Rabu, 27 Februari 2019

Patah Hati dan Obatnya

Kemarin saya nonton vlog Raditya Dika yang bersama dengan Luna Maya. Sebagai pengangguran tak kasat mata, saya punya banyak waktu untuk selonjoran dan menonton video-video dari beberapa public figur di Indonesia yang mulai punya channel youtube sendiri. Raditya Dika salah satunya. Komika kesayangan saya sejak zaman sekolah SMK.

Pada video yang telah dilihat oleh 1,4 juta penonton sampai saya menulis catatan ini (padahal baru tiga hari yang lalu tuh video naik), ada satu pertanyaan yang ditanyakan Radit pada Luna Maya. Pertanyannya adalah:



 Kalian bisa melihat jawaban Luna Maya di video tersebut. Cek sendiri, ya, gaes~

Catatan ini sebenarnya juga akan menjawab pertanyaan Radit, tapi versi saya dan sobat-sobat WhatsApp.

Sebelum saya berbagi tentang pengalaman patah hati, ada baiknya kita luruskan terlebih dahulu konotasi patah hati ini patah yang disebabkan oleh apa? Nah, yang ingin saya bahas di catatan ini adalah patah hati secara umum. Ya bisa karena asmara, karena pertemanan, atau apapun, bebas. Yha terus ngapain dilurus-lurusin segala, Rehanaaa~

Sumber: Twitter

Tentu kita semua pernah mengalami yang namanya patah hati. Ya, nggak? Ya, dong. Ya, kan? Ya, laaah. Saya juga begitu, pernah mengalami segala rupa patah hati. Saya patah hati saat mengetahui bahwa sahabat SD saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP yang sama dengan saya dan dua sahabat saya lainnya. Saya ingat betul waktu itu saya menangis. Memang pada dasarnya saya hobi menangis, sih. Hobi kok nangeees~

Saya patah hati ketika saya mengetahui adik saya sempat dihajar bapak habis-habisan karena tidak mau bersekolah. Saya patah hati melihat Ardi menangis histeris. Padahal waktu itu saya masih sekolah dasar, masih terlalu kecil untuk sanggup melihat kekerasan-kekerasan semacam itu.

Dan ini adalah patah hati terhebat saya yang sampai saat ini jika mengingat kejadian itu saya benar-benar merasa sakit hati, merasa bersalah dan menangis. Saat saya melihat Ardi terjatuh dari tangga rumah bude. Waktu itu saya seperti biasa sedang bermain di lantai dua, di rumah salah satu tetangga di Krasak, tetangga yang biasa saya panggil bude. Saya bermain bersama beberapa teman di sebuah kamar di lantai dua itu. Saya yang mengetahui bahwa Ardi datang menyusul, berusaha untuk bersembunyi. Saya mendengar Ardi mengetuk pintu kamar beberapa kali dan saya tidak membukanya. Waktu itu niatnya memang hanya bercanda. Kemudian setelah beberapa lama, saya tidak lagi mendengar ketukan. Saya berpikir bahwa Ardi pulang.

Saya memutuskan untuk menyudahi bermain dan keluar kamar. (ngetiknya sambil berurai air mata, gaes, saya sensitif banget dengan kejadian ini) Alangkah terkejutnya saya ketika akan turun dan melihat Ardi sudah terkapar di dasar lantai sana. Darah segar keluar dari hidung dan entah dari mana lagi. Tangga rumah bude itu memang tidak tinggi, tapi jarak antara satu anak tangga dengan anak tangga lainnya cukup tinggi. Saya membayangkan anak sekecil Ardi (waktu itu dia belum sekolah) harus menaiki tangga itu kemudian memutuskan untuk turun, karena dia tidak kunjung mendapati pintu kamar yang dia ketuk berulang kali tadi terbuka. Saya panik, takut, bingung, hingga kemudian bude mengetahui kejadian tersebut. Saya lupa persisnya setelah itu bagaimana, yang jelas saya tidak berani menghadap bapak ibu. Saya tidak mau pulang. Saya takut mereka marah. Saya bersembunyi entah berapa lama di sebuah undak-undakan dimana di bawahnya adalah aliran sungai yang deras. Undak-undakan itu berada dibalik pintu belakang rumah bude. Saya mendengar ibu saya menangis, tapi saya lupa bagaimana reaksi bapak.

Kejadian itu benar-benar melukai hati saya. Ardi banyak mendapatkan luka dalam, karena kecerobohan saya itu, tangan kanan atau kirinya saya lupa, menjadi bengkok. Ya, dia mengalami patah tulang. Bapak dan ibu membawa Ardi ke sangkal putung, Gintangan. Yang saya ketahui nama bapak yang mengobati Ardi adalah Bapak Jumali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua saya waktu melihat keadaan Ardi pertama kali. Berulang kali saya mengutuki diri saya sendiri. Andai saja waktu itu saya tidak bermain di lantai dua. Andai saja waktu Ardi mengetuk pintu saya segera membuka. Andai saja ...


Sumber: Twitter

Sampai hari ini saya terus menyesali kejadian itu. Dan, mungkin karena kejadian itu lah saya menjadi sangat protektif terhadap Fahri, adik kedua saya yang saat ini berusia tujuh tahun. Beberapa waktu yang lalu saat jemput Fahri sekolah saya mendengar salah seorang ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang sekolah berkata pada beberapa anak yang sudah keluar “Mau sopo sing nangis?” anak tersebut menjawab yang hanya samar saya mendengarnya “Fahriza”. Saya berusaha santai, karena di kelas satu ada dua anak yang bernama Fahri. Ah, paling Fahri yang lain, pikir saya. Saat sudah jam 10 lebih Fahri tak kunjung keluar, saya bertanya pada Damar, teman sekolahnya. Damar bilang Fahri ada di kantor sedang menangis karena bertengkar.

Deg. Saya sudah panik dan segera masuk ke sekolah. Saya datangi ruang kantor dan mendapati Fahri tengah duduk di sebelah wali kelasnya, Bu Eka, sambil makan keripik tempe. Ketika saya melongok ke ruangan itu dan mata saya dan Fahri bertatap, dia kembali menangis. Aduuuh, itu hati saya sudah nggak karu-karuan, gaes. Segera saya datangi Fahri dan Bu Eka menjelaskan kejadiannya secara jelas. Sambil Bu Eka menjelaskan, saya sambil berusaha menahan air mata yang rasanya mau tumpah. “Biasa, mbak, Fahriza ini kan anaknya sensitif, lha terus temannya itu memang suka usil,” kata Bu Eka menyelesaikan kalimatnya. Adik dan kakak sama-sama sensitif :(

Saya patah hati saat melihat anak-anak kecil berkelahi dengan kawan mereka. Seperti kejadian di Blambangan tempo hari. Waktu itu saya dan Donat sedang menunggu Lia. Sembari menuggu tersebut saya melihat gerombolan anak-anak yang sedang bermain. Tidak lama setelahnya salah satu anak menangis entah karena apa, saya kurang memerhatikan. Hati saya berontak melihat yang demikian, gaes. Saya orangnya nggak bisaan. Saya memutuskan untuk menghampiri anak-anak tersebut dan bertanya ada apa. Beberapa bocah menjawab pertanyaan saya, hingga kemudian saya tahu penyebabnya. Begitulah, akhirnya saya sok menjadi mbak-mbak yang menenangkan anak yang menangis ini dan menjinakkan teman yang kata teman-temannya ‘nakal’ sehingga membuat si anak tadi menangis. Dan akhirnya mereka baikan dan kembali bermain. Saya nggak tahu, tapi naluri itu muncul secara tiba-tiba.

Atau seperti kemarin saat menjemput Fahri ngaji, saya melihat beberapa anak terlibat pertengkaran. Saya dan salah seorang ibu-ibu yang juga menjemput anaknya ngaji berusaha untuk menghentikan pertikaian mereka. Saya nggak senang aja melihat kekerasan sesama teman begitu. Apalagi mereka masih kecil.

Saya juga patah hati apabila melihat ibu-ibu yang dengan mudahnya memarahi anak mereka di depan umum. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut si ibu ini nggak bisa dibilang halus. Ya saya mengerti tipikal ngomel-ngomelnya Wong Osing memang begitu, tapi tetap saja saya nggak bisa terima. Kalau mau ngomel-ngomel mending jangan di depan saya gitu, lho.

Jadi, ada dua kejadian yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama masih di area sekolah Fahri. Seperti biasa saya waktu itu sedang menunggu dia pulang. Ada salah satu anak yang keluar dari sekolah dan menghampiri ibunya yang menunggu di pos kamling depan sekolah. Lalu beberapa menit kemudian saya mendengar si ibu berkata dengan suara keras dan mulai memukul-mukul muka si anak (bahasa jawanya itu ditapuk gitu, gaes). Saya yang melihat jelas kejadian itu hanya bisa metek dodo. Saya melihat wajah si anak yang menahan tangis, dan pasti juga malu karena di sekitar kejadian banyak anak-anak yang lain. Masalahnya sepele, si anak meminta uang jajan lagi untuk membeli sesuatu. Bagi saya seorang anak meminta uang untuk jajan itu hal yang sepele, tapi menjadi tidak sepele ketika reaksi yang si ibu tunjukkan sedemikian rupa. Kenapa? Kenapa harus memukul-mukul anak? Jika memang tidak ada uang, atau tidak berkenan memberikan uang lagi, ya bilang saja secara baik-baik. Bujuk anak agar perhatiannya bisa teralih dari uang, bukankah itu skill yang memang harus dipunyai oleh orang tua?

Kejadian kedua di tempat Ai ngaji. Saya terbiasa menunggu Ai selesai ngaji di tempat Mbak Fitri berjualan. Nah, pernah satu hari saat sedang menunggu, saya melihat ada Candra di sekitar Mbak Fitri. Candra ini anak Mbak Fitri, dan usianya kira-kira masih empat tahunan, lah. Saya nggak paham apakah Mbak Fitri adalah tipe orang tua yang pilih kasih atau bagaimana, tapi yang saya lihat sikapnya ke Candra selalu kasar, berbeda dengan sikapnya ke anak yang terakhir, saya lupa namanya. Waktu itu Candra dan kakak sepupunya sedang menunggu Mbak Fitri berjualan. Saya nggak tahu, ya, kenapa Mbak Fitri bisa begitu keras terhadap Candra waktu itu. Saya melihat Mbak Fitri menjambak rambut Candra beberapa kali hingga tubuh anak kecil itu terduduk di tanah. Masalahnya sepele, benar-benar sepele. Candra waktu itu sedang main di tanah sambil jongkok, dia melukis-lukis tanah dengan ranting kecil. Saya tidak tahu apakah perbuatan Candra itu menyebabkan dagangan ibunya terkena debu, yang jelas sama sekali tidak, karena Candra hanya bermain dengan pelan, atau memang tabiat ibunya saja yang suka menghajar Candra. Saya melihat ekspresi Candra sama seperti saya melihat Ai mewek di kantor sekolah tempo hari. Candra langsung meringsek ke pelukan kakak sepupunya itu. Hati saya ambyaaaaar, gaes~

Saya tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang ringan tangan seperti itu. Kenapa membuat anak merasa takut bahkan berada di dekapan orang tua mereka sendiri? Saya bisa melihat Candra itu takut pada ibunya. Patah hati saya melihat hal-hal seperti ini. Ya memang saya tidak tahu ada masalah apa dalam keluarga mereka, tapi saya rasa memukul anak bukan solusi yang benar untuk melampiaskan kekesalan kita pada problematika rumah tangga.

Nah, ini lah salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menikah. Ralat, belum ingin menikah. Saya takut patah hati setiap hari pada diri saya sendiri.

Itu baru beberapa hal yang membuat saya patah hati. Masih ada beberapa, diantaranya saat saya melihat Mbah Sudjiwo Tedjo banting mic di auditorium Untag beberapa tahun lalu. Saya yang waktu itu jadi koordinator sie. acara nangis nggak bisa berhenti di pojokan. Merasa gagal aja gitu. Hiks.

Kemudian saya juga patah hati saat melihat video seorang ayah yang mengambil ijazah S1 anaknya dikarenakan si anak meninggal dunia sesaat setelah menyelesaikan sidang skripsinya. It was really broke my heart. Patah hati saat ditinggal selamanya oleh orang-orang terkasih memang sebenar-benarnya patah hati.

Saat saya tertolak oleh PT. KAI sebagai Station Announcer, itu juga saya patah hati (mana tiket berangkat ke Jember mahal banget lagi waktu itu). Hmm, pekerjaan yang saya idam-idamkan harus kembali bersabar menanti jalan yang lain. Saat gagal mengikuti tes CPNS, patah hati lagi. Saat aplikasi saya tidak bisa diproses lebih lanjut oleh Kominfo, patah hati lagi.

Patah hati saya yang lain adalah saat mendapat job ngemc tapi tidak mencapai performa terbaik saat melakukannya. Kita pasti bisa merasakan ketika kita mengerjakan sesuatu tapi kita tidak mencapai kepuasan tersendiri. Ada yang kurang. Saya juga sering seperti itu. Atau bisa juga ketika dapat tawaran jadi dubber, saya sering patah hati karena merasa saya bisa memberikan suara yang lebih baik dari itu. Ya meskipun kadang-kadang orang menilai suara saya sudah baik.

Saat mulai mengenal seorang laki-laki dan mengijinkan dia masuk ke dalam hati, saya juga patah hati dibuatnya. Pernah juga karena hal tersebut saya naik motor dari rumah ke pom bensin Karangente dengan berlinang lair mata ala ala film IndiaPatah hati karena asmara memang bangsatnya luar biasa. Dan setelah semua patah hati yang saya lalui itu, bagaimana cara saya untuk sembuh?

Saya membiarkannya begitu saja. Penolakan-penolakan, sakit dan patah hati seperti itu adalah sesuatu yang akan menguatkan kita. Saya pernah menulis perihal kerasnya kehidupan, maka kita tidak boleh lembek, harus lebih keras dan kuat. Bagaimana cara Tuhan menguatkan kita? Ya itu tadi, kita dihadapkan pada penolakan, sakit hati, patah hati.

Bagi saya, itu semua tergantung dari bagaimana kita mengatur diri kita menghadapi berbagai emosi yang datang. Nggak gampang memang untuk tetap berpikir positif di tengah cobaan hidup yang skalanya tidak tetap. Bisa jadi ringan, ringan sekali, sampai pada skala yang berat dan berat banget yawlaaa nggak kuat deh mau nikah ajaaa :(

Itulah kemudian saya lebih memilih untuk membiarkan saja, let it flow, sambil saya merenung. Gila, ternyata selama ini saya begitu kuat sehingga cobaan-cobaan yang telah lewat itu bisa saya lalui. Saya yakin cara orang untuk sembuh dari patah hati berbeda-beda. Seperti beberapa teman yang telah sharing bersama saya via WhatsApp pada malam hari ini.

Ini story WA saya malam ini

Sobat akhlakul karimah~


Pentolan BESAF emang game melulu :')



Monmaap, pak

Kalo saya nyanyi yang kesel bukan lambenya,
tapi tetangga dan anggota keluarga :')

Ngomong doang gampaaaaang :'(

Loveeeee

Tidak ada yang mudah melewati fase patah hati. Sakit yang ditimbulkan, trauma yang ditimbulkan, tidak ada yang mudah. Tapi yakinlah bahwa semua luka-luka itu akan membuat kita menjadi lebih dewasa.


School 2017

Saya tidak sedang patah hati, gaes. Bagi kalian yang menanyakan hal tersebut semalam, saya tegaskan lagi saya tidak sedang patah hati. Hati saya hanya satu dan sudah patah bolak-balik, wis kebaaal. Semalam saya hanya ingin tahu bagaimana cara kalian untuk sembuh dari patah hati, untuk kemudian saya tulis di blog tercinta saya ini. Heuheu~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar