Selamat malam, gaes.
Sebenarnya ada banyak tulisan yang belum terposting, namun kali ini saya buka
dokumen baru di microsoft word dan
menuliskan apa saja yang terjadi hari ini, sedari saya buka mata pukul tiga
pagi tadi hingga saya mengetik tulisan ini.
Sesaat setelah saya menghidupkan data ponsel, ada
beberapa pesan WA yang masuk. Sebagian pemberitahuan dari beberapa grup,
sebagian lagi doa yang dikirim oleh teman-teman saya. Ya, hari ini 31 Mei.
31 Mei kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Ada
atmosfer tersendiri yang saya rasakan. Seperti biasa, 31 Mei tidak melulu
tentang seorang Meydiana Isfandari yang lahir ke dunia, namun, juga tentang dua
anak adam yang mengikat janji suci berdua. Dua puluh tiga tahun yang lalu,
Bapak dan Ibu saya melaksanakan akad nikah. Tepatnya 31 Mei 1994. Berjanji sehidup
semati di depan Allah, malaikat-malaikat serta para saksi. Dan, janji itu,
alhamdulillah tak patah hingga hari ini. Saya lahir ke dunia tepat setahun
setelahnya, 31 Mei 1995, tanpa prosedur operasi.
Doa dan harapan yang orang-orang kirimkan menjadi penguat
saya. Dua puluh dua tahun sudah saya menghirup O2 sebanyak-banyaknya
tanpa bayar. Dua puluh dua tahun sudah saya menjadi manusia yang menghabiskan
berton-ton beras, menggunakan berkubik-kubik air, berpartisipasi dalam global warming, serta pundi-pundi
dosanya tak terhitung. Maha Baik Tuhan yang memberi saya kesempatan di tengah
khilaf yang terus saya lakukan.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga inti,
Bapak, Ibu, Ardi, Fahri. Karena mereka saya mampu. Karena mereka saya bisa. Karena
mereka saya bertahan. Tak terhitung kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, kebebalan
yang terus saya lontarkan, kekanak-kanakan yang tak mampu terelakkan. Namun,
mereka, keluarga saya, bagaimanapun buruknya saya, akan selalu menerima saya
apapun yang terjadi. Because family is
the best place to go home. Seperti kata Virgoun, takkan habis sejuta lagu
untuk menceritakan tulusnya kasih sayang keluarga.
Saya juga ucapkan terimakasih kepada para sahabat serta
handai tolan, yang tentu tak bisa saya sebutkan satu per satu. Terimakasih atas
kasih sayang kalian terhadap saya. Terimakasih telah berkenan menyita sedikit
waktu untuk mengirim chat kepada saya yang berisi rapalan doa-doa, menyita
sedikit waktu untuk menengok insta story
atau WA story lantas membalasnya
dengan doa-doa baik, menyita sedikit kuota untuk menuliskan caption yang so heartwarming di sosial media kalian. Terimakasih juga saya
ucapkan kepada mereka yang telah bersedia menyisihkan sedikit rezekinya untuk
saya. Apa-apa yang telah kalian berikan sangat berguna bagi saya. Terimakasih.
Dalam tulisan ini, tolong izinkan saya sedikit bercerita
tentang salah seorang sahabat. Malam ini, seperti biasa saya tadarus di mushola
sebelah rumah bersama kawan-kawan. Hingga waktu menunjukkan pukul setengah
sepuluh malam, ada seseorang yang mengendarai motornya lewat depan mushola. Sejak
saya mendengar suara motor dari arah Barat, saya sudah memandang ke arah jalan.
Seseorang itu berjenis kelamin perempuan, berjilbab, dan ber-Scoopy (maksudnya paham ya, gaes, dia naik motor Scoopy). Ketika Scoopy itu lewat tepat di depan mushola, si empunya menoleh ke arah
kami yang sedang mengaji, dan kebetulan saya juga tengah memandang perempuan
itu. Dia adalah Durrotun Nasihah a.k.a
Bibeh.
Dengan meringisnya yang khas dia menatap kami, saya
langsung meletakkan Qur’an ke dompal,
lalu berlari menemuinya. Saya khawatir ada apa larut malam begini dia masih
belum pulang. Dia sewot, kesel karena telpon dan WA-nya tidak saya gubris. Hape di rumah, Woh, nggak kubawa ngaji. Begitu
yang saya katakan. Saya tanya ke dia, ada apa? Kenapa belum pulang dan masih
mampir, ada sesuatu yang penting, kah?
Bibeh tuh
memang makhluk Tuhan yang paling buruk dalam hal basa-basi. Setelah muter kesana-kemari akhirnya dia
langsung pada tujuan. Aku bawa sesuatu
buat kamu. Ah, radar ulang tahun saya langsung menyala. Ada salam dari Lilis-Lilis (Saya menyebut
mereka Lilis bersaudara, karena ada dua anak bernama Lilis yang mondok di
tempat Bibeh ngabdi), ini mereka yang bikin. Dia bilang sambil mengangkat
bungkusan yang nggak ada artistik-artistiknya blas. Bibeh juga membawa kotak berisi tart.
Di dalam rumah, saya membuka kotak kue dan agak heran
melihat tulisan di sana. “Happy Di”. Saya sempat protes, Happy apa nih? Kok happy doang? Dia jawab dengan lugas, Ya happy segalanya atuh, nggak cuma happy
birthday, happy segalanya. Saya yakin jawaban itu sudah dia siapkan, yakin
sekali. Berbekal lilin putih segede palu gada, saya dan Bibeh melakukan ritual
yang katanya budaya kafir itu secara singkat. Harusnya nggak boleh sih, Di, ah tapi gpp lah. Saya ngakak dan
segera meniup lilin yang juga sama sekali nggak ada artistik-artistiknya itu.
Setelah Bibeh pulang, saya kembali ke mushola, karena
memang belum kebagian ngaji. Pukul sepuluh lebih baru saya dan kawan-kawan
pulang ke rumah masing-masing. Saya agak penasaran dengan bungkusan dari koran
yang tergeletak di atas meja. Segera saya buka bungkusan yang ternyata berlapis
enam itu, dan semua lapisannya dari koran. Saya ingat kata Bibeh, dia bilang ke
Lilis bersaudara, Udah koran aja, ngirit.
Kampret, ya.
Dan isinya adalah dua foto yang di cetak ukuran –insyaallah
kalau tidak salah– 5R. Benar nggak, Woh? Foto yang satu adalah saat kita
mengikuti kajian LDK di kampus, dan satunya lagi adalah foto saat kita ada di
kantor pemda. Dua foto itu di tempel dalam figura sederhana yang terbuat dari
karton, yang saya yakin sekali adalah kreasi dari Lilis bersaudara. Karena Bibeh
perempuan paling nggak omes dengan hal semacam itu. Saya balik foto itu dan
mendapati tulisan tangan Bibeh, Assalamu’alaykum.
Salam sejahtera untuk kita semua, salam kebahagiaan tiada tara ... Teruntuk
kawan seperjuanganku... semoga segala hajat dapat terkabul. Tiada hal yang
mampu ku berikan selain Doa dan caption yang bagus ini ^_^. Di, semoga kamu
selalu sehat. Uwoh. Wassalamu’alaykum. Gila, masih sempat aja ngebanyol. Saya
terharu sekali di bagian teruntuk kawan seperjuanganku ...
tapi pas baca bagian Tiada hal yang mampu ku berikan selain Doa
dan caption yang bagus ini terharu saya tiba-tiba pergi ninggalin saya,
seperti kamu, iya kamu.
Bibeh, terimakasih, ya. Maaf atas tujuh missed call dan satu WA yang ku hiraukan. Terimakasih meskipun saya tahu kamu lelah (karena pagi sekolah, siang safari ramadhan di Kalipuro, malam entah kamu dimana) tapi masih menyempatkan menemui butiran debu ini. Thanks a lot, Woh. Dan, please, sepulang dari rumah saya, kamu mandi, ya? Yang bener aja lu, Woh, masa nggak mandi dari kemarin, sih? Gitu mau cepat dapat jodoh? Gitu nyalahin dia yang pergi ninggalin kamu? Mandi sono, biar agak beneran dikit.
...
Akhirnya, selamat ulang tahun pernikahan yang ke dua
puluh tiga, Bapak Ibuku tersayang. Terimakasih atas cinta kasihnya selama ini. Semoga
kalian sehat hingga nanti, nanti dan nanti. Maafkan kami, anak-anakmu, yang
masih sering melukai perasaan kalian baik sengaja maupun tidak. Tetaplah menjadi
rumah yang nyaman bagi kami. Saya tahu, kehidupan kita tidak selalu bahagia
sejahtera sehat sentosa. Saya tahu, kalian tidak bisa selalu menjamin hidup
kita akan baik-baik saja. Tapi saya yakin, selama kita melalui liku kehidupan
bersama-sama, hal-hal buruk, hal-hal sedih, pasti mampu kita atasi.
![]() |
| I love you from the bottom of my heart. |
Terimakasih untuk orang-orang di sekeliling saya yang
selalu memberikan energi positif. Kalian semua menjadi tinta dalam berbagai
warna untuk melukis kanvas kehidupan saya. Terimakasih atas warna yang kalian
berikan. Salam hormat dan sayang, Meydiana Isfandari.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar