Minggu, 28 Oktober 2018

Menyudahi Basa-Basi

Dua ribu delapan belas ini tidak henti-hentinya peristiwa panas terjadi di Indonesia. Saya hanya bisa ambekan dalam-dalam. Betapa lelahnya Ibu Pertiwi~

Baik, saya tidak akan membahas hal-hal yang menyebabkan Ibu Pertiwi lelah. Saya akan membahas yang ringan-ringan saja, yang sudah tentu relate dengan kehidupan kawula muda sekalian. Saya akan membagikan sedikit cerita tentang bagaimana mengakhiri basa-basi tidak jelas saat berkenalan dengan orang baru.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya sempat dikenalkan dengan seorang laki-laki oleh tante saya. Sebenarnya tante sudah membahas masalah ini jauh beberapa bulan yang lalu. Dulu tante pernah bertanya apakah saya punya pacar atau tidak, dan tante saya bilang bawa keponakan kakak iparnya tengah mencari calon istri. Saya yang waktu itu merasa hal tersebut hanya sebatas perkataan, tidak menanggapi dengan serius.
Ndilallah, setelah saya mulai bekerja, pesan itu datang lagi. Tante meminta ijin untuk memberikan nomor saya pada kakak iparnya. Singkat cerita kakak ipar tante yang saya panggil bude itu menelpon. Saya tahu beliau, tapi tidak akrab. Beberapa kali sempat bertemu di rumah Lateng. Beliau mengungkapkan semua niat baiknya. Syukur kalau cocok, kalau enggak ya bisa nambah teman, kata bude.

Saya hanya mengiyakan sepanjang bude menelpon. Saya paham maksud dan tujuan beliau. Saya juga bukan anak kemarin sore lagi, yang jengkel kalau dijodoh-jodohin. Akhirnya keponakan bude tersebut menghubungi saya. Kamis kami saling kontak, besoknya kami ketemu. Saya masih ingat betul harinya, karena di hari kami bertemu saya pakai batik.

First impression saat si laki-laki ini chat adalah: tidak menarik perhatian saya. Dan benar, chat-chat selanjutnya semakin membuat saya tidak tertarik. Saya bingung kenapa laki-laki suka sekali merendahkan diri mereka di hadapan perempuan. Saya nggak suka laki-laki macam ini. Perlu banget apa bilang “aku jelek mbak”. Ya kalau mau cakep mah oplas dulu mas, jawab saya. Chat-chat selanjutnya hanya bersifat formalitas.

Dia mengajak untuk bertemu sebelum pulang ke tempat kerjanya, Kalimantan. Saya mengiyakan. Besoknya kami bertemu. Dia jemput saya di depan kantor. Setelah menunggu dia salat maghrib kami bertolak ke Hore. Beruntungnya dia tidak membosankan seperti di chat. Dia adalah kawan bicara yang asyik. Pengalamannya bekerja di perkebunan banyak menarik perhatian saya.

Setelah berbicara kesana-kemari, saya mulai mengutarakan uneg-uneg. Saya tidak ingin bertele-tele dan berlama-lama. Berbekal pengalaman yang sudah-sudah, saya menjelaskan bahwa keinginan untuk menikah masih sangat lama. Sedangkan laki-laki di hadapan saya ini berada dalam posisi –kalau bisa– ingin segera menikah. Ya Allah, kenapa saya selalu dihadapkan pada laki-laki yang pingin nikah cepet, sih.

Saya berteman dengan siapa saja. Tapi jujur untuk hubungan serius masih terlalu jauh. Saya menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah paham. Saya juga tidak ingin berada dalam situasi hubungan: kenalan, chat tiap hari, salah satu ada yang baper. Duh, saya capek kalau harus begitu. Oleh sebab itu saya akan bicara terus terang di awal. Kita realistis aja lah. Orang kenalan, pedekate, tujuannya buat apa, sih? Pacaran atau nikah. Ya, kan? Kalau enggak ya ngapain juga gitu buang waktu buang energi buat balesin chat tiap hari. Buat temenan? Temen mana ada chat tiap hari.

Semoga kisah dari saya ini dapat menjadi referensi bagi kawan-kawan. Jika memang kalian sedang dalam masa tidak ingin serius, bicarakan di awal. Agar apa? Itu tadi, kita tidak terjebak dalam suasana melodrama yang menyebalkan. Saran saya hanya satu, jangan membuat orang lain merasa diberi harapan. Kenapa saya bilang begini? Saya belajar dari pengalaman. Dulu saya bodoh banget masa. Menggantung anak manusia dengan ketidakpastian~

Tapi jangan kemudian kamu sudah bilang bahwa ngga mau hubungan serius dulu, eh besoknya dideketin yang lebih ganteng iya juga. Itu sih masalah tampang aja udah. Laki-laki sebelumnya berarti nggak sedep dipandang (baca: kurang tampan).

Laki-laki flirting mah biasa, semua tergantung kitanya gimana. Saya dihadapkan dengan laki-laki genit, malah saya balas (tergantung, sih, yang flirting ganteng apa jelek). Urusan dia baper ya bukan urusan saya. Kalau dia nggak baper? Berarti saya emang nggak menarik, wkwkwk. Nah, begitu juga sebaliknya. Kalau ada laki-laki genit, ngegombal, basa-basi, terus kitanya kebawa perasaan, ya wassalam. Kita cenderung akan ngeladenin dia terus. Nggak di chat sehari udah bingung kek batre hape udah low tapi nggak nemu colokan atau powerbank. Perempuan kan gitu, ya? Mereka tuh bangga gitu kalau mereka didekati lebih dari satu laki-laki. It was like, I am the most beautiful woman in the world, hahahambel.

Saya, sih, tidak ada masalah. Karena pada dasarnya perempuan memang suka dipuji. Yang jadi masalah kemudian adalah ketika perempuan didekati hanya karena fisik yang mereka miliki. Example: face and body. Ya memang saya akui hal pertama yang bisa dilihat adalah wajah kita. Hal-hal yang ada dalam diri kita akan dikenali seiring berjalannya waktu.

Tapi, kan, tapi, kan, nggak cuma ituuu~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar