Rencana pergi ke Ijen yang telah di bahas dua hari yang
lalu itu jadi kenyataan. Yes, today I
went to Ijeeeeeen. Huwaaah, I am very
very very very Maryadi excited.
Jika bukan karena Ardi yang pergi ke Ijen Selasa lalu, mungkin saya tidak akan
pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke Ijen. Selasa pagi, secara tiba-tiba
Ferdi dan Dela (kakaknya) datang ke rumah menjemput Ardi, hendak pergi ke Ijen
katanya. Tentu kami sekeluarga agak kaget, karena Ardi tidak pamit malam
harinya. Dia pergi secara mendadak, pamitan pun juga serba mendadak di Selasa
pagi. Mau tidak mau Bapak saya mengijinkan, karena sudah terlanjur di jemput
oleh kawannya.
Singkat cerita, Ardi pulang ke rumah sekitar pukul empat
sore. Selepas maghrib Bapak kami baru pulang. Selesai Bapak membersihkan diri,
kami sekeluarga berkumpul nonton tv. Saat itu lah Bapak menanyakan perjalanan
Ardi ke Ijen tadi. Ardi sempat memperlihatkan foto-fotonya saat berada di puncak.
Bapak juga menanyakan perubahan apa saja yang terjadi di Ijen. Karena dulu
Bapak dan Ardi pernah bermalam di Ijen saat malam tahun baru 2013. It was four years ago. Momen itu saya
jadikan bahan protes ke Bapak. Saya bilang, “Aku
ta Bah ke Ijen. Aku gak pernah ag.” Sambil pasang wajah masam, kecut, mecucu, dan sederet ekspresi wajah jelek lainnya. Bapak saya
yang masih melihat-lihat foto di ponsel Ardi menjawab, “Yo merono o wes. Ambek Ardi kok.” Unbelievable! I’m surprised.
Saya langsung teringat obrolan dengan Bibeh beberapa waktu yang lalu. Saat itu
juga saya kirim pesan WA. Saya menanyakan apakah Bibeh jadi ke Ijen atau tidak
Kamis ini, dia jawab iya dan merajuk mengajak saya. Saya yang telah memiliki
surat perizinan dari Bapak segera mengiyakan. Tidak saya sangka jurus ngambul saya ke Bapak ternyata ampuh
juga. Heuheu...
Rabu malam saya kembali mengingatkan Ardi perihal acara
besok pagi. Bapak sempat mendengar ketika saya meningatkan Ardi di kamarnya,
dan beliau bilang, “Arep neng ndi?”. Saya
yang mencium gelagat mencurigakan segera menjawab, “Ijen, lah. Abae kan wes ngomong boleh.” Skak mat. Bapak saya hanya
pasrah. Saya bersyukur Ardi mau menemani kakaknya ini untuk naik Ijen. Padahal Selasa
lalu dia baru saja dari puncak. Demi melihat saya yang nggak pernah ke Ijen
ini, dan Ardi mungkin kasihan kalau saya nanti di bully orang-orang sumbu pendek yang bilang “Wong Banyuwangi kok gak tau nang Ijen”, (yaelah, emang landmark
Banyuwangi cuma Ijen?) maka akhirnya dia muncak
lagi. Uwuwuwu, he’s so adorable.
Kami berangkat pukul 06.00 pagi, mundur satu jam dari
waktu yang telah di sepakati. Lha gimana,
wong jam lima Bibeh baru siap-siap. Beberapa
kawan yang tahu bahwa saya akan naik Ijen sempat mengkhawatirkan cuaca pagi
itu. Mereka kirim pesan agar berhati-hati. I’m
totally blessed having friend like you, guys. Saat berangkat memang kami
sempat diguyur hujan di daerah Olehsari. Kami berteduh di salah satu bengkel
yang masih tutup. Saya dan Bibeh sempat bersitatap, seolah mata kami berbicara.
Sejauh mata memandang ke Barat, yang terlihat hanya gumpalan awan abu-abu monyet
pekat. Padahal di tempat kami berteduh itu fajar muncul dengan sinarnya yang
lumayan menghangatkan kami. Ardi bergumam, “Udan
sarangan iki.” Saya, Bieh dan Nana hanya diam. Tak lama kami berteduh,
setelah dirasa cukup terang kami melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan saya berdoa agar cuaca cerah. Agar awan
mendung itu menyingkir berganti langit biru. Semakin ke Barat cuaca semakin
membaik. Saya bersorak demi melihat langit yang mulai terlihat biru dan
matahari makin merekah. Saya teringat pesan WA Bibeh pagi tadi, “Yakin dalem hati, langit cerah.” Betapa
the power of keyaqinan hqq itu luar
biasa. Wkwk.
Akhirnya saya memilih untuk menikmati pemandangan selama
perjalanan dalam diam. Ini bukan pertama kalinya saya menyusuri jalan menuju
Ijen. Namun, saya tetap dibuat terpukau oleh ciptaan-Nya. Indah tanpa cacat. Saya
juga sering menengok ke belakang, bukan nengokin
masa lalu, tapi saya melihat Bibeh dan Nana. Kali aja mereka tertinggal jauh.
Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupakan hari itu.
Saya tidak tahu persisnya dimana, yang saya ingat di sekeliling kami waktu itu
adalah areal perkebunan yang ditanami semacam tanaman rambat. Apakah itu
kentang atau kubis, saya nggak tahu. Jadi, di jalan yang penuh belokan itu Ardi
memberi tahu saya sesuatu, “Kak, mari
ngene enek barongsai kek.” Saya nggak tahu maksud dia apa. Hingga saya
melihat rombongan bapak-bapak bermotor yang membawa tumpukan rumput serta
dedaunan (ngeramban). Jumlah mereka
empat kalau tidak salah. Bentuk rumput yang begitu lebar dan ukuran yang besar
serta berjalan berarakan itulah yang Ardi maksud dengan barongsai. Nggak nyambung,
sih. Tapi saya tetep ngakak karena ketika berpapasan dengan bapak-bapak
tersebut Ardi mengiringinya dengan melodi khas barongsai. Tek dung tek dung cesss. Ah, susah, gaes, saya jelasinnya. Gitu deh pokoknya. Saya melihat
iring-iringan mereka hingga tubuh saya terputar ke belakang. Ndilalah, pas saya nengok ke belakang
saya nggak melihat Bibeh dan Nana.
Lalu tiba-tiba .... (menuju klimaks).
Ketika saya bertanya pada Ardi, “Mbak Bibeh endi, Di?” Lha kok tiba-tiba saya dan Ardi sudah nyusrug ke sebelah kiri. Saya berteriak
memanggil nama Ardi. Antara kaget, nggak siap, dan bingung. Ya Allah, gaes ... hiks, sedih kalo di ceritain,
mah. Jadi ternyata ban motor Ardi masuk ke pinggiran aspal yang terkikis, pas
tikungan. Jadilah saya, Ardi, dan si satria terguling-guling di rerumputan. Sumpah
saya kaget banget. Karena rumput itu lumayan dalam saya mikirnya jatuh ke
jurang. Ya untung kami jatuhnya ke sisi kiri, dan disana ada rerumputan, jadi
nggak begitu syaqit. Bayangin kalau kami nyusrug
ke sisi kanan dan dari atas ada kendaraan melintas. Betul kata spanduk-spanduk
itu, jatuh ke aspal taq seindah jatuh cinta. Dan di momen kami terjatuh itu,
kalimat pertama yang di keluarkan Ardi adalah, “Gak opo-opo, Kak?” huwaaaaa, saya yang baperan ini langsung pingin
nangis. It was so so so soooooooo
touching. Alay, sih. Tapi ya gimana.
Ketika saya, Ardi dan si satria telah berdiri tegak
barulah Bibeh dan Nana berhenti tepat di belakang kami. Bibeh yang melihat
tubuh bagian kiri saya pada kotor kena rumput menuntut penjelasan. Ekspresi bingung
di wajah Bibeh sungguh membuat saya pingin ngakak. “Habis nyusrug, Woh.” Kata saya. Dia sempat bego beberapa detik. “Abis jatooooh.” Saya menegaskan. “He, yang bener??? Iya, Di???” si
kampret itu berusaha nahan ketawa. Ah, elu, coba aja tadi dia lihat aksi saya
jatuh, sudah pasti bakal ngakak all day
long. “Entar cerita, ya.” Setdah,
sempetnya bilang begitu.
Kami melanjutkan perjalanan dengan gulatan perasaan
masing-masing. Ardi terus memastikan apakah saya baik-baik saja? Hmmm, adik
saya nih, udah ganteng, humoris, perhatian pula. Sayang masih jomblo. Saya
baik-baik saja, hanya saja masih sedikit gemetar dan kaget. Beberapa meter
perjalanan setelah kejadian tersebut mata saya kunang-kunang, perut enek, dan kepala sempat pusing. Pingin muntah
tapi nggak bisa. Wah, gawat nih kalau sampai saya kenapa-kenapa pas mendaki
nanti, pikir saya.
Tapi alhamdulillah mata saya normal kembali beberapa
kilometer kemudian. Musibah yang menimpa saya dan Ardi tidak sampai di situ
saja, gaes. Sampai di jalan yang
lumayan menanjak, tiba-tiba si satria mogok. Bayangin motor mogok di medan yang
nanjak. Motor sempat mundur hingga akhirnya ditahan oleh Ardi. Saya turun dari
motor. Saya yang masih gemeteran karena insiden jatuh tadi jadi nggak bisa
mikir jernih, saya mondar-mandir ngeliatin Ardi yang masih berusaha menguasai
satria. Saya ngeri melihat Ardi yang terus-terusan kepleset karena mencoba mengurangi gigi si staria namun gagal. Ban motor
serasa nempel ke aspal, dan satria tidak bisa di apa-apakan. Maju nggak kena,
mundur juga nggak mungkin. Ardi berusaha memiringkan posisi satria. Saya benar-benar
nggak bisa nahan perasaan saya. Emosi saya benar-benar campur aduk. Mau nangis
rasanya. Beruntung (lagi-lagi beruntung) tidak ada kendaraan yang meilntas dari
atas. Ardi terus berkutat dengan satria hingga akhirnya motor hitam itu dapat
di kendalikan. Saya yang terlanjur lemas memilih untuk berjalan hingga ke medan
yang agak datar. Bibeh menunggu kami dari atas. Saya kembali duduk di jok
belakang dengan terus-terusan merapal berbagai doa-doa. Kali ini saya mulai
cemas, karena kami belum melewati Erek-Erek. Medan yang terkenal telah memakan
banyak korban karena tingkat kecuramannya sangat tinggi.
Saya terus bertanya pada Ardi apa Erek-Erek masih jauh? Hingga
akhirnya tibalah kami pada jalan yang menukik tajam itu. Setelah memastikan
satria bergigi satu, Ardi mulai tancap gas. Saya yang meringkuk di balik punggungnya
hanya bisa merem. Alhamdulillah Erek-Erek kami lalui dengan selamat. Melewati Erek-Erek
seperti telah melepas beban berton-ton. Sisa perjalanan dapat kami nikmati
dengan perasaan lega. Segala mual dan tetek bengek yang tidak mengenakkan badan
saya juga hilang.
To be continued ...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar