Pada video yang telah dilihat oleh 1,4 juta penonton sampai saya menulis catatan ini (padahal baru tiga hari yang lalu tuh video naik), ada satu pertanyaan yang ditanyakan Radit pada Luna Maya. Pertanyannya adalah:
Catatan
ini sebenarnya juga akan menjawab pertanyaan Radit, tapi versi saya dan
sobat-sobat WhatsApp.
Sebelum
saya berbagi tentang pengalaman patah hati, ada baiknya kita luruskan terlebih
dahulu konotasi patah hati ini patah yang disebabkan oleh apa? Nah, yang ingin
saya bahas di catatan ini adalah patah hati secara umum. Ya bisa karena asmara,
karena pertemanan, atau apapun, bebas. Yha
terus ngapain dilurus-lurusin segala, Rehanaaa~
![]() |
| Sumber: Twitter |
Tentu kita semua pernah mengalami yang namanya patah hati. Ya, nggak? Ya, dong. Ya, kan? Ya, laaah. Saya juga begitu, pernah mengalami segala rupa patah hati. Saya patah hati saat mengetahui bahwa sahabat SD saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP yang sama dengan saya dan dua sahabat saya lainnya. Saya ingat betul waktu itu saya menangis. Memang pada dasarnya saya hobi menangis, sih. Hobi kok nangeees~
Saya
patah hati ketika saya mengetahui adik saya sempat dihajar bapak habis-habisan
karena tidak mau bersekolah. Saya patah hati melihat Ardi menangis histeris. Padahal
waktu itu saya masih sekolah dasar, masih terlalu kecil untuk sanggup melihat
kekerasan-kekerasan semacam itu.
Dan
ini adalah patah hati terhebat saya yang sampai saat ini jika mengingat
kejadian itu saya benar-benar merasa sakit hati, merasa bersalah dan menangis. Saat
saya melihat Ardi terjatuh dari tangga rumah bude. Waktu itu saya seperti biasa
sedang bermain di lantai dua, di rumah salah satu tetangga di Krasak, tetangga
yang biasa saya panggil bude. Saya bermain bersama beberapa teman di sebuah
kamar di lantai dua itu. Saya yang mengetahui bahwa Ardi datang menyusul,
berusaha untuk bersembunyi. Saya mendengar Ardi mengetuk pintu kamar beberapa
kali dan saya tidak membukanya. Waktu itu niatnya memang hanya bercanda. Kemudian
setelah beberapa lama, saya tidak lagi mendengar ketukan. Saya berpikir bahwa
Ardi pulang.
Saya
memutuskan untuk menyudahi bermain dan keluar kamar. (ngetiknya sambil berurai
air mata, gaes, saya sensitif banget dengan kejadian ini) Alangkah terkejutnya
saya ketika akan turun dan melihat Ardi sudah terkapar di dasar lantai sana. Darah
segar keluar dari hidung dan entah dari mana lagi. Tangga rumah bude itu memang
tidak tinggi, tapi jarak antara satu anak tangga dengan anak tangga lainnya
cukup tinggi. Saya membayangkan anak sekecil Ardi (waktu itu dia belum sekolah)
harus menaiki tangga itu kemudian memutuskan untuk turun, karena dia tidak kunjung
mendapati pintu kamar yang dia ketuk berulang kali tadi terbuka. Saya panik,
takut, bingung, hingga kemudian bude mengetahui kejadian tersebut. Saya lupa
persisnya setelah itu bagaimana, yang jelas saya tidak berani menghadap bapak
ibu. Saya tidak mau pulang. Saya takut mereka marah. Saya bersembunyi entah
berapa lama di sebuah undak-undakan dimana di bawahnya adalah aliran sungai
yang deras. Undak-undakan itu berada dibalik pintu belakang rumah bude. Saya mendengar
ibu saya menangis, tapi saya lupa bagaimana reaksi bapak.
Kejadian
itu benar-benar melukai hati saya. Ardi banyak mendapatkan luka dalam, karena
kecerobohan saya itu, tangan kanan atau kirinya saya lupa, menjadi bengkok. Ya,
dia mengalami patah tulang. Bapak dan ibu membawa Ardi ke sangkal putung,
Gintangan. Yang saya ketahui nama bapak yang mengobati Ardi adalah Bapak
Jumali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua saya
waktu melihat keadaan Ardi pertama kali. Berulang kali saya mengutuki diri saya
sendiri. Andai saja waktu itu saya tidak bermain di lantai dua. Andai saja
waktu Ardi mengetuk pintu saya segera membuka. Andai saja ...
![]() |
| Sumber: Twitter |
Sampai hari ini saya terus menyesali kejadian itu. Dan, mungkin karena kejadian itu lah saya menjadi sangat protektif terhadap Fahri, adik kedua saya yang saat ini berusia tujuh tahun. Beberapa waktu yang lalu saat jemput Fahri sekolah saya mendengar salah seorang ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang sekolah berkata pada beberapa anak yang sudah keluar “Mau sopo sing nangis?” anak tersebut menjawab yang hanya samar saya mendengarnya “Fahriza”. Saya berusaha santai, karena di kelas satu ada dua anak yang bernama Fahri. Ah, paling Fahri yang lain, pikir saya. Saat sudah jam 10 lebih Fahri tak kunjung keluar, saya bertanya pada Damar, teman sekolahnya. Damar bilang Fahri ada di kantor sedang menangis karena bertengkar.
Deg.
Saya sudah panik dan segera masuk ke sekolah. Saya datangi ruang kantor dan
mendapati Fahri tengah duduk di sebelah wali kelasnya, Bu Eka, sambil makan
keripik tempe. Ketika saya melongok ke ruangan itu dan mata saya dan Fahri bertatap,
dia kembali menangis. Aduuuh, itu hati saya sudah nggak karu-karuan, gaes. Segera
saya datangi Fahri dan Bu Eka menjelaskan kejadiannya secara jelas. Sambil Bu
Eka menjelaskan, saya sambil berusaha menahan air mata yang rasanya mau tumpah.
“Biasa, mbak, Fahriza ini kan anaknya sensitif, lha terus temannya itu memang
suka usil,” kata Bu Eka menyelesaikan kalimatnya. Adik dan kakak sama-sama
sensitif :(
Saya
patah hati saat melihat anak-anak kecil berkelahi dengan kawan mereka. Seperti kejadian
di Blambangan tempo hari. Waktu itu saya dan Donat sedang menunggu Lia. Sembari
menuggu tersebut saya melihat gerombolan anak-anak yang sedang bermain. Tidak lama
setelahnya salah satu anak menangis entah karena apa, saya kurang memerhatikan.
Hati saya berontak melihat yang demikian, gaes. Saya orangnya nggak bisaan. Saya
memutuskan untuk menghampiri anak-anak tersebut dan bertanya ada apa. Beberapa bocah
menjawab pertanyaan saya, hingga kemudian saya tahu penyebabnya. Begitulah,
akhirnya saya sok menjadi mbak-mbak yang menenangkan anak yang menangis ini dan
menjinakkan teman yang kata teman-temannya ‘nakal’ sehingga membuat si anak
tadi menangis. Dan akhirnya mereka baikan dan kembali bermain. Saya nggak tahu,
tapi naluri itu muncul secara tiba-tiba.
Atau
seperti kemarin saat menjemput Fahri ngaji, saya melihat beberapa anak terlibat
pertengkaran. Saya dan salah seorang ibu-ibu yang juga menjemput anaknya ngaji
berusaha untuk menghentikan pertikaian mereka. Saya nggak senang aja melihat
kekerasan sesama teman begitu. Apalagi mereka masih kecil.
Saya
juga patah hati apabila melihat ibu-ibu yang dengan mudahnya memarahi anak
mereka di depan umum. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut si ibu ini nggak
bisa dibilang halus. Ya saya mengerti tipikal ngomel-ngomelnya Wong Osing
memang begitu, tapi tetap saja saya nggak bisa terima. Kalau mau ngomel-ngomel
mending jangan di depan saya gitu, lho.
Jadi,
ada dua kejadian yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama masih di
area sekolah Fahri. Seperti biasa saya waktu itu sedang menunggu dia pulang. Ada
salah satu anak yang keluar dari sekolah dan menghampiri ibunya yang menunggu
di pos kamling depan sekolah. Lalu beberapa menit kemudian saya mendengar si
ibu berkata dengan suara keras dan mulai memukul-mukul muka si anak (bahasa
jawanya itu ditapuk gitu, gaes). Saya yang melihat jelas kejadian itu hanya
bisa metek dodo. Saya melihat wajah si anak yang menahan tangis, dan pasti juga
malu karena di sekitar kejadian banyak anak-anak yang lain. Masalahnya sepele,
si anak meminta uang jajan lagi untuk membeli sesuatu. Bagi saya seorang anak
meminta uang untuk jajan itu hal yang sepele, tapi menjadi tidak sepele ketika
reaksi yang si ibu tunjukkan sedemikian rupa. Kenapa? Kenapa harus
memukul-mukul anak? Jika memang tidak ada uang, atau tidak berkenan memberikan
uang lagi, ya bilang saja secara baik-baik. Bujuk anak agar perhatiannya bisa
teralih dari uang, bukankah itu skill yang memang harus dipunyai oleh orang
tua?
Kejadian
kedua di tempat Ai ngaji. Saya terbiasa menunggu Ai selesai ngaji di tempat
Mbak Fitri berjualan. Nah, pernah satu hari saat sedang menunggu, saya melihat
ada Candra di sekitar Mbak Fitri. Candra ini anak Mbak Fitri, dan usianya
kira-kira masih empat tahunan, lah. Saya nggak paham apakah Mbak Fitri adalah
tipe orang tua yang pilih kasih atau bagaimana, tapi yang saya lihat sikapnya
ke Candra selalu kasar, berbeda dengan sikapnya ke anak yang terakhir, saya
lupa namanya. Waktu itu Candra dan kakak sepupunya sedang menunggu Mbak Fitri
berjualan. Saya nggak tahu, ya, kenapa Mbak Fitri bisa begitu keras terhadap
Candra waktu itu. Saya melihat Mbak Fitri menjambak rambut Candra beberapa kali
hingga tubuh anak kecil itu terduduk di tanah. Masalahnya sepele, benar-benar
sepele. Candra waktu itu sedang main di tanah sambil jongkok, dia melukis-lukis
tanah dengan ranting kecil. Saya tidak tahu apakah perbuatan Candra itu menyebabkan
dagangan ibunya terkena debu, yang jelas sama sekali tidak, karena Candra hanya
bermain dengan pelan, atau memang tabiat ibunya saja yang suka menghajar
Candra. Saya melihat ekspresi Candra sama seperti saya melihat Ai mewek di
kantor sekolah tempo hari. Candra langsung meringsek ke pelukan kakak sepupunya
itu. Hati saya ambyaaaaar, gaes~
Saya
tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang ringan tangan seperti itu. Kenapa membuat
anak merasa takut bahkan berada di dekapan orang tua mereka sendiri? Saya bisa
melihat Candra itu takut pada ibunya. Patah hati saya melihat hal-hal seperti
ini. Ya memang saya tidak tahu ada masalah apa dalam keluarga mereka, tapi saya
rasa memukul anak bukan solusi yang benar untuk melampiaskan kekesalan kita
pada problematika rumah tangga.
Nah,
ini lah salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menikah. Ralat, belum ingin
menikah. Saya takut patah hati setiap hari pada diri saya sendiri.
Itu
baru beberapa hal yang membuat saya patah hati. Masih ada beberapa, diantaranya
saat saya melihat Mbah Sudjiwo Tedjo banting mic di auditorium Untag beberapa
tahun lalu. Saya yang waktu itu jadi koordinator sie. acara nangis nggak bisa
berhenti di pojokan. Merasa gagal aja gitu. Hiks.
Kemudian
saya juga patah hati saat melihat video seorang ayah yang mengambil ijazah S1
anaknya dikarenakan si anak meninggal dunia sesaat setelah menyelesaikan sidang
skripsinya. It was really broke my heart. Patah hati saat ditinggal selamanya
oleh orang-orang terkasih memang sebenar-benarnya patah hati.
Saat
saya tertolak oleh PT. KAI sebagai Station Announcer, itu juga saya patah hati (mana tiket berangkat ke Jember mahal banget
lagi waktu itu).
Hmm, pekerjaan yang saya idam-idamkan harus kembali bersabar menanti jalan yang
lain. Saat gagal mengikuti tes CPNS, patah hati lagi. Saat aplikasi saya tidak
bisa diproses lebih lanjut oleh Kominfo, patah hati lagi.
Patah
hati saya yang lain adalah saat mendapat job ngemc tapi tidak mencapai performa
terbaik saat melakukannya. Kita pasti bisa merasakan ketika kita mengerjakan
sesuatu tapi kita tidak mencapai kepuasan tersendiri. Ada yang kurang. Saya juga
sering seperti itu. Atau bisa juga ketika dapat tawaran jadi dubber, saya sering patah hati karena
merasa saya bisa memberikan suara yang lebih baik dari itu. Ya meskipun kadang-kadang
orang menilai suara saya sudah baik.
Saat
mulai mengenal seorang laki-laki dan mengijinkan dia masuk ke dalam hati, saya
juga patah hati dibuatnya. Pernah juga karena hal tersebut saya naik motor
dari rumah ke pom bensin Karangente dengan berlinang lair mata ala ala film
India. Patah hati karena asmara memang bangsatnya luar
biasa. Dan setelah semua patah hati yang saya lalui itu, bagaimana cara saya
untuk sembuh?
Saya
membiarkannya begitu saja. Penolakan-penolakan, sakit dan patah hati seperti
itu adalah sesuatu yang akan menguatkan kita. Saya pernah menulis perihal
kerasnya kehidupan, maka kita tidak boleh lembek, harus lebih keras dan kuat. Bagaimana
cara Tuhan menguatkan kita? Ya itu tadi, kita dihadapkan pada penolakan, sakit
hati, patah hati.
Bagi
saya, itu semua tergantung dari bagaimana kita mengatur diri kita menghadapi
berbagai emosi yang datang. Nggak gampang memang untuk tetap berpikir positif
di tengah cobaan hidup yang skalanya tidak tetap. Bisa jadi ringan, ringan
sekali, sampai pada skala yang berat dan berat banget yawlaaa nggak kuat deh mau nikah
ajaaa :(
Itulah
kemudian saya lebih memilih untuk membiarkan saja, let it flow, sambil saya
merenung. Gila, ternyata selama ini saya begitu kuat sehingga cobaan-cobaan
yang telah lewat itu bisa saya lalui. Saya yakin cara orang untuk sembuh dari
patah hati berbeda-beda. Seperti beberapa teman yang telah sharing bersama saya
via WhatsApp pada malam hari ini.
![]() |
| Ini story WA saya malam ini |
![]() |
| Sobat akhlakul karimah~ |
![]() |
| Pentolan BESAF emang game melulu :') |
![]() |
| Monmaap, pak |
![]() |
| Kalo saya nyanyi yang kesel bukan lambenya, tapi tetangga dan anggota keluarga :') |
![]() |
| Ngomong doang gampaaaaang :'( |
![]() |
| Loveeeee |
Tidak ada yang mudah melewati fase patah hati. Sakit yang ditimbulkan, trauma yang ditimbulkan, tidak ada yang mudah. Tapi yakinlah bahwa semua luka-luka itu akan membuat kita menjadi lebih dewasa.
![]() |
| School 2017 |
Saya
tidak sedang patah hati, gaes. Bagi kalian yang menanyakan hal tersebut
semalam, saya tegaskan lagi saya tidak sedang patah hati. Hati saya hanya satu
dan sudah patah bolak-balik, wis kebaaal.
Semalam saya hanya ingin tahu bagaimana cara kalian untuk sembuh dari patah
hati, untuk kemudian saya tulis di blog tercinta saya ini. Heuheu~
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar