Rabu, 17 Oktober 2018

Nasi Goreng Tiga Puluh Ribu

Hari keempat di Jogja Fitriya memilih untuk pulang terlebih dahulu. Saya terbangun ketika penghuni kamar sibuk berkemas. Saat bangun saya lupa entah Bibeh atau Mbabila yang bertanya kepada saya, “ikut ke stasiun, nggak?” saya yang masih setengah sadar langsung aja menjawab “ayo, sekalian pulangnya ke malioboro.” Semua sepakat. Kesambet apaaaaaaaa saya ngomong gitu. Tapi ya memang kami belum ke Malioboro sama sekali.

Selesai cuci muka dan gincuan, kami turun dari kamar. Driver gocar sudah sampai. Jumat pagi yang syahdu itu kami bertolak ke Lempuyangan. Mengantar Fitriya yang akan pulang ke kampung halaman. Bibeh duduk sebelah driver, kami bertiga duduk di belakang.

Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba driver kami mulai berbicara. Saya yang memang setengah sadar, ditambah pula tertiup angin pagi yang segar, agak nggak konsentrasi mendengarkan percakapan. Yang saya dengar si driver ini bertanya pada kami 2019 ganti presiden nggak? Lah, buset. Dari kemarin kita pulang dari makam, kami juga dapat driver yang pertanyaannya sama. 2019 ganti presiden nggak??? Ya awkward dooooong kita ditanya begitu.

Saya nggak ngerti, apa sebegitu nggak ada topik lainnya yang bisa dibahas? Nah iya kalo si driver ini sejalan dengan pilihan kita? Kalau enggak? Maksud saya, ini masih pagi loooh, masih enak buat bobok, nggak mau tanya yang lain gitu? Tanya kek mau sarapan dimana? Atau yang standard orang pergi ke stasiun, lah. Mau kemana? Ini enggak. 2019 ganti presiden nggak, nih??? Yaelaaaaaah. Berat amaaat. Nyangga kepala aja saya malas, pengen nyender mulu, apalagi jawab pertanyaan macam begitu.

Setelah kesengsaraan batin yang kami hadapi, sampailah kami di Lempuyangan. Setelah mengantar Fitriya sampai pintu pemeriksaan tiket, kami wefie dan berpisah. Tak lupa juga kami dada-dada. Jam tujuh pagi, belum mandi, sudah gloomy. Beberapa menit kami habiskan di stasiun untuk menetralisir perasaan. Asli bangsat sekali suasana hati pagi ini.

Setelah merasa tenang kami lanjut pesan gocar untuk ke Malioboro. Saya berdoa semoga driver kami kali ini nggak ngeselin nanya-nanya 2019 ganti presiden atau tidak. Dan, ya. Nggak ngeselin sih emang, beliau lebih kalem dan irit bicara. Kita juga yang masih sebel sama suasana di mobil pertama tadi lagi puasa ngomong, tambah suara saya dan Bibeh serak-serak banjir, malas ngomong panjang lebar.

Kami turun di halte Malioboro. Pertama turun yang saya cari adalah plang tulisan Jalan Malioboro yang seingat saya ada di ujung jalan. Ya, ini kunjungan kedua saya di Jogja. Dulu pernah ke Jogja untuk KKL rasa liburan pas kuliah. Dan saya baru menyadari ada yang berubah dari Jalan Malioboro ini. Trotoar sudah semakin lebar. Tata kota lebih rapi. Sudah ada banyak kursi santai di area pedestrian. Di trotoar-trotoar ini pun berjejer warung makan.

Efek setelah malamnya nggak makan ditambah tadi pagi kami bertemu momen absurd yang meguras emosi jiwa, kami lapar. Kami ingin makan makanan yang nggak manis! Kami ingin makan makanan yang gurih, yang pedas, pokoknya nggak manis!!! Bayangin aja, gaes. Malam hari kedua, setelah pulang dari nonton panggung kebudayaan, kami beli nasi goreng. Bapak yang punya warung nanya: pedes nggak? Saya jawab: pedes, pak, pedes banget. Oke, tolong di bold dan underline jawaban saya ke bapaknya. Pedes, pak, pedes banget. Teman-teman menatapku dengan ekspresi “ojo pedes-pedes engko mules”. Ingin ku berkata pada mereka: gaes, plis, this is Jogja, yunow???

Setelah nasi goreng kami jadi, bapaknya nyeletuk: hati-hati, ya, pedes banget itu. Oke baik. Tapi sampai di situ perasaan saya masih belum yakin, nih. Baru pas sampai di hotel, saat kami dicemberutin Mas Dani karena bawa istrinya sampai dini hari, dan nggak pamit pula (mbabila juga sih lupa pamit segala kalo mau nonton pertunjukan, kite mah jomblo freestyle nggak ada yang marahin), sumpah baru kali itu saya melihat Mas Dani nesu dan wajahnya nggak enak banget dilihat. Hih!!!

Balik lagi ke nasi goreng. Setelah kami duduk bersila melingkari bungkusan nasi, kami mulai makan. Dan ternyata apa sodara-sodara??? Saya nggak ngerti lagi dimana letak pedasnya nasi goreng ini. Ini mana pedasnya, wahai bapak penjual nasi goreng! Ini tidak pedas sama sekali! Ini tuh nasi goreng biasa menurut saya. Tidak pedas, sungguh tidak pedas :(

Berbekal pengalaman nasi goreng itu lah kami tidak kapok. Pagi ini kami sepakat makan nasi goreng. Jadilah kami menyusuri tiap warung makan. Melewati sebuah warung kami seperti tersihir dengan teknik berjualan mas-mas baju hitam di depan warungnya. Teknik berjualan yang begini, nih: ayo-ayo mari silahkan sarapannya, semua ada semua ada, nasi goreng, mi goreng, ayam goreng, ayo-ayo silahkan...” begitulah pokoknya. Nah, ketika si mas-mas ini mengucapkan kata nasi goreng, kami seperti terhipnotis. Masuk aja gitu kita ke warungnya.

Saat mas pemilik warung sibuk mengambilkan daftar menu, kami celingak-celinguk. Ndilallah (lagi) saya melirik ke arah banner besar berisikan menu dan harganya di sebelah kiri saya. Mata saya tertuju pada harga nasi goreng ayam. Saya melotot. Nasi Goreng Ayam ......... Rp 30.000,-

Goks! Ini nasi goreng isinya apaan bisa nyampe tiga puluh rebu? Ayamnya ayam apa? Kampus? Saya bilang ke Bibeh dan Mbabila, mereka kayak orang yang nggak sadar gitu. Ha? Masa, sih? Mana? Mereka mengikuti arah yang saya tunjuk. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, gaes. Kami pesan satu porsi nasi goreng dan tiga minuman. Yup, sepiring bertiga. Yup, emang kismin banget kita.

Kami lebih ridha duit tiga puluh ribu itu untuk makan di tempat yang kemarin (di parkiran Pasar Beringharjo) daripada nasi goreng yang ternyata porsinya juga nggak banyak-banyak amat. Rasanya? Harus diakui enak. Tapi mbok ya tolong masa porsi segitu harganya tiga puluh ribu???

Missqueen mah missqueen ajaaaa~

Bukan apa-apa, gaes. Hari keempat di Jogja itu keuangan kami sudah memasuki stadium empat. Kami bahkan belum membelikan buah tangan untuk orang-orang terkasih kami. Ini, nih, sebenernya yang bikin ribet kalo keluar kota. Oleh-oleh! Buah tangan! Hmmm~

Kami makan sepiring bertiga. Kami menertawakan diri kami sendiri. Kami mulai meracau kelak harus balik lagi ke sini dengan saldo ATM yang melimpah. Kami harus bersenang-senang, kami harus berfoya-foya. Ndilallah (lagi), gaes, setelah makan nasi goreng tiga puluh ribu sepiring bertiga itu energi kami kuat hingga sore. Padahal kami jalan kaki sepanjang Jalan Malioboro, belum lagi jalan kaki ngubek-ngubek Beringharjo. The power of makanan mahal mah begitu. Sayang kalau dikeluarin lagi (baca: eek). 

Penampakan nasi goreng setelah kami eksekusi

Sebenarnya ada satu hal yang membuat kami sungguh amat menyesal. Pas kita jalan lurus dikit, di depan Mall Malioboro ternyata berderet-deret gerobak penjual bubur ayam. Tadi Mbabila sebenernya pingin makan bubur ayam, saya juga. Apalah daya, daya juang kami memang lemah. Padahal kalau mau jalan kaki dikit bakal ketemu. Padahal kalau mau berjuang dikit bakal kesampaian.

Nah, pesan moral apa yang bisa kalian petik dari cerita saya ini?

Nggak ada! Udah baca mah baca aja, jangan pusing mikirin pesan moral. Pesan moral juga nggak pusing mikirin kita.

Ekspresi kami setelah mengeksekusi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar