Semalam saya mewakili Komunitas Pegon mengadakan diskusi online dengan Nihayatul Wafiroh. Kalau teman-teman belum familiar dengan namanya, sila ketik di google. Bagi yang sudah familiar tentu mengenal siapa dan bagaimana kiprah beliau.
Topik diskusi kali ini terinspirasi juga dari disertasi beliau yang membahas tentang kultur perjodohan di pesantren. Sebagai perempuan non pesantren ada banyak rasa penasaran yang saya alami terhadap perempuan pesantren atau perempuan dari keluarga pesantren. Terutama bagaimana perempuan-perempuan ini mengambil keputusan dalam hidup mereka.
Sejak dulu, jika bicara soal perempuan narasi yang ditampilkan adalah sebatas teman di belakang (konco wingking). Perempuan sebatas manusia yang mengerjakan urusan-urusan domestik. Tidak ada peran atau aktivitas lain yang sifatnya menambah kemampuan diri perempuan.
Begitu juga saya memandang perempuan di pesantren. Mereka sami'na wa atho'na pada Kiai. Menurut apa saja yang menjadi keputusan dari sang Kiai.
Jika bicara soal bagaimana peran perempuan di pesantren saya ambil contoh KH. Mukhtar Syafa'at Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Beliau tidak akan bisa berkonsentrasi mengajar dan membesarkan pesantren jika urusan keluarga belum beres. Kemudian siapa yang membereskan? Adalah istri beliau, Nyai Maryam dan Nyai Musyarofah. Beliau berdua adalah Srikandi yang memerankan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan domestik.
Semalam Ning Nik bercerita lebih konkrit mengenai peran Nyai Maryam dalam mengurus rumah tangga. Bagaimana beliau tetap memiliki aktivitas ekonomi dan memiliki peran strategis di dalamnya. Nyai Maryam berdagang, beliau sering membawakan santri-santrinya barang dagangan untuk kemudian mereka jual. Begitulah roda ekonomi berputar dibawah pengawasan Nyai Maryam.
Kekuatan perempuan pesantren ada di sana. Mereka tidak pernah meminta uang. Karena mereka punya cara sendiri untuk bisa menghasilkan uang. Terbukti bahwa manusia berjenis kelamin perempuan ini memang diciptakan dengan satu bakat: multitasking.
Jadi, kalau ditanya apakah peran perempuan pesantren terbatas hanya sampai konco wingking saja, tentu tidak. Mereka punya peran strategis yang tidak bisa disepelekan. Bagi para Kiai, Bu Nyai adalah aktor penting dibalik layar kesuksesan mereka dalam berdakwah dan berjuang. Bahkan, ada juga yang mengambil peran mengasuh pesantren puteri atau bahkan menjadi mubaligh yang tampil di hadapan publik. Nyai Azizah Sri Wedari, misalnya.
Lantas, bagaimana dengan kehidupan pernikahan perempuan pesantren? Bagaimana peran yang bisa diambil Bu Nyai dalam hal ini?
Ning Nik menjelaskan bahwa tradisi perjodohan di pesantren itu bukan sesuatu yang baru. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama. Dalam perkembangannya tradisi perjodohan di pesantren menjadi dua jenis. Ada yang tradisional dan ada yang modern. Bagian ini juga saya penasaran setengah mati. Kok bisa ada orang yang menikah dengan cara dijodohkan.
Story began... Perjodohan tradisional adalah pernikahan yang terjadi antara dua orang tanpa bertemu sebelumnya. They met each other only in akad. Can you guys imagine that? Kalau dulu mungkin fine-fine saja. Tapi hari ini? Jadi, mereka benar-benar bertemu satu sama lain hanya ketika prosesi ijab qabul. Keluarga Darussalam sempat mengalami perjodohan tradisional semacam ini, tapi dulu sekali, kata Ning.
Berbeda dengan perjodohan modern. Dalam perjodohan model ini perempuan pesantren biasanya sudah mulai memiliki bergaining position. Mereka mau dijodohkan asal syarat yang mereka ajukan diterima. Pada perjodohan modern ini biasanya perempuan pesantren sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi atau kualitas diri mereka sudah meningkat. Contoh syarat yang diajukan perempuan pesantren biasanya apa?
Salah satu contohnya adalah, saya mau menikah asal setelah menikah masih diperbolekan untuk sekolah. Hal-hal demikian menjadi penting bagi perempuan pesantren apakah perjodohan lanjut atau tidak. Ya, kalau si calon tidak setuju itu berarti konsensus tidak terjadi. Maka pernikahan juga tidak terjadi.
Lantas di sebelah mana kita bisa melihat peran Bu Nyai dalam hal perjodohan?
Sebelum saya ngobrol bersama Ning Nik semalam, saya masih mengira bahwa keputusan seorang Ning atau Gus menikah dengan orang pilihan keluarga pesantren adalah mutlak di tangan Kiai. Ternyata tidak demikian.
Selama ini Bu Nyai, Ning, dianggap tidak memiliki peran apapun di pesantren, karena yang lebih banyak berperan adalah Kiai. Dalam sebuah perjodohan yang aktif mencarikan jodoh itu biasanya Kiai. Tapi, yang melakukan riyadhoh itu Bu Nyai. Bu Nyai yang melakukan semacam kontemplasi, wirid, puasa dan apabila dari serangkaian proses yang telah dilalui itu Bu Nyai berkata tidak, maka Kiai juga biasanya akan berkata tidak.
Hal ini menjadi pembantah bahwa perempuan tidak berperan dalam urusan perjodohan. Justru perempuan pesantren ini sebenarnya adalah agen yang aktif. Mereka memainkan agensinya dengan berbagai cara. Bahkan, Bu Nyai juga melakukan advokasi kepada anaknya untuk bisa menentukan pilihannya dan mengungkapkan keinginannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar