Kamis, 06 Juli 2017

Ijen, I'm Coming #1

Rencana pergi ke Ijen yang telah di bahas dua hari yang lalu itu jadi kenyataan. Yes, today I went to Ijeeeeeen. Huwaaah, I am very very very very Maryadi excited. Jika bukan karena Ardi yang pergi ke Ijen Selasa lalu, mungkin saya tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke Ijen. Selasa pagi, secara tiba-tiba Ferdi dan Dela (kakaknya) datang ke rumah menjemput Ardi, hendak pergi ke Ijen katanya. Tentu kami sekeluarga agak kaget, karena Ardi tidak pamit malam harinya. Dia pergi secara mendadak, pamitan pun juga serba mendadak di Selasa pagi. Mau tidak mau Bapak saya mengijinkan, karena sudah terlanjur di jemput oleh kawannya.

Singkat cerita, Ardi pulang ke rumah sekitar pukul empat sore. Selepas maghrib Bapak kami baru pulang. Selesai Bapak membersihkan diri, kami sekeluarga berkumpul nonton tv. Saat itu lah Bapak menanyakan perjalanan Ardi ke Ijen tadi. Ardi sempat memperlihatkan foto-fotonya saat berada di puncak. Bapak juga menanyakan perubahan apa saja yang terjadi di Ijen. Karena dulu Bapak dan Ardi pernah bermalam di Ijen saat malam tahun baru 2013. It was four years ago. Momen itu saya jadikan bahan protes ke Bapak. Saya bilang, “Aku ta Bah ke Ijen. Aku gak pernah ag.” Sambil pasang wajah masam, kecut, mecucu, dan sederet ekspresi wajah jelek lainnya. Bapak saya yang masih melihat-lihat foto di ponsel Ardi menjawab, “Yo merono o wes. Ambek Ardi kok.” Unbelievable! I’m surprised. Saya langsung teringat obrolan dengan Bibeh beberapa waktu yang lalu. Saat itu juga saya kirim pesan WA. Saya menanyakan apakah Bibeh jadi ke Ijen atau tidak Kamis ini, dia jawab iya dan merajuk mengajak saya. Saya yang telah memiliki surat perizinan dari Bapak segera mengiyakan. Tidak saya sangka jurus ngambul saya ke Bapak ternyata ampuh juga. Heuheu...

Rabu malam saya kembali mengingatkan Ardi perihal acara besok pagi. Bapak sempat mendengar ketika saya meningatkan Ardi di kamarnya, dan beliau bilang, “Arep neng ndi?”. Saya yang mencium gelagat mencurigakan segera menjawab, “Ijen, lah. Abae kan wes ngomong boleh.” Skak mat. Bapak saya hanya pasrah. Saya bersyukur Ardi mau menemani kakaknya ini untuk naik Ijen. Padahal Selasa lalu dia baru saja dari puncak. Demi melihat saya yang nggak pernah ke Ijen ini, dan Ardi mungkin kasihan kalau saya nanti di bully orang-orang sumbu pendek yang bilang “Wong Banyuwangi kok gak tau nang Ijen”, (yaelah, emang landmark Banyuwangi cuma Ijen?) maka akhirnya dia muncak lagi. Uwuwuwu, he’s so adorable.

Kami berangkat pukul 06.00 pagi, mundur satu jam dari waktu yang telah di sepakati. Lha gimana, wong jam lima Bibeh baru siap-siap. Beberapa kawan yang tahu bahwa saya akan naik Ijen sempat mengkhawatirkan cuaca pagi itu. Mereka kirim pesan agar berhati-hati. I’m totally blessed having friend like you, guys. Saat berangkat memang kami sempat diguyur hujan di daerah Olehsari. Kami berteduh di salah satu bengkel yang masih tutup. Saya dan Bibeh sempat bersitatap, seolah mata kami berbicara. Sejauh mata memandang ke Barat, yang terlihat hanya gumpalan awan abu-abu monyet pekat. Padahal di tempat kami berteduh itu fajar muncul dengan sinarnya yang lumayan menghangatkan kami. Ardi bergumam, “Udan sarangan iki.” Saya, Bieh dan Nana hanya diam. Tak lama kami berteduh, setelah dirasa cukup terang kami melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan saya berdoa agar cuaca cerah. Agar awan mendung itu menyingkir berganti langit biru. Semakin ke Barat cuaca semakin membaik. Saya bersorak demi melihat langit yang mulai terlihat biru dan matahari makin merekah. Saya teringat pesan WA Bibeh pagi tadi, “Yakin dalem hati, langit cerah.” Betapa the power of keyaqinan hqq itu luar biasa. Wkwk.

Akhirnya saya memilih untuk menikmati pemandangan selama perjalanan dalam diam. Ini bukan pertama kalinya saya menyusuri jalan menuju Ijen. Namun, saya tetap dibuat terpukau oleh ciptaan-Nya. Indah tanpa cacat. Saya juga sering menengok ke belakang, bukan nengokin masa lalu, tapi saya melihat Bibeh dan Nana. Kali aja mereka tertinggal jauh.

Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupakan hari itu. Saya tidak tahu persisnya dimana, yang saya ingat di sekeliling kami waktu itu adalah areal perkebunan yang ditanami semacam tanaman rambat. Apakah itu kentang atau kubis, saya nggak tahu. Jadi, di jalan yang penuh belokan itu Ardi memberi tahu saya sesuatu, “Kak, mari ngene enek barongsai kek.” Saya nggak tahu maksud dia apa. Hingga saya melihat rombongan bapak-bapak bermotor yang membawa tumpukan rumput serta dedaunan (ngeramban). Jumlah mereka empat kalau tidak salah. Bentuk rumput yang begitu lebar dan ukuran yang besar serta berjalan berarakan itulah yang Ardi maksud dengan barongsai. Nggak nyambung, sih. Tapi saya tetep ngakak karena ketika berpapasan dengan bapak-bapak tersebut Ardi mengiringinya dengan melodi khas barongsai. Tek dung tek dung cesss. Ah, susah, gaes, saya jelasinnya. Gitu deh pokoknya. Saya melihat iring-iringan mereka hingga tubuh saya terputar ke belakang. Ndilalah, pas saya nengok ke belakang saya nggak melihat Bibeh dan Nana.

Lalu tiba-tiba .... (menuju klimaks).

Ketika saya bertanya pada Ardi, “Mbak Bibeh endi, Di?” Lha kok tiba-tiba saya dan Ardi sudah nyusrug ke sebelah kiri. Saya berteriak memanggil nama Ardi. Antara kaget, nggak siap, dan bingung. Ya Allah, gaes ... hiks, sedih kalo di ceritain, mah. Jadi ternyata ban motor Ardi masuk ke pinggiran aspal yang terkikis, pas tikungan. Jadilah saya, Ardi, dan si satria terguling-guling di rerumputan. Sumpah saya kaget banget. Karena rumput itu lumayan dalam saya mikirnya jatuh ke jurang. Ya untung kami jatuhnya ke sisi kiri, dan disana ada rerumputan, jadi nggak begitu syaqit. Bayangin kalau kami nyusrug ke sisi kanan dan dari atas ada kendaraan melintas. Betul kata spanduk-spanduk itu, jatuh ke aspal taq seindah jatuh cinta. Dan di momen kami terjatuh itu, kalimat pertama yang di keluarkan Ardi adalah, “Gak opo-opo, Kak?” huwaaaaa, saya yang baperan ini langsung pingin nangis. It was so so so soooooooo touching. Alay, sih. Tapi ya gimana.

Ketika saya, Ardi dan si satria telah berdiri tegak barulah Bibeh dan Nana berhenti tepat di belakang kami. Bibeh yang melihat tubuh bagian kiri saya pada kotor kena rumput menuntut penjelasan. Ekspresi bingung di wajah Bibeh sungguh membuat saya pingin ngakak. “Habis nyusrug, Woh.” Kata saya. Dia sempat bego beberapa detik. “Abis jatooooh.” Saya menegaskan. “He, yang bener??? Iya, Di???” si kampret itu berusaha nahan ketawa. Ah, elu, coba aja tadi dia lihat aksi saya jatuh, sudah pasti bakal ngakak all day long. “Entar cerita, ya.” Setdah, sempetnya bilang begitu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan gulatan perasaan masing-masing. Ardi terus memastikan apakah saya baik-baik saja? Hmmm, adik saya nih, udah ganteng, humoris, perhatian pula. Sayang masih jomblo. Saya baik-baik saja, hanya saja masih sedikit gemetar dan kaget. Beberapa meter perjalanan setelah kejadian tersebut mata saya kunang-kunang, perut enek, dan kepala sempat pusing. Pingin muntah tapi nggak bisa. Wah, gawat nih kalau sampai saya kenapa-kenapa pas mendaki nanti, pikir saya.

Tapi alhamdulillah mata saya normal kembali beberapa kilometer kemudian. Musibah yang menimpa saya dan Ardi tidak sampai di situ saja, gaes. Sampai di jalan yang lumayan menanjak, tiba-tiba si satria mogok. Bayangin motor mogok di medan yang nanjak. Motor sempat mundur hingga akhirnya ditahan oleh Ardi. Saya turun dari motor. Saya yang masih gemeteran karena insiden jatuh tadi jadi nggak bisa mikir jernih, saya mondar-mandir ngeliatin Ardi yang masih berusaha menguasai satria. Saya ngeri melihat Ardi yang terus-terusan kepleset karena mencoba mengurangi gigi si staria namun gagal. Ban motor serasa nempel ke aspal, dan satria tidak bisa di apa-apakan. Maju nggak kena, mundur juga nggak mungkin. Ardi berusaha memiringkan posisi satria. Saya benar-benar nggak bisa nahan perasaan saya. Emosi saya benar-benar campur aduk. Mau nangis rasanya. Beruntung (lagi-lagi beruntung) tidak ada kendaraan yang meilntas dari atas. Ardi terus berkutat dengan satria hingga akhirnya motor hitam itu dapat di kendalikan. Saya yang terlanjur lemas memilih untuk berjalan hingga ke medan yang agak datar. Bibeh menunggu kami dari atas. Saya kembali duduk di jok belakang dengan terus-terusan merapal berbagai doa-doa. Kali ini saya mulai cemas, karena kami belum melewati Erek-Erek. Medan yang terkenal telah memakan banyak korban karena tingkat kecuramannya sangat tinggi.

Saya terus bertanya pada Ardi apa Erek-Erek masih jauh? Hingga akhirnya tibalah kami pada jalan yang menukik tajam itu. Setelah memastikan satria bergigi satu, Ardi mulai tancap gas. Saya yang meringkuk di balik punggungnya hanya bisa merem. Alhamdulillah Erek-Erek kami lalui dengan selamat. Melewati Erek-Erek seperti telah melepas beban berton-ton. Sisa perjalanan dapat kami nikmati dengan perasaan lega. Segala mual dan tetek bengek yang tidak mengenakkan badan saya juga hilang.

To be continued ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar