Beberapa pesan whatsapp yang masuk sejak satu syawal belum sempat aku balas. Ada yang tidak sempat dan ada yang kuputuskan untuk tidak dibalas. Karena memang pesan-pesan itu tidak butuh balasan.
Sepertinya sejauh ini lebaran 2020 adalah lebaran paling nggak ribet. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, setelah salat Id langsung keliling salam-salaman dan keliling lagi ke kerabat-kerabat. Pagebluk yang sedang melanda dunia agaknya menggeser beberapa kebiasaan yang kerap kita lakukan saat lebaran. Dan, mau tidak mau kita mesti berlapang dada merelakan untuk tidak melakukan.
Satu syawalku berjalan dengan luar biasa. Jam tiga pagi aku terbangun setelah ingatan terakhirku semalam aku berbaring di sebelah ibu usai memijat punggung beliau. Aku terbangun dengan rasa sakit luar biasa di bagian perut. Tidak hanya itu, aku mendapati darah di seprai kasur yang tidak lain dan tidak bukan adalah darah haid.
Aku buru-buru ke kamar mandi dan membereskan tubuh dan pakaianku. Sungguh satu syawal yang berdarah-darah.
Setelah itu aku kembali ke kamar berniat melanjutkan tidur. Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan batin dan fisik yang sungguh menyiksa. Nyeri haid hebat kembali menyerangku setelah terakhir aku merasakan hal yang sama seperti ini beberapa tahun yang lalu.
Aku menungging, tengkurap, melingkar memeluk lutut, telentang, nggak berefek apapun. Entah berapa lama aku merasakan nyeri haid yang membuatku bolak-balik kamar mandi. Setelah lelah, aku tertidur dengan sendirinya. Nyeri haid berangsur membaik setelahnya.
Pagi harinya kami sekeluarga hanya berdiam diri di rumah sambil menyambut tetangga yang memutuskan untuk tetap berkeliling datang ke rumah. Mereka paham bahwa kondisi sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap nggak bisa untuk menahan diri berdiam di rumah.
Satu syawal kemarin aku habiskan dengan fisik yang lelah. Harus datang ke beberapa rumah dengan kondisi haid hari pertama yang sungguh tidak mudah. Satu-satunya penawar lelahku hanya The King: Eternal Monarch.
Berbeda dengan dua syawal. Aku habiskan dengan benar-benar di rumah saja. Bahkan aku masih bisa tidur siang dengan durasi yang lumayan. Nikmat mana lagi yang aku dustakan?
Dua syawal saat pagebluk ini pun terasa seperti hari-hari biasa saja. Aku masih menerima pesan singkat dari beberapa teman yang mengirim ucapan. Dua syawal ini nyeri haid sudah tidak sehebat kemarin, sehingga aku sudah mulai cuci baju, sudah mulai jajan rujak soto, rujak kecut dan aku sudah membunuh satu ekor tawon 🥺
Dua syawal juga mengingatkanku bahwa besoknya, tiga syawal, aku sudah harus bangun pagi dan memulai tugas menyapa lewat udara, alias sudah harus siaran.
Bagaimana syawalmu tahun ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar