Senin, 31 Mei 2021

TIGA SATU

Mengulang syukur kali ini dipersembahkan untuk pernikahan ibu dan bapak yang memasuki usia 27 tahun dan aku yang memasuki usia 26 tahun. Tidak henti-hentinya aku takjub pada kuasa Tuhan yang membuat tanggal sekaligus bulan pernikahan orang tuaku dan hari kelahiranku sama. Bapak dan ibu menikah tanggal 31 Mei 1994. Aku lahir tanggal 31 Mei 1995. Tepat setahun setelah mereka menikah.

Aku lahir secara normal, tidak sesar. Itulah yang membuat orang tuaku takjub dan aku juga, tentu saja. Karena karunia itu akhirnya setiap tahun kami selalu mensyukuri dua hal secara bersamaan. Ya ulang tahun pernikahan bapak dan ibu, ya ulang tahunku.

Perasaan baru kemarin lulus kuliah, eh sekarang sudah 26 tahun aja. Gimana rasanya? Rasanya masih jadi beban keluarga. Jiaaah~

Rasanya campur aduk. Masih ingat betul iklan lawas yang beberapa waktu lalu viral. Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin. Sebetulnya sampai sekarang aku masih mencari-cari dimana menyenangkannya dari jadi orang gede. Yang enak itu ya seusia Araa atau Ai yang kalau marah enggak pernah lama. Bahkan hanya hitungan menit terus chill lagi.

Quarter life crisis, katanya. Fase dimana sering mempertanyakan fungsi hadir di dunia ini buat apa. Fase dimana bertanya-tanya tujuan hidup kita apa. Buatku, usia 26 ini penuh dengan kehilangan. Aku kehilangan banyak teman karena mereka harus melanjutkan hidup mereka bersama pasangan.

Memang menikah tidak lantas merenggut pertemanan, tapi sudah pasti tidak akan sama lagi seperti yang dulu kita rasakan. Rasanya seperti tiba-tiba kosong, ada sesuatu yang hilang.

Jadi orang gede juga jadi makin banyak pikiran. Makin gede juga tanggung jawabnya. Mati-matian berusaha nggak terlalu dipikirin, nyatanya ya masih aja kepikiran. Terus gimana? Ya, gimana, jalanin. Meski dengan terseok-seok, berdarah-darah, sampai Tuhan bilang udah.

Aku terus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Setiap hari belajar dari banyak orang, dari banyak hal. Sebisa mungkin enggak jadi bitter adult. Kebayang nggak sih jadi bitter pas udah gede? Mengusik hidup orang lain, ikut campur urusan orang lain sampai komentarin hal-hal remeh tentang orang lain.

Kadang kalau udah diem, lagi enggak ngapa-ngapain suka kepikiran “sebenarnya apa sih yang mau aku tuju dalam hidup ini? harapan apa lagi sih yang mau aku capai?”

Rasanya sekarang ini lebih ke “Ya udah, lah, ya Allah. Ikut aja gimana baiknya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar