Atas ridho Allah SWT, saya dan Bibeh sore ini sampai di
rumah Bangli, Wongsorejo. Ngapain kita sore-sore main ke rumah Bangli berdua
doang? Jauh pula. Ya karena kita di undang ke resepsinya Bangli, hehehe. Iya, gaes, Bangli nikah. Tadi di WA Bibeh
bilang berangkat jam setengah tiga, karena rumah Bangli jauh, biar pulangnya
nggak kemalaman. Saya iya-in. Ternyata jam 15.14 Bibeh baru kirim chat yang
isinya “Otw, di.” Karena saya sudah rapi sejak tadi, akhirnya saya bisa santai
sambil nunggu Bibeh datang.
Setelah beberapa menit, Bibeh datang. Kami segera
berangkat. Karena perjalanan kami kali ini lumayan agak jauh, selama perjalanan
kami banyak cerita. Paling banyak sih cerita tentang HTI. kami selalu seperti
ini. Tiap ketemu yang dibahas kalo nggak urusan HTI ya urusan hati. Hingga kami
mulai lelah dan akhirnya bisu selama sisa perjalanan. Ngobrol di atas motor
dengan kecepatan di atas 80km/jam itu sungguh perbuatan sia-sia belaka, bikin
haus, gaes.
Setelah entah berapa lama, akhirnya kami sampai tempat
tujuan. Berbekal ancer-ancer yang saya dapat dari Bang Rohim (kalau dari
Banyuwangi, sesudah RTH, kiri jalan), kami menemukan rumah Bangli, ya walaupun
sempat kebablas dikit. Dikit doang, nggak banyak. Kami bertemu kedua mempelai
yang cantik dan ganteng. Melakukan sesi pemotretan yang tak boleh ketinggalan,
hingga menikmati hidangan yang telah disediakan.
Biasa ya, perempuan. Saat sedang makan kami cerita
tentang masa depan. Tuh, ketularan atmosfer bahagia dari pengantin, kan jadinya
baper. Ceritanya nggak perlu saya tulis disini. Kalau mau tahu, samperin saya ke
kampus, mumpung saya belum lulus. *kasihemotngakak
Jam lima lebih kami keluar dari rumah Bangli. Kami
berhenti di salah satu masjid yang saya lupa namanya. Dulu, saya pernah masuk
ke masjid ini bersama dua sahabat saya. Bibeh sholat, saya menunggu dia di bale yang disediakan. Selesai sholat,
kami melanjutkan perjalanan. Kali ini saya yang nyetir. Bibeh duduk dibelakang,
dia ngaji. Sejak di masjid tadi dia sudah pamitan memang. “Lu yang bawa, yak? Gue ngaji dulu.”
Jadi, sepanjang jalan Wongsorejo sampai hampir watu dodol
kami sama sekali nggak bicara. Bukan karena marahan. Kalian tentu tahu, dia
ngaji, saya juga, bukan ngaji, tapi nyanyi. Hampir dekat watu dodol dia ajak
saya bicara. Itu berarti ngajinya selesai. Dia bilang untuk berhenti dulu di
Watu Dodol. Kami kepincut dengan rembulan yang bersinar di atas Selat Bali itu.
Beberapa kali Bibeh mengambil foto saya dengan background laut lepas. Berdiri di pinggir laut seperti malam ini
lumayan mengobati rindu saya akan pantai.
Setelah puas foto-foto kami lanjut pulang. Kali ini dia
yang bonceng saya. Biar cepet katanya. Padahal kecepatan saya nyetir tadi dah
luar biasa. Apa cuma perasaan saya?
Saya tersenyum ketika mengingat perkataan Bibeh yang saya
lupa dia bilangnya dimana tadi, entah drumah Bangli, entah di masjid. Gila ya
kita, cewe berdua doang, nyampe Wongsorejo. Begitu kira-kira ucapannya.
Kadang saya juga nggak habis pikir dengan kekuatan
perempuan. Mereka itu kuat lebih dari apa yang mereka bayangkan. Agak ngeri
pergi jauh begini nggak ada laki-lakinya. Ya meskipun perempuan yang pergi
dengan saya hari ini sudah biasa kemana-mana sendiri. Saya ingat salah satu
sahabat saya pernah menulis status di facebooknya,
“Semandiri apapun wanita, meski
kemana-mana sudah berani sendiri, pulang larut malam berani, melakukan
perjalanan jauh dengan percaya diri atau hal berbahaya lainnya, dalam suatu
masa akan ada perasaan ingin dilindungi. Sekuat apapun wanita, wanita ingin
menggantungkan diri pada sesuatu yang menurutnya lebih kuat bukan karena wanita
lemah atau tidak mampu, tapi lebih kepada rasa nyaman ketika dilindungi dan
diperhatikan. Segalanya bisa kami lakukan sendiri, tapi percayalah, kehadiran
kaum adam bisa menjadi kekuatan terdahsyat bagi semua kaum hawa, begitu juga
sebaliknya.”
Status gembel Inda itu bikin saya pingin mewek. Tuh anak
tumben otaknya bener. Keadaan saya dan Bibeh hari ini automatically mengingatkan saya dengan status Inda tersebut. Ya,
akan ada masanya dimana saya atau Bibeh nggak perlu lagi kemana-mana sendiri,
kondangan sendiri, pergi jauh sendiri, dolan sendiri, berjuang sendiri. Karena,
semua akan tidak sendiri pada waktunya. Begitu.
Dan kesimpulan dari semuanya adalah, selamat Bangli dan
Mega. Terimakasih karena kalian menikah, dua jomblo berkurang. Doakan dua
jomblo lainnya ini selalu kuat dan tegar menghadapi ujian pertanyaan “Kapan
nikah?”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar