Selasa, 13 Juni 2017

Hikmah Batal Ikut Pra Nikah

Seperti biasa, pagi-pagi sekali saya sudah berada di Lateng. Pagi itu hujan masih mengguyur Banyuwangi. Dengan berjinjit-jinjit saya masuk ke rumah. Di dalam ada Tante, Raisya dan Lintang. Sesaat setelah saya duduk, datanglah Rara dan Om. Mereka baru pulang dari tempat dr. Purwanto, memeriksakan kaki Rara yang tengah sakit. Om memberikan surat rujukan dari dr. Purwanto kepada istrinya. Rara harus dirujuk ke rumah sakit. Karena luka yang ada di kakinya itu harus di operasi. Saya bergidik ketika mendengar kata operasi, saya lihat wajah Rara yang mulai menangis.

Setelah selesai mengantar Lintang dan Fahri sekolah, saya mengantar Rara ke RS. Yasmin. Dalam blangko rujukan tersebut kami harus menemui dr. Radhi Bakarman. Selesai mendaftarkan diri di loket pendaftaran pasien kami menunggu di depan poli bedah nomor 12 dengan papan bertuliskan dr. Radhi Bakarman, SpB, FICS di depan pintunya. Kami mendapat nomor antrian 6. Tidak akan begitu lama, pikir saya.

Oh, ya, mengapa kami ada di poli bedah? Memangnya kaki Rara sakit apa?

Saya tidak bisa menjelaskan Rara sakit apa, karena saya belum masuk ke ruang dokter dan mendengar penjelasan dari dr. Radhi. Jadi, gaes, mohon bersabar membaca tulisan ini hingga bagian saya masuk ke ruang dokter, ya?

Sekitar setengah jam kami dan beberapa pasien lainnya menunggu di depan ruangan beliau. Hingga tiba seorang suster memanggil nama Dinda Ratu, kami bertiga –Rara, Lintang, saya– segera masuk ruangan. Setelah ditanya sana-sini oleh dr. Radhi dan diperiksa, saya bertanya pada dokter berparas a la Timur Tengah itu. “Itu kira-kira kenapa, ya, Dok?”

dr. Radhi dengan segala wibawanya menuliskan sesuatu di map yang ada di depannya, kemudian meletakkan kedua tangannya di bawah dagu, lantas menatap saya. Uuuunch, perfect! Lah, malah bahas dokternya. Dokter Radhi menjelaskan beberapa sebab mengapa sampai telapak kaki Rara jadi seperti itu. “Sering jalan nggak pakai sepatu atau sendal, ya?” kata dokter. Dokter menatap Rara, saya menatap Rara, lha Rara malah ngeliatin saya penuh makna. “Iya, dok, dia ini kan ikut pencak silat. Nah katanya pas latihan itu kakinya kemasukan krikil.”

Dokter Radhi manggut-manggut paham. Beliau bilang lagi, “Kebanyakan pasien saya itu satu saja sudah kesakitan. Ini kamu hebat lho bisa sekuat ini.” Saya bingung berkspresi, harus bangga karena Rara mampu menahan sakit begitu lama, atau harus sedih karena pengobatan yang kami lakukan ini bisa dikatakan terlambat. Ku tebak, kelak Rara akan jadi perempuan yang kuat di segala keadaan. Nahan sakit di kakinya aja dia kuat, apalagi cuma sekedar nahan kangen atau nahan sesaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Apa-an, sih, Mey.

Jadi, di telapak kaki kanan Rara itu terdapat daging tumbuh yang mengeras. Apa ya namanya? Mumulen? Duh, gaes, moga kalian paham apa yang saya maksud, ya? Daging yang mengeras itu lumayan banyak sehingga dokter harus menyuntiknya beberapa kali ketika dilakukan tindakan nanti. Saya melihat wajah Rara yang sendu, mimbik-mimbik dah mau nangis, tapi gengsi. Berulang kali dokter memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, begitu pun saya. Akhirnya Rara nurut apa kata saya. Hari itu juga dia akan ditangani oleh dr. Radhi. Setelah keluar dari ruangan, saya segera ke apotek untuk menebus obat. Sekitar tiga menit saya duduk di depan mbak-mbak apoteker, akhirnya keluarlah jumlah nominal yang harus saya bayar.

Subhanallah, seriusan, gaes. Saya kaget ketika mbak apoteker bilang bahwa total biaya yang dibutuhkan sebesar satu juta lima ratus tujuh sekian-sekian. Saya sempat stupid beberapa saat di depan mbak-nya. Saya diberi uang oleh om saya satu juta rupiah. Sudah kelong untuk biaya pendaftaran seratus ribu dan biaya laboratorium seratus lima puluh ribu. Jadi sisanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.

Saya kembali menemui Rara dan Lintang di depan poli bedah, ambil ponsel dan menelpon tante. Saya jelaskan bahwa seluruh total biaya adalah sebesar yang disebutkan mbak apotekernya tadi. Saya kembali ke Lateng tanpa anak-anak. Lapor kepada om dan tante, lalu kembali ke Yasmin bersama tante saya.

Melihat saya datang bersama ibunya, Rara jadi semakin merajuk. Sebelumnya, saya dan Lintang selalu meyakinkan bahwa everythings will be oke. Kakak beradik itu selalu tampak tidak pernah akur. Tapi, di momen-momen tertentu, hubungan kakak beradik mereka membuat saya tersenyum bangga. Lintang selalu berusaha membuat kakaknya tertawa sebelum kakaknya itu di operasi. Mereka akur sekali, setidaknya untuk beberapa jam ke depan.

Saya melihat jam di ponsel. Sudah lebih dari jam tiga sore. Saya tahu bahwa hari itu harusnya saya mengikuti kajian pra nikah di Unair. Namun dengan keadaan seperti ini sepertinya saya akan telat atau bahkan tidak bisa ikut sama sekali. Pukul setengah empat barulah Rara ditangani. Dia masuk ruangan ditemani oleh ibunya. Saya dan Lintang menunggu di luar sambil terkantuk-kantuk. Saya lihat Lintang beberapa kali mengintip ruangan yang tertutup itu, padahal hal itu sia-sia saja dilakukan. Lha wong kaca yang ada di pintu ruangan itu tidak terlalu jelas. Lelah mondar-mandir akhirnya dia berbaring di kursi tunggu. Saya yang lelah melihat Lintang mondar-mandir hanya nyender di kursi sambil merem.

Kurang lebih 45 menit akhirnya dr. Radhi keluar. Beliau langsung pergi setelah menangani Rara. Saya dan Lintang berdiri menyambut Rara dan tante. Saya lihat kaki Rara sudah dibalut perban putih. “Nggak boleh kena air. Terus minggu depan kontrol.” kata tante. Tante menuntun Rara hingga ke depan. Saya dan Lintang mengambil motor yang terparkir di dekat atm. Kami pulang menerobos gerimis yang dari semalam belum reda juga.

Sampai di rumah Lateng Rara segera merebahkan tubuhnya di depan tivi. Saya skip aja bagian yang Rara ceriwis sekali menceritakan apa yang terjadi di ruangan operasi tadi. Saya yang diceritain cuma o aja ya kan, saya nggak sanggup jika harus menuliskannya di sini.

Hari ini begitu luar biasa bagi saya. Kejadian-kejadian yang menyadarkan bahwa sehat itu mahal. Rara beruntung memiliki orang tua yang mampu memenuhi setiap kebutuhannya. Urusan kesehatannya juga terjamin. Pernah dengar anekdot “Orang miskin dilarang sakit”? Saya terlalu cengeng untuk membahas masalah-masalah seperti ini. Begitu banyak saudara saya yang untuk sakit pun mereka tak berani. Mati-matian menjaga kesehatan agar mereka tak jatuh sakit. Karena mereka tahu, biaya rumah sakit, biaya obat, biaya tetek-bengek lainnya teramat mahal.

Karena kejadian ini pula, saya batal mengikuti kajian pra nikah. Dalam hati saya berucap, “Nggak ikut kajian pra nikah, malah terjebak di operating room. Apa ini pertanda bahwa aku nikahnya masih lama?” ya, semua kejadian pasti ada hikmahnya.

Dear, calon suamiku. Giatlah dalam bekerja. Kau tahu, kan, hari ini semua serba mahal. Aku tak mau jika kelak anak kita sakit dan butuh biaya yang cukup besar lantas kau tak mampu memenuhinya. Yah, anggap saja kejadian hari ini adalah pengganti dari kajian yang batal. Jika dalam kajian itu kita dijejali teori bagaimana nanti saat berumah tangga, hari ini saya praktik langsung bagaimana menangani masalah anak takut di suntik, anak takut minum obat, dan masalah-masalah kerumahtanggaan lainnya.

Tuh, kan. Tuhan memang menciptakan saya ini dengan gelar ‘khitbah-able’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar