mapag is ‘menunggu’ in
Indonesia. Yah perempuan mah gitu, bisanya cuma nunggu. Saya terus
melihat arah Selatan, hingga akhirnya Avanza putih berplat P 935 X berhenti di depan TK Hang Tuah. Saya yang kecil mungil
ini langsung menyeberang jalan yang waktu itu lumayan lengang, sambil
tertatih-tatih karena karung berisi brambang
itu lumayan berat.
Setelah memastikan bahwa yang ada di dalam mobil itu
adalah sanak famili saya, saya masuk. Ya, kan, nggak lucu, gaes, kalau besoknya ada berita yang isinya ‘Seorang gadis diculik
di depan gang rumahnya karena diduga membawa sesuatu yang mencurigakan dalam
karung berwarna putih’. Tidak mbois
sama sekali, kan?
Di dalam mobil sudah ada tante, om, Raisya dan Lintang.
Sepanjang perjalanan ke Lateng saya banyak ngobrol dengan Lintang. Lintang
adalah adik sepupu saya. Anak ketiga dari om dan tante saya. Saat ini dia kelas
4 sekolah dasar.
Tidak terasa mobil yang om saya kemudikan sudah melewati
depan kampus Untag. Hingga tiba-tiba Lintang menanyakan sesuatu, “Mbak Dian, kenapa itu kok ada gambarnya
Wandra?” saya tahu yang dia maksud pasti baliho besar yang ada di pertigaan
tadi. Saya jawab, “Ya, kan, Wandra kuliah
di Untag.” Dia jawab lagi, “Emang
kenapa se? Wandra pinter ta?” (maksudnya, apa Wandra itu cerdas, berprestasi
dalam bidang akademik, sehingga fotonya terpampang disana). Saya paham betul
bahwa anak kecil itu rasa ingin tahunya sangat tinggi, apalagi seusia Lintang,
dia akan terus menuntut jawaban yang memuaskan dirinya.
Saya tertawa ketika dia jawab seperti itu, tapi lantas
saya jawab, “Ya nggak tahu. Kan dia
artis.” Dia jawab lagi, “Emang opo’e
se kalo artis?” innocent sekali. Ya
Karim. Karena tidak ingin kalah, saya jawab juga akhirnya, “Itu namanya strategi marketing.” What the hek, kenapa saya jadi ngomongin strategi marketing sama
bocah kelas 4 SD? Saya jawab begitu sambil tertawa, dia juga, tapi sedikit. “Ya saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme.
Kalo Mbak Dian yang dipajang, gak ada yang daftar nanti. Hahahaha.”
Alhamdulillah, dia sudah skak mat, meskipun saya bisa lihat ada ketidakpuasan
di wajahnya. Setidaknya saya nggak perlu putar otak lagi untuk kasih jawaban
yang membuat anak seusia dia paham.
Dalam dunia marketing hal tersebut dikenal dengan istilah
... apa, ya? Saya bukan orang ekonomi, sih. Jadi nggak paham. Hehehehe.
Dulu, semasa jabatan Bu Endang, saya pernah diberi
kesempatan untuk belajar. Saya ingat betul waktu itu jika tidak salah saya
masih semester dua. Di masa itulah kemampuan public speaking saya benar-benar di uji. Mengingat motivasi saya
masuk Untag dulu adalah keinginan untuk belajar public speaking, karena nggak ada jurusan Ilmu Komunikasi jadilah aing masuk ke FISIP. Dari sekolah satu
ke sekolah lain, saya bertemu dengan bermacam-macam karakter siswa. Tiap-tiap
dari mereka memberikan kontribusi yang besar untuk saya. Bagaimana cara
menangani nerveous, grogi, garing,
bosan.
Selama kurang lebih sebulan saya belajar bersama Tim PMB.
Saya mengamati bagaimana cara Bu Endang, Pak Miskawi dan senior-senior saya
dulu berkomunikasi dengan para adik-adik SMA. It was really amazing experience. Ilmu yang Tuhan berikan secara
cuma-cuma dan sangat bermanfaat.
Setiap tahunnya Tim PMB selalu melakukan promosi ke
sekolah-sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang kampus kami
lakukan. Karena tentu tidak akan cukup jika kita hanya duduk diam menunggu
siswa mendaftar tapi tidak melakukan apa-apa. Maka, dilakukanlah hal tersebut.
Tim PMB juga berisikan mahasiswa-mahasiswa dari enam
fakultas yang ada di kampus. Ada yang namanya brand storytelling dalam dunia marketing. Jadi kita menjelaskan
atau lebih tepatnya bercerita, bagaimana sih Untag itu? Apa saja keuntungan
kita kuliah disana? Kenapa harus Untag? Dan lain sebagainya. Waktu saya ikut promosi
dulu, ada siswa yang sempat bertanya, “Mbak,
FISIP itu pelajarannya gimana? Ngapain aja? Nanti kalau udah lulus kerja
dimana?” saya lupa waktu itu di sekolah mana, yang jelas masih dalam naungan
perpenas.
Sebagai mahasiswa FISIP, tentu itu kesempatan yang baik
bagi saya untuk menjelaskan apa saja yang ada di FISIP. Saya juga menceritakan
alumni-alumni FISIP yang terbilang sukses dalam karirnya. Contoh: Bunda Anggi
dan Pak Sahlan. Bunda saat ini menjadi MD,
MC, Announcer, yang cukup kondang. Sedangkan Pak Sahlan adalah jebolan
FISIP yang berhasil menjadi anggota DPRD. Saya selalu mengandalkan dua sosok
ini ketika melakukan promosi. (ya karena waktu itu yang saya tahu hanya beliau
berdua).
Nah, apa yang Untag lakukan –dengan memasang wajah Wandra
di baliho– adalah sama dengan apa yang saya lakukan. Tentu kami bangga,
seniman muda seperti Wandra hadir menjadi bagian dari keluarga besar Untag
Banyuwangi. Sejalan dengan namanya yang semakin dikenal masyarakat Banyuwangi,
Untag Banyuwangi pun akhirnya juga kecipratan hal baik. Saya ambil contoh
ketika saya dan beberapa tim PMB sedang buka stand di SMK N 1 Banyuwangi. Waktu
itu ada beberapa siswa yang lewat stand kami dan bergumam “Eh, kok enek fotone Wandra.” Saya yang mendengar itu langsung sok
SKSD, “Kan kuliah Untag Wandranya, Mbak.”
dengan memasang senyum semanis mungkin. Siswi itu hanya ber-ooooo ria sambil
senyum-senyum ke teman di sebelahnya.
Ah,
Mey, dulu juga banyak artis-artis Banyuwangi yang kuliah disana, tapi foto
mereka nggak ada di brosur-brosur, apalagi baliho segede itu. Ada Mahesa,
Adistya Mayasari, Mbok Mamik, Kiki Anggun.
Mereka memang tidak ada di brosur ataupun baliho, mereka
ada disini. (nunjuk dada, eaaaa!)
Saya tidak tahu menahu masalah itu, karena waktu beberapa
dari artis-artis itu kuliah, sepertinya saya masih duduk di bangku SMK.
Begitulah, Lin, kenapa ada wajah Wandra dan Mbak Inanda (finalis Putri
Indonesia) di brosur serta baliho. Karena jika wajah Mbak Dian yang terpampang,
mereka bukannya daftar, yang ada malah ngelamar.
Huwehehehe ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar