Rabu, 28 Februari 2018

Semua Baik-baik Saja

Rasa-rasanya kemarin adalah hari paling drama dalam hidup kami, saya dan Veni. Meskipun telah banyak hari dengan drama yang kami lalui, namun kemarin adalah klimaks dari drama kehidupan kami.

Setelah dua hari yang lalu, saya melihat instastory-nya yang menampakkan foto kami berdua saat berada di pernikahan Firman. Veni menuliskan “Tiba-tiba aku kelingan kowe ndo”. Saat itu juga, entah kenapa, saya berkaca-kaca. Saya balas story tersebut dengan emoticon menangis. Sampai hari itu saya tidak tahu apa yang sedang dia sembunyikan. Ada cerita apa lagi yang tidak saya ketahui. Saya mengerti, Veni adalah tipe sahabat yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu sekecil apapun, apalagi jika itu tentang saya. “Aku gak iso ndo lek gak cerito nang awakmu”, begitu dia dulu pernah bilang.

Hingga kemudian semalam, kami ngobrol via Vallen WhatsApp. Lagi, dia bilang, Ndo, Ya Allah, aku tiga hari ini kepikiran kowe tok. Saya hanya bisa balas, “Kenapa sih ndo? Aku kenapa?”

“Kamu harus baik-baik saja ndo”. Dia hanya membalas seperti itu. Bangsatnya adalah, setelah itu dia bilang lagi “Partner MCmu kae gak jomblo ta ndo?”

Lalu dia balik lagi ke drama dengan berbicara hal-hal yang seolah ini adalah pesan terakhir. Seolah itu wasiat terakhir darinya. Seolah kami tidak akan pernah bertemu lagi.

“Aku sayang kamu ndo, Ya Allah. Aku tahu kapasitas hatimu, tapi belum sekarang aku ceritane”. You know what, gaes? Setelah dia bilang seperti itu, tumpahlah segala uneg-unengnya. Bocor bendungan yang telah mati-matian dia pertahankan. Wkwkwk.

Dan gilanya, ini yang membuat saya yakin sepertinya semalam dia sedang dalam keadaan sakit atau apapun yang membuat pikirannya agak mlengse. Ga enek sing menyatakan cinta maneh ta ndo akhir-akhir iki? katanya, secara tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling.

Wah gila ni bocah, batin saya. Ndo, jika memang ada, kamu adalah orang pertama yang akan ku kasih tahu, bahkan sebelum Ibu. Tapi sayangnya nggak ada, Ndo. Mungkin Tuhan tahu bahwa Meydiana Isfandari ini hatinya sedang lelah, sedang mati rasa. Jadi tidak ada lagi laki-laki yang datang kemudian jeng jeeeeng.......menyatakan cinta.

Kemudian, setelahnya, dia meracau lagi. Aku iki gak tego yo ndo lek awmu dilarani, entah dengan siapapun. Oke, di bagian itu saya terharu. Ndo, tahukah kamu akupun begitu? Ya, urusan perasaan adalah tanggung jawab kita masing-masing. Itu teorinya, praktiknya? Aku masih suka menyalahkan laki-laki yang telah membuatmu bersedih, meskipun laki-laki itu tidak menyadarinya. Kamu, Lia, adalah dua sahabat yang selalu kudoakan agar kelak mendapat imam yang baik, yang bisa menghargai kalian, yang bisa selalu membuat kalian tersenyum dengan hal-hal sederhana, yang bisa membuat kalian nyaman berada di sisinya, yang bisa mengasihi kalian sepanjang hayat.

Ya kau tahu sendiri lah ya ndo, kisah asmara Lia juga terbilang tragis. 

Duh, kenapa I menangis menulis bagian ini. BGST.

Aku mendukung 100% pilihanmu sekarang untuk fokus sama karir. Bahagiain Ibu, Abah, Fahri dan Ardi. Aku gak akan ungkit-ungkit masalah perasaanmu.

Sungguh, dia adalah sahabat yang sangat mengerti saya meskipun saya diam. Dia mengerti bagaimana kondisi hati saya. Dia mengerti bagaimana kesedihan akhirnya membuat saya menjadi keras hati terhadap laki-laki. Dia mengerti itu semua.

Kamu tipikal perempuan yang baik-baik saja ketika laki-laki yang mencintaimu mulai menyukai perempuan lain.

Sama sekali Veni tidak salah. Dari dulu saya tidak pernah menyuruh seseorang untuk menunggu sebuah ketidakpastian. Saya bukan tipe perempuan yang akan memberikan harapan. Saya adalah perempuan dengan prinsip tidak menjawab apapun, selama saya tidak siap. Kemudian jika mereka mulai goyah pendiriannya terhadap saya, itu sama sekali bukan salah saya ataupun mereka.

Setiap manusia berhak menentukan pilihan hidup. Setiap manusia berhak untuk berjuang demi seseorang yang mereka kasihi. Dan, setiap manusia berhak untuk berhenti berjuang atas perasaan mereka terhadap seseorang.

Kadang ketika pikiran jahat mulai datang, saya berpikir untuk tidak menikah saja. Saya terlalu lelah. Begitu banyak yang membebani saya. Bagaimana jika nanti saya tidak dapat diterima dengan baik oleh keluarga suami? Bagaimana jika setelah menikah nanti saya harus tinggal bersama mertua karena suami belum memiliki rumah sendiri? Bagaimana jika setelah memiliki anak nanti saya tidak becus mendidik mereka? Bagaimana jika nanti setelah menikah saya tidak bisa menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suami? Bagaimana jika saya jadi pribadi yang suka berontak karena terbiasa mandiri? Begitu banyak ‘bagaimana jika’ yang ada dalam kepala saya.

Tersebab itulah saya muak dengan anak-anak muda, yang umurnya masih belia, yang umurnya masih muda dan bagus sekali untuk berkarya, ngebet sekali ingin menikah! Status-status galau menanti jodoh yang ditulis di medsos, buat apa? Perempuan-perempuan muda masa kini yang sedang hijrah, kemudian beramai-ramai ingin seperti junjungan mereka yang menikah muda kemudian pamer kemesraan di Instagram. So damn bullshit.

Kami pun mengakhiri cerita semalam dengan Veni yang kembali mekar hatinya setelah layu selama 100 purnama. Ndo, seperti lagu Cinta yang dinyanyikan oleh Mimi Peri Krisdayanti dan Ibu Melly Goeslaw: “Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia?”

Kamu harus bahagia. Jika tidak dengan dia, ya dengan dia yang lainnya. Kamu bilang, dia nggak good looking, tapi kamu nyaman. Persetan dengan good looking. Laki-laki tampan biasanya bertabiat bangsat (lihat saja Andika eks vokalis Kangen Band). Kenyamanan adalah koentji!

Hatimu sudah terlalu lama menahan sesak. Sudah waktunya untuk membuka hati yang baru, yang mampu menyembuhkan.

2 komentar:

  1. Baca sambil nangis sambil ngakak sambil baper, ngakak lagi bagian akhir ..
    Lama amat yak 100 purnama njir 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baper, ngakak, baper, ngakak. Ngono terus ra uwis uwis 😅😅😅

      Hapus