Jam 22.01 dia wassap saya. It was a short messages, “Di. Hati gw.” Saya baru balas di jam
22.57. Wah, nih anak kenapa, batin saya. Centang satu sampai tadi subuh. Baru dibalas
sekitar jam lima pagi. Dia bilang nggak dibalas oleh doi. Saya bilang juga,
tunggu aja, dia masih shock kali. Bibeh
balas, “Di, ya Allah. Semalem gw gelisah
bener di. Lega dah. Masih pusing nih gue, dan gak nyangka gue.”
Saya tersenyum dengan sedikit ngikik ketika baca pesan
Bibeh subuh tadi. I knoooooow that feel,
Woh. One of the most embarrassing moment in life and the awkward thing we did
ever! Hahaha. Saya dan Bibeh akhirnya bertemu di Ikhtiar Surya, menghadiri
acara sosialisasi peduli HAM yang diadakan oleh Bakesbangpol. Sampai di tempat,
dia segera memberikan ponselnya untuk kemudian saya baca pesan yang telah dia
kirim kepada...nya.
Saya terharu. Gini bener sahabat eug. You did well, Woh. You did well. Pesan yang dia sampaikan
nggak panjang. Singkat saja, tapi jelas. Perlu sa tulis disini pesan tersebut?
Perlu? Huwaaaa, pesan itu terlalu sweet dan berharga untuk kusebarkan, gaes. Jadi, bersabarlah hingga si
pemilik pesan bersedia ungkapan hatinya saya publish. Sabar, ya?
Saya baca itu sambil mata saya menghangat. Diksinya kelas
banget sahabat eug, nih. Bikin siapa
aja yang baca jadi melted. Dan dan
daaaaan, balasan si dia pun tak kalah membuat saya mengharu biru. Dari awal
Bibeh memang tidak berharap balasan yang sama atas perasaannya. Yang penting
dia tahu, dia baca, dan syukur-syukur dibalas pesan tersebut.
Begitu banyak kata maaf yang terlontar. Begitu banyak
penyesalan yang terucap. Dia sadar, dia telah mengusik bagian tersensitif
seorang wanita. Lalu, dia pergi, tanpa sepatah katapun. Dia bilang dia
pecundang. Dia bilang dia tak pantas buat sahabat saya. Dan akhirnya hanya “Maafkan aku” yang mampu dia katakan. Ya
kadang laki-laki sebajigur itu. Bajigur ngetz.
Dia bilang sahabat saya luar biasa. Sahabat saya tetaplah
sahabat saya. Wanita luar biasa yang dia kenal, selalu berani, seperti pesan
sahabat saya padanya semalam. Tbh,
dia tidak tahu bahwa semalam suntuk sahabat saya tidak tenang. Sahabat saya bingung,
gelisah. Belum lagi setelah dia memutuskan mengirim pesan tersebut. “Malu banget gue, Di. Taruh mana nih muka.”
Perempuan yang kau bilang kuat, luar biasa, dan lain-lain
itu tetaplah seorang perempuan yang memiliki sisi sensitif. Sekuat-kuatnya
perempuan, dia akan selalu kalah dalam satu hal. Mencintai seseorang.
Hiyeeeeek, ngomong apa, sih,
eug. Hih hih hih.
Sepulang dari Ikhtiar Surya, saya dan Bibeh makan nasi
kotak yang disangoni oleh kesbangpol
di lapangan GOR. Tadinya, sih, mau makan di taman yang ada di area GOR. Cuma banyak
dedeq-dedeq sekolah lagi kongkow. Jadinya
kita melipir ke area lapangan.
Setelah mengisi paketan dan perut, kami duduk-duduk di tribun.
Memulai sesi curhat yang sedari tadi di pendam. Nggak tahu kenapa cuaca siang
tadi mirip banget sama suasan hati Bibeh. Mendung-mendung sok tegar gitu. Dia ngakak.
Seharusnya pantai menjadi jujugan kami. Biar bisa berik-berik sepuas hati. Ah, tapi tadi walaupun nggak di pantai
Bibeh juga masih bisa teriak-teriak, kok.
Sekali lagi Bibeh menyatakan kelegaannya. Emang, Woh. Ibaratnya
tuh bisul yang dah lama mengganggu,
akhirnya pecah. Empat tahun hidup dengan bayang-bayang si dia. Empat tahun
bleeeeeh, empat tahun. Apa nggak udah waktunya di wisuda, tuh, Woh. Hahahaha. Akhirnya
telah ditemukan penyebab skripsi nggak kelar-kelar.
Kami duduk berdua dalam diam. Menertawai diri
masing-masing. “Jadi gini, ya, Woh, perasaan laki-laki yang cintanya ditolak ama
perempuan yang mereka sayang?” Dia menoleh lantas nyengir. “Dari kejadian ini
kita bisa belajar. Belajar menghargai perasaan orang, Woh.”
Benar katanya. Waktu akan membawa kita pada lupa. Entah seberapa
dalam, atau seberapa jauh ingatan itu, waktu akan selalu punya cara membuat
kita sembuh.
"Ya untung ngomongnya pas dia belum nikah." | "Iya, ya, Di. Coba kalo dia dah nikah. Atau kita mau nikah, terus dianya mau."
Waduuuuuuuuh ... Kami histeris bersama.
"Ya untung ngomongnya pas dia belum nikah." | "Iya, ya, Di. Coba kalo dia dah nikah. Atau kita mau nikah, terus dianya mau."
Waduuuuuuuuh ... Kami histeris bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar