Saya yang mendengarkan secara
langsung mereka bercerita kemudian menyadari bahwa hal-hal seperti itu tidak
hanya saya lihat di televisi atau saya baca di berita. Teman-teman perempuan
(yang tadi berkumpul dan duduk bersama saya) di Banyuwangi pun banyak yang mengalaminya.
Dan fenomena ini juga seperti fenomena gunung es. Sedikit saja yang terlihat,
yang tidak terlihat masih sangat banyak. Artinya juga masih sedikit perempuan
yang berani bercerita dan berani untuk melapor kepada pihak yang berwajib.
Sisanya mungkin justru mereka pendam sendiri karena merasa hal tersebut adalah
sesuatu yang memalukan untuk dibagi.
Saya juga ingin berbagi sedikit
pengalaman pelecehan seksual berbasis online yang pernah saya alami. Kejadiannya
saat berada di Jogja bersama Komunitas Pegon tempo hari. Setelah tiba di Jogja
dan mendapat tempat menginap saya mencuitkan twit di twitter, ya seperti biasa,
ngetwit bahwa saya dan kawan-kawan sudah berada di Yogyakarta.
Tidak lama setelah saya ngetwit,
ada DM masuk. Direct message dari akun yang saya yakini adalah boot. Model-model
akun yang otomatis merespon ketika ada keywords yang muncul. Dan keywords saya
adalah Yogyakarta. Akun ini menawarkan jasa pijat plus-plus di daerah Jogja,
dengan poto sampulnya adalah kelamin laki-laki dan sudah bisa ditebak bagaimana
isi timelinennya. DM tersebut tidak saya respon, langsung saya report. Sebenarnya
kasus saya itu masih paling ringan dibanding dengan kasus-kasus saudari saya
yang hadir pada saat itu. Kasus mereka sungguh membuat saya bergidik.
Kepada kami Mbak Ika memberikan
materi tentang Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) dan beberapa tips dan
trik untuk mengamankan akun-akun media sosial kita. Saya tidak akan menjelaskan
dengan sangat rinci apa saja materi yang kita dapat tadi, nanti akan saya
bagikan saja kepada kawan-kawan link materi tadi siang, dan sila unduh sendiri. (materi pelatihan download di sini)
Berbicara tentang kekerasan pada
perempuan saya teringat data yang disajikan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) tentang laporan tahun
2018. Di sana disajikan sebuah presentase yang membuat saya ngelus dodo. Angka kematian perempuan
yang berasal dari intimidasi pasangan sebesar 34%. Kemudian intimidasi dari
anggota keluarga sebesar 24%.
Juga banyak data-data
memprihatinkan yang bisa kita lihat di Komnas Perempuan dan Anak terkait angka
kekerasan pada perempuan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar
bagi kita. Bagaimana kita harus mengedukasi para perempuan agar mereka mau
untuk speak up melawan kekerasan atau
melawan ketidak adilan gender yang mereka alami. Perempuan di Indonesia ini,
kan, terkotak oleh konstruksi sosial yang tidak ramah perempuan. Sejak zaman
penjajahan kita sudah dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, yang tidak
memiliki akses pendidikan, yang tidak memiliki hak untuk bersuara atau
menentukan pilihan, celakanya kemudian konstruksi sosial kita terbangun
sedemikian rupa selama bertahun-tahun.
Perempuan dilabeli sebagai sosok
yang lemah, bodoh, cengeng, sehingga para lelaki merasa memiliki superioritas
terhadap perempuan dan merasa sah-sah saja merendahkan perempuan. Padahal tidak
begitu. Jika mau belajar dan mau membaca lebih banyak lagi referensi, kita akan
menemukan narasi-narasi dalam agama saya −yang kebetulan Islam− bahwa perempuan
dan laki-laki itu sama. Bahkan ada satu surah dalam Qur’an yang menyebutkan
bahwa yang paling mulia diantara manusia adalah mereka yang paling bertakwa.
Dari surah ini kita bisa tahu bahwa Allah saja tidak membedakan umatnya, entah
perempuan atau laki-laki. Karena yang membedakan kita hanyalah ketakwaan kita,
keimanan kita.
Ini yang selalu ingin saya
sebarkan kepada teman-teman perempuan saya. Menyebarkan semangat untuk melawan
ketidak adilan terhadap gender. Kita sudah terlalu lama terpuruk atas nama
patriarki. Perempuan direndahkan, dilecehkan, dijadikan dirinya bodoh,
dijadikan dirinya gagap teknologi. Semata agar apa? Ya agar perempuan tunduk
dalam lutut laki-laki pengecut, yang tidak ingin dirinya tersaingi, yang tidak
ingin dirinya kalah unggul.
Minimal semua perempuan ini
menyadari bahwa kekerasan terhadap kaumnya yang disebabkan oleh ketidak adilan
gender, itu ada, banyak. Itu saja. Silahkan jika ingin berbicara bahwa porsi
laki-laki dan perempuan itu berbeda. Ada hal-hal yang memang perempuan
bergantung kepada laki-laki, dan sebaliknya. Kita bisa menyadari hal-hal
seperti itu tapi juga harus menyadari bahwa tidak selamanya kita bisa
bergantung pada laki-laki. Itulah sebabnya saya tak sepakat dengan ungkapan ‘di
balik pria sukses terdapat perempuan hebat’. Kenapa kita harus ada di posisi di
belakang laki-laki?
Memangnya kamu tahu apa tentang kekerasan seksual yang menimpa
perempuan? Kamu tahu rasanya diperkosa? Kamu tahu rasanya diancam bakal disebarin
poto-poto telanjang kamu oleh mantan pacar kalau kamu nggak mau bersetubuh lagi
dengannya?
Kenapa saya harus menunggu
diperkosa dulu untuk boleh speak up
tentang kekerasan seksual pada perempuan? Kenapa saya harus menunggu diancam
dulu baru boleh berempati pada kasus ini? Speak
up tentang kekerasan yang menimpa kaum saya tidak perlu menunggu kita ‘jadi
korban’ dulu, kan?
Masalah yang datang pada
perempuan itu kompleks, tidak bisa sesederhana capek bekerja lantas menikah,
dan wuuuuzzz, hilang semua masalah kita pada saat melajang dulu. Kita hidup
dengan label-label sosial yang berlaku dalam masyarakat. Apabila kita tidak
berlaku layaknya perempuan pada umumnya, kita akan dikritik. Apabila kita
bertindak mendobrak kebiasaan-kebiasaan, kita akan dicibir. Menjadi perempuan
tak pernah semudah itu. Tingkah laku kita diawasi dua puluh empat jam oleh cangkem masyarakat. Salah sedikit, habis
kita dicaci maki.
Sebab itulah, karena menjadi
perempuan tak pernah sesederhana itu, maka kita harus menyadari bahwa kita ini
juga manusia yang dijamin haknya oleh Tuhan. Sesama perempuan mari saling
menguatkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar