Melupakan adalah pekerjaan sia-sia yang tidak sepatutnya
orang normal lakukan. Semakin kita berusaha untuk melupakan, semakin kuat
ingatan kita akan hal itu muncul. Ya kecuali jika kita amnesia. Bagaimana cara
agar kita tidak selalu mengingat kenangan? Sibukkanlah dirimu. Sibukkan dirimu
dengan hal-hal baik. Apakah hal itu cukup? Tentu tidak. Nanti, saat siang
tenggelam dan malam menjelang, ingatan-ingatan tentang kenangan itu akan
datang. Jika sudah seperti itu, kita bisa apa? Jika kita sudah menyibukkan diri
sedemikian rupa lantas tetap teringat, kita bisa apa?
Sejauh ini, selama ini, aku tetap berusaha untuk sibuk.
Aku tidak melupakan apapun. Aku mengingat setiap hal yang menimpa hidupku. Aku
mengingat setiap jengkal tempat yang aku datangi. Aku mengingat setiap orang
yang datang membawa perubahan dalam hidupku. Aku mengingat setiap peristiwa
yang membuatku sedih, menangis, tertawa, marah.
Melupakan adalah pekerjaan sia-sia. Melalui tulisan ini
aku ingin menjelaskan segalanya. Kau tahu? Kita berdua sudah seperti orang
asing yang tidak saling kenal. Aku hanya tidak ingin kita berakhir seperti dua
orang yang enggan bertemu satu sama lain.
Begitu banyak peristiwa yang menimpa kita berdua. Dari
awal, dari awal kita saling mengenal satu sama lain, hingga pengakuan yang aku
buat. Semuanya berjalan penuh liku, kau tahu itu. Tuhan menguji dengan sangat
luar biasa, terlebih aku. Aku, dari sudut pandangku, aku merasa Tuhan
menghukumku atas hal-hal yang telah kuperbuat. Aku terpuruk, iya. Aku sakit,
iya. Menyesal? Berulang kali aku katakan bahwa aku tidak pernah menyesal dengan
semua hal yang terjadi. Urusan kita memang menjadi urusan paling rumit yang
pernah aku hadapi.
Saat dia datang dan menanyakan ada hubungan apa aku
denganmu, aku sudah merasa bersalah. Aku merasa menjadi perempuan yang tidak
tahu etika. Sedih sudah pasti. Sedih karena aku harus berada di posisi seperti
ini. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, “Sebesar itukah perasaanku
padamu? Hingga aku abai pada perasaan perempuan lain yang saat itu menemanimu.
Sebesar itukah perasaanku padamu? Hingga aku tetap dan tetap acuh padamu sampai
saat itu.”
Aku sadar aku salah. Aku salah membiarkan kita melewati batas.
Tidak, aku yang melewati batas. Aku yang melanggar aturan.
Aku masih membaca tulisan-tulisanmu. Beberapa tulisan
masih berhubungan denganku. Tidak adil rasanya jika hanya kau yang berkeluh
kesah. Aku juga, banyak keluh kesah yang ingin aku sampaikan. Semoga kau
membaca.
Jika kau hanya bisa melihat segala aktivitasku melalui
media sosial, aku tekankan untuk tidak sok tahu. Kau boleh menilaiku dari sudut
pandangmu, menilaiku dari pengamatanmu, tapi sekali lagi aku tekankan, tidak
segala hal yang kau lihat itu benar adanya. Jika kau bilang aku kini telah
bahagia dengan kehidupan sekarang, aku aamiin-kan.
Aku hanya ingin mengoreksi beberapa tulisan sok tahumu
itu. Dulu mungkin saya menang, karena ia
belum menjadi sepopuler seperti saat ini. Populer bagaimana yang kau
maksud? Dari lahir aku sudah populer............di kalangan keluarga besarku. Dulu mungkin saya menang, sebelum dirinya
sudah dikerubungi oleh akhi-akhi lulusan pondok pesantren. Sebentar, tahu
dari mana jika aku dikerubungi akhi-akhi lulusan pondok pesantren? Akhi-akhi
lulusan pondok itu levelnya juga mbak-mbak santri yang patuh dan anggun, bukan
aku yang mblakrak kesana kemari ini. Dulu mungkin saya sangat percaya diri,
sebelum akhirnya mengetahui siapa ia saat ini, siapa-siapa saja yang mencoba
memenangkannya. Please, aku masih Meydiana yang dulu. Dan aku bahkan tidak
tahu siapa saja orang yang berusaha memenangkanku saat ini. Bisa kau sebutkan
satu per satu?
Dari dulu, kau adalah pemenang. Kau berhasil merobohkan
bentengku, apa namanya jika bukan pemenang? Aku mengapresiasi kejujuranmu yang
menulis bahwa kau gagal move on.
Bolehkah aku tertawa? Bolehkah aku berkata kasar?
Rasakan! Setidaknya aku tahu, aku lega, tidak hanya aku
yang merasakan hal tersebut. Tidak hanya aku yang harus menahan sakit tiap kali
mengingatmu. Tidak hanya aku yang merasakan kegagalan untuk bangkit lagi. Kau
bilang berpindah dari seseorang yang benar-benar kita harapkan untuk menjadi
masa depan itu tidaklah mudah. Kau pikir aku tidak? Apa kau pikir aku melalui
hidup setelah peristiwa yang menimpa kita dengan baik-baik saja? Berat, kau
tahu.
Kau benar, beberapa kali kita bertemu tanpa tegur sapa.
Di pernikahan Mbak Devi, kita bertatap muka. Aku berusaha untuk tersenyum
padamu saat itu, tapi kau mengalihkan pandangan. Aku berusaha untuk menyapa.
Jika kau melihatku saat memandu Hari Santri Oktober lalu, aku melihatmu hadir
disana justru dari postingan instagrammu. Aku melihatmu saat di Festival
Sholawat, karena posisiku yang tidak mungkin meninggalkan panggung, aku hanya
sekilas memerhatikanmu. Berharap saat acara berakhir kita dapat bertegur sapa.
Aku lelah dengan keadaan kita yang seperti ini. Aku hanya ingin kita bertegur
sapa saat bertemu. Itu saja. Jika dengan menghapus kontak, unfriend facebook, unfollow instagram, dapat membuatmu lupa,
silahkan. Jika dengan melakukan itu semua dapat membuatmu merasa lebih baik, tidak
apa-apa. Karena cara masing-masing orang untuk move on berbeda.
Pada akhirnya waktu akan menyelesaikan semuanya. Pada
akhirnya waktu akan menyembuhkan setiap luka. Pada akhirnya waktu yang akan
menjawab segalanya. Hanya durasinya saja yang tidak bisa kita kira-kira.
Kau boleh membaca ini sambil tersenyum, tertawa atau terserah
berekspresi seperti apa. Terimakasih telah membaca.
![]() |
| Sumber: Instagram |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar