Minggu, 03 Maret 2019

Kekerasan Gender Berbasis Online

Hari Minggu saya kali ini sungguh menyenangkan. Saya mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh kawan-kawan Aji Jember dan Safenet. Pelatihan ‘Melindungi Diri Dari Kekerasan Onlie’ yang diselenggarakan di kafe Isun Ikai. Saya bertemu dengan empat belas perempuan yang sama sekali asing bagi saya, kecuali Bu Fatma, Mbabila dan Bibeh. Kami bertiga terlambat beberapa menit, saat kami datang, Mbak Ika (pemateri) sedang melakukan dialog dengan peserta terkait kekerasan online yang pernah mereka alami. Hampir semua peserta pernah memiliki pengalaman menerima kekerasan secara online. Semuanya bercerita, tidak ada yang tidak. Dan kasus yang mereka alami juga beragam. Mulai dari peretasan, penipuan, pemerasan, pelecehan seksual, pengancaman, dan lain sebagainya.

Saya yang mendengarkan secara langsung mereka bercerita kemudian menyadari bahwa hal-hal seperti itu tidak hanya saya lihat di televisi atau saya baca di berita. Teman-teman perempuan (yang tadi berkumpul dan duduk bersama saya) di Banyuwangi pun banyak yang mengalaminya. Dan fenomena ini juga seperti fenomena gunung es. Sedikit saja yang terlihat, yang tidak terlihat masih sangat banyak. Artinya juga masih sedikit perempuan yang berani bercerita dan berani untuk melapor kepada pihak yang berwajib. Sisanya mungkin justru mereka pendam sendiri karena merasa hal tersebut adalah sesuatu yang memalukan untuk dibagi.

Saya juga ingin berbagi sedikit pengalaman pelecehan seksual berbasis online yang pernah saya alami. Kejadiannya saat berada di Jogja bersama Komunitas Pegon tempo hari. Setelah tiba di Jogja dan mendapat tempat menginap saya mencuitkan twit di twitter, ya seperti biasa, ngetwit bahwa saya dan kawan-kawan sudah berada di Yogyakarta.

Tidak lama setelah saya ngetwit, ada DM masuk. Direct message dari akun yang saya yakini adalah boot. Model-model akun yang otomatis merespon ketika ada keywords yang muncul. Dan keywords saya adalah Yogyakarta. Akun ini menawarkan jasa pijat plus-plus di daerah Jogja, dengan poto sampulnya adalah kelamin laki-laki dan sudah bisa ditebak bagaimana isi timelinennya. DM tersebut tidak saya respon, langsung saya report. Sebenarnya kasus saya itu masih paling ringan dibanding dengan kasus-kasus saudari saya yang hadir pada saat itu. Kasus mereka sungguh membuat saya bergidik.

Kepada kami Mbak Ika memberikan materi tentang Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) dan beberapa tips dan trik untuk mengamankan akun-akun media sosial kita. Saya tidak akan menjelaskan dengan sangat rinci apa saja materi yang kita dapat tadi, nanti akan saya bagikan saja kepada kawan-kawan link materi tadi siang, dan sila unduh sendiri. (materi pelatihan download di sini)

Berbicara tentang kekerasan pada perempuan saya teringat data yang disajikan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) tentang laporan tahun 2018. Di sana disajikan sebuah presentase yang membuat saya ngelus dodo. Angka kematian perempuan yang berasal dari intimidasi pasangan sebesar 34%. Kemudian intimidasi dari anggota keluarga sebesar 24%.

Juga banyak data-data memprihatinkan yang bisa kita lihat di Komnas Perempuan dan Anak terkait angka kekerasan pada perempuan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi kita. Bagaimana kita harus mengedukasi para perempuan agar mereka mau untuk speak up melawan kekerasan atau melawan ketidak adilan gender yang mereka alami. Perempuan di Indonesia ini, kan, terkotak oleh konstruksi sosial yang tidak ramah perempuan. Sejak zaman penjajahan kita sudah dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, yang tidak memiliki akses pendidikan, yang tidak memiliki hak untuk bersuara atau menentukan pilihan, celakanya kemudian konstruksi sosial kita terbangun sedemikian rupa selama bertahun-tahun.

Perempuan dilabeli sebagai sosok yang lemah, bodoh, cengeng, sehingga para lelaki merasa memiliki superioritas terhadap perempuan dan merasa sah-sah saja merendahkan perempuan. Padahal tidak begitu. Jika mau belajar dan mau membaca lebih banyak lagi referensi, kita akan menemukan narasi-narasi dalam agama saya −yang kebetulan Islam− bahwa perempuan dan laki-laki itu sama. Bahkan ada satu surah dalam Qur’an yang menyebutkan bahwa yang paling mulia diantara manusia adalah mereka yang paling bertakwa. Dari surah ini kita bisa tahu bahwa Allah saja tidak membedakan umatnya, entah perempuan atau laki-laki. Karena yang membedakan kita hanyalah ketakwaan kita, keimanan kita.

Ini yang selalu ingin saya sebarkan kepada teman-teman perempuan saya. Menyebarkan semangat untuk melawan ketidak adilan terhadap gender. Kita sudah terlalu lama terpuruk atas nama patriarki. Perempuan direndahkan, dilecehkan, dijadikan dirinya bodoh, dijadikan dirinya gagap teknologi. Semata agar apa? Ya agar perempuan tunduk dalam lutut laki-laki pengecut, yang tidak ingin dirinya tersaingi, yang tidak ingin dirinya kalah unggul.

Minimal semua perempuan ini menyadari bahwa kekerasan terhadap kaumnya yang disebabkan oleh ketidak adilan gender, itu ada, banyak. Itu saja. Silahkan jika ingin berbicara bahwa porsi laki-laki dan perempuan itu berbeda. Ada hal-hal yang memang perempuan bergantung kepada laki-laki, dan sebaliknya. Kita bisa menyadari hal-hal seperti itu tapi juga harus menyadari bahwa tidak selamanya kita bisa bergantung pada laki-laki. Itulah sebabnya saya tak sepakat dengan ungkapan ‘di balik pria sukses terdapat perempuan hebat’. Kenapa kita harus ada di posisi di belakang laki-laki?

Memangnya kamu tahu apa tentang kekerasan seksual yang menimpa perempuan? Kamu tahu rasanya diperkosa? Kamu tahu rasanya diancam bakal disebarin poto-poto telanjang kamu oleh mantan pacar kalau kamu nggak mau bersetubuh lagi dengannya?

Kenapa saya harus menunggu diperkosa dulu untuk boleh speak up tentang kekerasan seksual pada perempuan? Kenapa saya harus menunggu diancam dulu baru boleh berempati pada kasus ini? Speak up tentang kekerasan yang menimpa kaum saya tidak perlu menunggu kita ‘jadi korban’ dulu, kan?

Masalah yang datang pada perempuan itu kompleks, tidak bisa sesederhana capek bekerja lantas menikah, dan wuuuuzzz, hilang semua masalah kita pada saat melajang dulu. Kita hidup dengan label-label sosial yang berlaku dalam masyarakat. Apabila kita tidak berlaku layaknya perempuan pada umumnya, kita akan dikritik. Apabila kita bertindak mendobrak kebiasaan-kebiasaan, kita akan dicibir. Menjadi perempuan tak pernah semudah itu. Tingkah laku kita diawasi dua puluh empat jam oleh cangkem masyarakat. Salah sedikit, habis kita dicaci maki.

Sebab itulah, karena menjadi perempuan tak pernah sesederhana itu, maka kita harus menyadari bahwa kita ini juga manusia yang dijamin haknya oleh Tuhan. Sesama perempuan mari saling menguatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar