Hari keempat di Jogja Fitriya
memilih untuk pulang terlebih dahulu. Saya terbangun ketika penghuni kamar
sibuk berkemas. Saat bangun saya lupa entah Bibeh atau Mbabila yang bertanya
kepada saya, “ikut ke stasiun, nggak?”
saya yang masih setengah sadar langsung aja menjawab “ayo, sekalian pulangnya ke malioboro.” Semua sepakat. Kesambet
apaaaaaaaa saya ngomong gitu. Tapi ya memang kami belum ke Malioboro sama
sekali.
Selesai cuci muka dan gincuan,
kami turun dari kamar. Driver gocar sudah sampai. Jumat pagi yang syahdu itu
kami bertolak ke Lempuyangan. Mengantar Fitriya yang akan pulang ke kampung
halaman. Bibeh duduk sebelah driver, kami bertiga duduk di belakang.
Setelah beberapa saat hening,
tiba-tiba driver kami mulai berbicara. Saya yang memang setengah sadar,
ditambah pula tertiup angin pagi yang segar, agak nggak konsentrasi
mendengarkan percakapan. Yang saya dengar si driver ini bertanya pada kami 2019
ganti presiden nggak? Lah, buset. Dari kemarin kita pulang dari makam, kami
juga dapat driver yang pertanyaannya sama. 2019 ganti presiden nggak??? Ya awkward dooooong kita ditanya begitu.
Saya nggak ngerti, apa sebegitu
nggak ada topik lainnya yang bisa dibahas? Nah iya kalo si driver ini sejalan
dengan pilihan kita? Kalau enggak? Maksud saya, ini masih pagi loooh, masih
enak buat bobok, nggak mau tanya yang lain gitu? Tanya kek mau sarapan dimana? Atau
yang standard orang pergi ke stasiun, lah. Mau kemana? Ini enggak. 2019 ganti
presiden nggak, nih??? Yaelaaaaaah. Berat amaaat. Nyangga kepala aja saya
malas, pengen nyender mulu, apalagi jawab pertanyaan macam begitu.
Setelah kesengsaraan batin yang
kami hadapi, sampailah kami di Lempuyangan. Setelah mengantar Fitriya sampai
pintu pemeriksaan tiket, kami wefie
dan berpisah. Tak lupa juga kami dada-dada. Jam tujuh pagi, belum mandi, sudah gloomy. Beberapa menit kami habiskan di
stasiun untuk menetralisir perasaan. Asli bangsat sekali suasana hati pagi ini.
Setelah merasa tenang kami lanjut
pesan gocar untuk ke Malioboro. Saya berdoa semoga driver kami kali ini nggak
ngeselin nanya-nanya 2019 ganti presiden atau tidak. Dan, ya. Nggak ngeselin
sih emang, beliau lebih kalem dan irit bicara. Kita juga yang masih sebel sama
suasana di mobil pertama tadi lagi puasa ngomong, tambah suara saya dan Bibeh
serak-serak banjir, malas ngomong panjang lebar.
Kami turun di halte Malioboro. Pertama
turun yang saya cari adalah plang tulisan Jalan Malioboro yang seingat saya ada
di ujung jalan. Ya, ini kunjungan kedua saya di Jogja. Dulu pernah ke Jogja
untuk KKL rasa liburan pas kuliah. Dan saya baru menyadari ada yang
berubah dari Jalan Malioboro ini. Trotoar sudah semakin lebar. Tata kota lebih
rapi. Sudah ada banyak kursi santai di area pedestrian. Di trotoar-trotoar ini
pun berjejer warung makan.
Efek setelah malamnya nggak makan
ditambah tadi pagi kami bertemu momen absurd yang meguras emosi jiwa, kami
lapar. Kami ingin makan makanan yang nggak manis! Kami ingin makan makanan yang
gurih, yang pedas, pokoknya nggak manis!!! Bayangin aja, gaes. Malam hari kedua, setelah pulang dari nonton panggung
kebudayaan, kami beli nasi goreng. Bapak yang punya warung nanya: pedes nggak? Saya jawab: pedes, pak, pedes banget. Oke, tolong di
bold dan underline jawaban saya ke bapaknya. Pedes, pak, pedes banget. Teman-teman menatapku dengan
ekspresi “ojo pedes-pedes engko mules”.
Ingin ku berkata pada mereka: gaes, plis,
this is Jogja, yunow???
Setelah nasi goreng kami jadi,
bapaknya nyeletuk: hati-hati, ya, pedes
banget itu. Oke baik. Tapi sampai di situ perasaan saya masih belum yakin,
nih. Baru pas sampai di hotel, saat kami dicemberutin Mas Dani karena bawa
istrinya sampai dini hari, dan nggak pamit pula (mbabila juga sih lupa pamit segala
kalo mau nonton pertunjukan, kite mah jomblo freestyle nggak ada yang marahin), sumpah baru kali itu saya melihat
Mas Dani nesu dan wajahnya nggak enak
banget dilihat. Hih!!!
Balik lagi ke nasi goreng. Setelah
kami duduk bersila melingkari bungkusan nasi, kami mulai makan. Dan ternyata
apa sodara-sodara??? Saya nggak ngerti lagi dimana letak pedasnya nasi goreng
ini. Ini mana pedasnya, wahai bapak penjual nasi goreng! Ini tidak pedas sama
sekali! Ini tuh nasi goreng biasa menurut saya. Tidak pedas, sungguh tidak
pedas :(
Berbekal pengalaman nasi goreng
itu lah kami tidak kapok. Pagi ini kami sepakat makan nasi goreng. Jadilah kami
menyusuri tiap warung makan. Melewati sebuah warung kami seperti tersihir
dengan teknik berjualan mas-mas baju hitam di depan warungnya. Teknik berjualan
yang begini, nih: ayo-ayo mari silahkan
sarapannya, semua ada semua ada, nasi goreng, mi goreng, ayam goreng, ayo-ayo
silahkan...” begitulah pokoknya. Nah, ketika si mas-mas ini mengucapkan
kata nasi goreng, kami seperti terhipnotis. Masuk aja gitu kita ke warungnya.
Saat mas pemilik warung sibuk
mengambilkan daftar menu, kami celingak-celinguk. Ndilallah (lagi) saya melirik
ke arah banner besar berisikan menu dan harganya di sebelah kiri saya. Mata
saya tertuju pada harga nasi goreng ayam. Saya melotot. Nasi Goreng Ayam
......... Rp 30.000,-
Goks! Ini nasi goreng isinya apaan
bisa nyampe tiga puluh rebu? Ayamnya ayam apa? Kampus? Saya bilang ke Bibeh dan
Mbabila, mereka kayak orang yang nggak sadar gitu. Ha? Masa, sih? Mana? Mereka mengikuti
arah yang saya tunjuk. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, gaes. Kami pesan satu porsi nasi goreng
dan tiga minuman. Yup, sepiring bertiga. Yup, emang kismin banget kita.
Kami lebih ridha duit tiga puluh
ribu itu untuk makan di tempat yang kemarin (di parkiran Pasar Beringharjo)
daripada nasi goreng yang ternyata porsinya juga nggak banyak-banyak amat. Rasanya?
Harus diakui enak. Tapi mbok ya tolong masa porsi segitu harganya tiga puluh
ribu???
Missqueen mah missqueen ajaaaa~
Bukan apa-apa, gaes. Hari keempat di Jogja itu keuangan
kami sudah memasuki stadium empat. Kami bahkan belum membelikan buah tangan
untuk orang-orang terkasih kami. Ini, nih, sebenernya yang bikin ribet kalo
keluar kota. Oleh-oleh! Buah tangan! Hmmm~
Kami makan sepiring bertiga. Kami
menertawakan diri kami sendiri. Kami mulai meracau kelak harus balik lagi ke
sini dengan saldo ATM yang melimpah. Kami harus bersenang-senang, kami harus
berfoya-foya. Ndilallah (lagi), gaes,
setelah makan nasi goreng tiga puluh ribu sepiring bertiga itu energi kami kuat
hingga sore. Padahal kami jalan kaki sepanjang Jalan Malioboro, belum lagi
jalan kaki ngubek-ngubek Beringharjo. The
power of makanan mahal mah begitu. Sayang kalau dikeluarin lagi (baca: eek).
![]() |
| Penampakan nasi goreng setelah kami eksekusi |
Sebenarnya ada satu hal yang
membuat kami sungguh amat menyesal. Pas kita jalan lurus dikit, di depan Mall
Malioboro ternyata berderet-deret gerobak penjual bubur ayam. Tadi Mbabila
sebenernya pingin makan bubur ayam, saya juga. Apalah daya, daya juang kami
memang lemah. Padahal kalau mau jalan kaki dikit bakal ketemu. Padahal kalau
mau berjuang dikit bakal kesampaian.
Nah, pesan moral apa yang bisa
kalian petik dari cerita saya ini?
Nggak ada! Udah baca mah baca
aja, jangan pusing mikirin pesan moral. Pesan moral juga nggak pusing mikirin
kita.
![]() |
| Ekspresi kami setelah mengeksekusi |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar