Sulit rasanya menutup mata dan menutup telinga pada hal-hal yang dibentuk oleh masyarakat kita entah sudah sejak berapa ribu tahun lamanya. Bahwa ada hal-hal yang berlaku di masyarakat yang dibuat seolah begitulah yanng seharusnya terjadi. Kalau kita tidak demikian, maka kita aneh, kita berbeda, kita tidak sama dengan layakanya manusia pada umumnya. So tricky.
Aku mencoba memahami beberapa hal
yang dilazimkan oleh masyarakat kita. Meski dalam prosesnya kadang aku
mengalami beberapa perasaan aneh. Kenapa begitu? Kenapa harus seperti itu?
Kenapa memangnya kalau begini? Sampai pada akhirnya aku tidak benar-benar bisa
memahami banyak hal. Begitu banyak pertanyaan yang akhirnya menguap begitu saja
dan berujung pada penerimaan tanpa pemahaman.
Pernikahan, contohnya. Sebuah
konstitusi yang berlaku di masyarakat, dimana dua individu menyatu dalam sebuah
ikatan sah dihadapan agama dan negara. I
told you, I swear, aku akan selalu turut berbahagia pada semua peristiwa
pernikahan yang dialami oleh orang-orang terdekatku, oleh kawan-kawanku. But, I’m so sick of this bullshit questions
about mine. Dude, can you just mind your own marriage? Like, of course I thank
you about your caring, but please, don’t be annoying.
Atau pada satu hal lain, masih
soal pernikahan. Ketika seorang perempuan dengan segala hal valid yang melekat
pada dirinya (perasaannya, pengetahuannya, kemampuannya, dan lain sebagainya)
belum memutuskan untuk menikah, akan ada celetukan soal jangan terlalu pintar. Damn, this is one of another bullshit I ever
heard. What’s the problem of being good, clever, or capable in many things?
Jadi perempuan jangan terlalu
pintar nanti susah menikah karena laki-laki minder mau deketin. Yang minder
laki-lakinya, kenapa jadi perempuan yang harus menurunkan kualitas dirinya hanya
agar bisa menikah? Kenapa jadi perempuan yang harus mengubah dirinya hanya agar
bisa diterima dan dinilai normal? Kenapa jadi perempuan saja yang harus repot?
Buat apa pintar kalau nyusahin?
Ini adalah poin penting buatku. Enggak nyusahin is such a blessing. Doaku selalu pada Tuhan: semoga kelak aku akan
hidup bersama laki-laki yang punya framework yang benar. Yang kalau ada
masalah, bisa menjadi partner yang baik dalam menyelesaikan masalah, bukan
malah menambah masalah. Semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang apa
yang dia katakan dan lakukan, masuk akal bagiku.
Lelah sekali harus pasang poker
face tiap bertemu orang dengan komentar demikian. Beberapa memang hanya
selintas saja, tidak pernah aku anggap serius. Tapi, beberapa kadang juga sangat
mengganggu pikiran. Sampai ketika sedang tidak melakukan apa-apa, ada pikiran
selintas yang membenarkan omong kosong-omong kosong tersebut.
Jangan-jangan kenapa aku belum
menikah karena ini, karena itu, harusnya begini, harusnya begitu. Padahal aku
tahu persis kenapa aku belum seperti teman-temanku yang lain. Ya karena memang
aku belum mau menikah. Sampai kapan? Enggak tahu.
Bukankah memang tidak ada yang
benar-benar tahu hidup ini akan seperti apa?
Yang sial adalah orang-orang di
sekitar kita yang asli ingin kusambelin mulutnya yang suka bilang “Nunggu apa
lagi, sih, kamu itu sudah waktuya menikah.” Atau “Mbak, buru-buru deh, Mbak. Enak tahu nikah, Mbak. Bener, deh.”
Yang terakhir sounds familiar
bukan? Hahaha.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar