Rasa-rasanya
kemarin adalah hari paling drama dalam hidup kami, saya dan Veni. Meskipun
telah banyak hari dengan drama yang kami lalui, namun kemarin adalah klimaks
dari drama kehidupan kami.
Setelah dua
hari yang lalu, saya melihat instastory-nya yang menampakkan foto kami berdua
saat berada di pernikahan Firman. Veni menuliskan “Tiba-tiba aku kelingan kowe ndo”. Saat itu juga, entah kenapa,
saya berkaca-kaca. Saya balas story tersebut dengan emoticon menangis. Sampai
hari itu saya tidak tahu apa yang sedang dia sembunyikan. Ada cerita apa lagi
yang tidak saya ketahui. Saya mengerti, Veni adalah tipe sahabat yang tidak
bisa menyembunyikan sesuatu sekecil apapun, apalagi jika itu tentang saya. “Aku gak iso ndo lek gak cerito nang awakmu”,
begitu dia dulu pernah bilang.
Hingga
kemudian semalam, kami ngobrol via Vallen WhatsApp. Lagi, dia bilang, Ndo,
Ya Allah, aku tiga hari ini kepikiran kowe tok. Saya hanya bisa balas, “Kenapa sih ndo? Aku kenapa?”
“Kamu harus baik-baik saja ndo”. Dia hanya
membalas seperti itu. Bangsatnya adalah, setelah itu dia bilang lagi “Partner MCmu kae gak jomblo ta ndo?”
Lalu dia balik
lagi ke drama dengan berbicara hal-hal yang seolah ini adalah pesan terakhir.
Seolah itu wasiat terakhir darinya. Seolah kami tidak akan pernah bertemu lagi.
“Aku sayang kamu ndo, Ya Allah. Aku tahu kapasitas hatimu, tapi
belum sekarang aku ceritane”. You know what, gaes? Setelah dia bilang
seperti itu, tumpahlah segala uneg-unengnya. Bocor bendungan yang telah
mati-matian dia pertahankan. Wkwkwk.
Dan gilanya,
ini yang membuat saya yakin sepertinya semalam dia sedang dalam keadaan sakit
atau apapun yang membuat pikirannya agak mlengse.
Ga enek sing menyatakan cinta maneh ta
ndo akhir-akhir iki? katanya, secara tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling.
Wah gila ni
bocah, batin saya. Ndo, jika memang ada, kamu adalah orang pertama yang akan ku
kasih tahu, bahkan sebelum Ibu. Tapi sayangnya nggak ada, Ndo. Mungkin Tuhan
tahu bahwa Meydiana Isfandari ini hatinya sedang lelah, sedang mati rasa. Jadi
tidak ada lagi laki-laki yang datang kemudian jeng jeeeeng.......menyatakan
cinta.
Kemudian,
setelahnya, dia meracau lagi. Aku iki gak
tego yo ndo lek awmu dilarani, entah dengan siapapun. Oke, di bagian itu
saya terharu. Ndo, tahukah kamu akupun begitu? Ya, urusan perasaan adalah
tanggung jawab kita masing-masing. Itu teorinya, praktiknya? Aku masih suka
menyalahkan laki-laki yang telah membuatmu bersedih, meskipun laki-laki itu
tidak menyadarinya. Kamu, Lia, adalah dua sahabat yang selalu kudoakan agar
kelak mendapat imam yang baik, yang bisa menghargai kalian, yang bisa selalu
membuat kalian tersenyum dengan hal-hal sederhana, yang bisa membuat kalian
nyaman berada di sisinya, yang bisa mengasihi kalian sepanjang hayat.
Duh, kenapa I menangis menulis bagian ini. BGST.
Aku mendukung 100% pilihanmu sekarang untuk fokus sama karir.
Bahagiain Ibu, Abah, Fahri dan Ardi. Aku gak akan ungkit-ungkit masalah perasaanmu.
Sungguh, dia
adalah sahabat yang sangat mengerti saya meskipun saya diam. Dia mengerti
bagaimana kondisi hati saya. Dia mengerti bagaimana kesedihan akhirnya membuat
saya menjadi keras hati terhadap laki-laki. Dia mengerti itu semua.
Kamu tipikal perempuan yang baik-baik saja ketika laki-laki yang
mencintaimu mulai menyukai perempuan lain.
Sama sekali
Veni tidak salah. Dari dulu saya tidak pernah menyuruh seseorang untuk menunggu
sebuah ketidakpastian. Saya bukan tipe perempuan yang akan memberikan harapan.
Saya adalah perempuan dengan prinsip tidak menjawab apapun, selama saya tidak
siap. Kemudian jika mereka mulai goyah pendiriannya terhadap saya, itu sama
sekali bukan salah saya ataupun mereka.
Setiap
manusia berhak menentukan pilihan hidup. Setiap manusia berhak untuk berjuang
demi seseorang yang mereka kasihi. Dan, setiap manusia berhak untuk berhenti
berjuang atas perasaan mereka terhadap seseorang.
Kadang
ketika pikiran jahat mulai datang, saya berpikir untuk tidak menikah saja. Saya
terlalu lelah. Begitu banyak yang membebani saya. Bagaimana jika nanti saya
tidak dapat diterima dengan baik oleh keluarga suami? Bagaimana jika setelah
menikah nanti saya harus tinggal bersama mertua karena suami belum memiliki
rumah sendiri? Bagaimana jika setelah memiliki anak nanti saya tidak becus
mendidik mereka? Bagaimana jika nanti setelah menikah saya tidak bisa menjadi
istri yang baik dan patuh terhadap suami? Bagaimana jika saya jadi pribadi yang
suka berontak karena terbiasa mandiri? Begitu banyak ‘bagaimana jika’ yang ada
dalam kepala saya.
Tersebab
itulah saya muak dengan anak-anak muda, yang umurnya masih belia, yang umurnya
masih muda dan bagus sekali untuk berkarya, ngebet sekali ingin menikah!
Status-status galau menanti jodoh yang ditulis di medsos, buat apa?
Perempuan-perempuan muda masa kini yang sedang hijrah, kemudian beramai-ramai
ingin seperti junjungan mereka yang menikah muda kemudian pamer kemesraan di
Instagram. So damn bullshit.
Kami pun
mengakhiri cerita semalam dengan Veni yang kembali mekar hatinya setelah layu
selama 100 purnama. Ndo, seperti lagu Cinta yang dinyanyikan oleh Mimi Peri
Krisdayanti dan Ibu Melly Goeslaw: “Bukankah hidup kita akhirnya harus
bahagia?”
Kamu harus
bahagia. Jika tidak dengan dia, ya dengan dia yang lainnya. Kamu bilang, dia
nggak good looking, tapi kamu nyaman.
Persetan dengan good looking.
Laki-laki tampan biasanya bertabiat bangsat (lihat saja Andika eks vokalis
Kangen Band). Kenyamanan adalah koentji!
Hatimu sudah
terlalu lama menahan sesak. Sudah waktunya untuk membuka hati yang baru, yang
mampu menyembuhkan.

Baca sambil nangis sambil ngakak sambil baper, ngakak lagi bagian akhir ..
BalasHapusLama amat yak 100 purnama njir 😂😂😂
Baper, ngakak, baper, ngakak. Ngono terus ra uwis uwis 😅😅😅
Hapus