Selasa, 27 Juni 2017

Komitmen Tak Tepat Waktu

Setelah memastikan bahwa Ustadz Mushollin tidak ada di rumahnya, kami segera pulang ke rumah masing-masing. Saya, Bibeh, Suryanto dan Irfan. Saya dan Bibeh tidak langsung pulang. Kami mampir ke warung nasi goreng yang ada di pojokan dekat Toko Mery. Mbak Luluk sempat telpon Bibeh dan pesan nasi goreng.

Kami duduk di kursi yang telah di sediakan setelah memesan dua bungkus nasi goreng. Kami berdua duduk sembari menikmati Choco Marble-nya Amanda yang Bibeh beli tadi. Saat sedang ngobrol berdua, dengan mulut penuh brownies, kami melihat sosok laki-laki yang sangat kami kenali dari arah Utara. Laki-laki itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Laki-laki berkacamata yang kemana-mana selalu tak lupa mengenakan songkok.

“Kaaaaaang …” kami berteriak memanggil laki-laki tersebut. Ya, laki-laki itu adalah Kang Sholeh, ketua PAC IPNU Kecamatan Banyuwangi. Beliau menoleh pada kami lantas tersenyum sambil membunyikan klakson. Sambil masih menikmati Choco Marble, Bibeh bercerita tentang Kang Sholeh. Tidak banyak, hanya sedikit.

“Udah punya pacar dia, Di.” Saya hanya ngangguk-ngangguk. “Anak pondok pacarnya, cantik.” Saya menimpali, “Oh, ya? Anak pondok, ya. Tapi pacaran?” Bibeh lantas menatap saya, dan sepersekian detik kemudian kami berdua tertawa. Tentu Bibeh tahu saya hanya bercanda. Setelah itu Bibeh kembali bercerita. “Aku tuh pernah nyeritain tentang kamu ke adikku.” | “Si Lilis?” | “Ya banyak, adik-adik di pondok.” | “Oh, ya? Cerita apa kamu?”

Saya membetulkan posisi duduk lebih menghadap ke Bibeh. Bibeh bercerita ada salah seorang adik yang bertanya siapa nama saya. Arane Mbak Mey, kata Bibeh. “Pantese pacare ngganteng nggeh Mbak Mey niku. Bibeh menjawab rasa penasaran mereka, “Dia itu jenis cowok kayak apa juga nggak bakal di terima.” Pada intinya Bibeh bercerita tentang saya yang tidak pernah pacaran. “Mbak Mey jomblo udah 20 tahun.” | “20 tahun? Sakniki pinten se umure?”

Waktu itu umur saya memang masih 20 tahun kata Bibeh. “Berarti mboten nate pacaran Mbak Mey niku?” lalu ada lagi yang berkata, “Ndane sing ono hang gelem ambi Mbak Mey?” Sumprit, saya ngakak ketika Bibeh cerita tentang itu. Bibeh menjawab mereka dengan sabar, “Ya nggak gitu. Itu namanya menjaga diri. Nah, kalian yang anak pondok, ngerti agama, masa kalah?”

Sebenarnya topik pembahasan kami malam itu adalah anak pondok yang pacaran. Sungguh tidak ada yang salah dengan itu semua. Pacaran adalah hak segala umat. Kebetulan Bibeh memiliki teman yang bisa dia jadikan bahan cerita kepada adik-adiknya. Saya pun sama sekali tak keberatan dirasani sana-sini selama itu baik dan mampu memberi motivasi tidak langsung kepada adik-adik Bibeh.

Akhirnya saya terbuai dengan cerita-cerita masa lalu Bibeh. Masa dimana dia masih suka pacar-pacaran. Juga masa dimana dia berhenti pacaran setelah mengenal dunia pesantren. Dah makin berumur buat apa juga pacaran, pikirnya. Ada satu kalimat dari Bibeh yang sungguh saya setuju sekali. “Lo suka ama gue, ya udah.”

Saya setuju sekali dengan pernyataan Bibeh tersebut. Bagi saya, pernyataan itu mewakili apa yang saya rasakan. Kamu suka sama saya, ya sudah. Saya tahu kamu suka saya, kamu tahu saya nggak bakal menerima. Begitulah konsekuensi yang harus kamu dapatkan ketika kamu berani mengungkapkan perasaan kepada saya. Semua laki-laki mampu berucap saya suka kamu, saya cinta kamu, atau ana uhibbuki fillah (pret). Lantas setelah itu mereka menuntut sebuah jawaban dari saya.

Saya sangat menghargai setiap pengakuan perasaan yang datang kepada saya. Bagaimanapun, tidak mudah untuk berani mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita suka. Apalagi mengungkapkan secara langsung, face to face, bukannya lewat WA, SMS, Inbox ataupun surel. Halah, Mey, wong kamu dulu aja juga pakai surel kok. Beda perkara, saya perempuan, perempuan mah bebas, terserah. *O aza ya kan …

Begini (benerin posisi duduk), pernyataan yang Bibeh lontarkan itu merupakan gambaran dari watak saya. Keras kepala, bebal, egois. Tapi ya begitulah saya. Gampangnya gini deh, sesuka-sukanya saya sama si A, secinta-cintanya saya sama si A, ketika si A ini menyatakan perasaannya kepada saya (perasaan suka) lantas meminta jawaban atau kepastian, disitu saya merasa menjadi manusia paling hina dan paling PHP seplanet bumi.

Bagaimana tidak? Dah tahu yang kamu suka Meydiana Isfandari, yang wangkotnya naudzubillah dalam hal pacaran, gitu kok masih nuntut jawaban/kepastian? Jawabannya terlalu jelas, “Ditolak.” Kenapa ditolak? Aih, kenapa pula kuharus lelah-lelah menjelaskan alasannya.

Saya tuh orangnya pemikir. Suka kepikiran kalau ada orang yang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan dari saya. Saking kepikirannya sampai-sampai nggak memikirkan diri sendiri. Sampai lupa bahwa saya punya hak untuk menolak dan hak untuk nggak kepikiran perasaan tak berbalas mereka. Tapi semakin dipikir-pikir lagi, kok saya ini seperti orang jahat, ya? Lha, lantas saya harus gimana? Apa saya harus membalas semua perasaan itu satu-satu? Saya nggak bisa amoeba, je. Raga saya cuma ada satu. Pun dengan hati saya, cuma ada satu. dah ancur pula Ah, makin dipikir kok ya makin kepikiran.

Saya tidak bisa kalian ajak berkomitmen tanpa status hubungan yang jelas. Komitmen apa yang harus saya berikan di saat keinginan menikah saja belum ada? Satu-satunya status hubungan yang saya akui hanya menikah. Pacaran, TTM, Kakak-Adikan, HTS, apalagi TSP (teman rasa pacar) saya anggap hanya fatamorgana, hore-horenya orang hidup. Saya juga tidak bisa kalian ajak ta’arufan dengan durasi waktu yang nggak jelas dan tanpa murabbi. Hellaw, ini ta’aruf, bukan pacaran islami. Nggak, saya nggak lagi nyinyiran mereka yang sedang berada di status hubungan fatamorgana itu, lho, suwer.

Akhir kata, saran yang bisa saya berikan kepada para akhi, yang sedang mencoba mengungkapkan perasaannya kepada ukhti macam diriku, Bibeh, dan spesies sewatak dengan kami; silahkan mengungkapkan perasaan kalian dengan baik dan benar, dengan lembut dan hati-hati, setelah itu sudah. Jangan membebankan ukhti pujaanmu dengan pertanyaan, “Jadi, gimana, Dek? Apa jawaban kamu? Mas menunggu.”

Jika ukhti sudah siap menikah, dan kebetulan si laki-laki cocok dengan dirinya, sudah pasti akan dijawab, “Iya, Mas. Aku mau.” Semua senang …

Kalian tidak pernah tahu jika ada perempuan yang rela menolak laki-laki yang ia cintai hanya karena memegang teguh prinsip mereka. Lalu si laki-laki berpikir bahwa perempuan pujaan hatinya itu menolaknya, dan si laki-laki menyerah atas perasaannya lantas pergi.

Semua-mua aja ditolakin, kelak nggak ada yang mau baru tahu rasa!

Janganlah begitu. Kau meremehkan Allah Yang Maha Segala? *kibasjilbab

***

Akhirnya obrolan saya dan Bibeh terputus ketika nasi goreng pesanannya selesai. Kami pulang dalam keheningan masing-masing ~ The End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar