Jumat, 25 Juni 2021

KEAPA HARUS PEREMPUAN?

Sulit rasanya menutup mata dan menutup telinga pada hal-hal yang dibentuk oleh masyarakat kita entah sudah sejak berapa ribu tahun lamanya. Bahwa ada hal-hal yang berlaku di masyarakat yang dibuat seolah begitulah yanng seharusnya terjadi. Kalau kita tidak demikian, maka kita aneh, kita berbeda, kita tidak sama dengan layakanya manusia pada umumnya. So tricky.

Aku mencoba memahami beberapa hal yang dilazimkan oleh masyarakat kita. Meski dalam prosesnya kadang aku mengalami beberapa perasaan aneh. Kenapa begitu? Kenapa harus seperti itu? Kenapa memangnya kalau begini? Sampai pada akhirnya aku tidak benar-benar bisa memahami banyak hal. Begitu banyak pertanyaan yang akhirnya menguap begitu saja dan berujung pada penerimaan tanpa pemahaman.

Pernikahan, contohnya. Sebuah konstitusi yang berlaku di masyarakat, dimana dua individu menyatu dalam sebuah ikatan sah dihadapan agama dan negara. I told you, I swear, aku akan selalu turut berbahagia pada semua peristiwa pernikahan yang dialami oleh orang-orang terdekatku, oleh kawan-kawanku. But, I’m so sick of this bullshit questions about mine. Dude, can you just mind your own marriage? Like, of course I thank you about your caring, but please, don’t be annoying.

Atau pada satu hal lain, masih soal pernikahan. Ketika seorang perempuan dengan segala hal valid yang melekat pada dirinya (perasaannya, pengetahuannya, kemampuannya, dan lain sebagainya) belum memutuskan untuk menikah, akan ada celetukan soal jangan terlalu pintar. Damn, this is one of another bullshit I ever heard. What’s the problem of being good, clever, or capable in many things?

Jadi perempuan jangan terlalu pintar nanti susah menikah karena laki-laki minder mau deketin. Yang minder laki-lakinya, kenapa jadi perempuan yang harus menurunkan kualitas dirinya hanya agar bisa menikah? Kenapa jadi perempuan yang harus mengubah dirinya hanya agar bisa diterima dan dinilai normal? Kenapa jadi perempuan saja yang harus repot?

Buat apa pintar kalau nyusahin? Ini adalah poin penting buatku. Enggak nyusahin is such a blessing. Doaku selalu pada Tuhan: semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang punya framework yang benar. Yang kalau ada masalah, bisa menjadi partner yang baik dalam menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah. Semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang apa yang dia katakan dan lakukan, masuk akal bagiku.

Lelah sekali harus pasang poker face tiap bertemu orang dengan komentar demikian. Beberapa memang hanya selintas saja, tidak pernah aku anggap serius. Tapi, beberapa kadang juga sangat mengganggu pikiran. Sampai ketika sedang tidak melakukan apa-apa, ada pikiran selintas yang membenarkan omong kosong-omong kosong tersebut.

Jangan-jangan kenapa aku belum menikah karena ini, karena itu, harusnya begini, harusnya begitu. Padahal aku tahu persis kenapa aku belum seperti teman-temanku yang lain. Ya karena memang aku belum mau menikah. Sampai kapan? Enggak tahu.

Bukankah memang tidak ada yang benar-benar tahu hidup ini akan seperti apa?

Yang sial adalah orang-orang di sekitar kita yang asli ingin kusambelin mulutnya yang suka bilang “Nunggu apa lagi, sih, kamu itu sudah waktuya menikah.” Atau “Mbak, buru-buru deh, Mbak. Enak tahu nikah, Mbak. Bener, deh.”

Yang terakhir sounds familiar bukan? Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar