Pernah nggak kepikiran kenapa semakin bertambah usia, kita semakin ketinggalan dengan perkembangan musik-musik baru? Playlist kita adalah lagu-lagu yang akrab di telinga kita lima bahkan sepuluh tahun lalu. Yang kalau lagunya diputar kita bisa sing along.
Hal itu wajar, dan enggak apa-apa
juga kalau kita enggak update
lagu-lagu baru. Nah, aku sempat membahas hal ini saat siaran Mandala Kenangan
Masa. Ada satu artikel yang diulas oleh Tirto soal Musical Paralysis.
Adam Read, editor Deezer (layanan
streaming musik berbasis internet) Inggris dan Irlandia menjelaskan soal
paralisis musikal ini. Tahun 2018, Deezer merilis hasil survei tentang
preferensi dan kebiasaan seseorang mendengar musik. Survei yang dilakukan di
Inggris, AS, Prancis, Jerman dan Brasil itu melibatkan 5.000 responden dari
latar usia beragam.
Hasilnya mungkin tidak terlalu
mengejutkan, tapi cukup menarik. Rata-rata seseorang akan berhenti
mengeksplorasi musik baru atau mengalami paralisis musikal pada usia 30 tahun. Lebih
detail lagi, rata-rata usia kelumpuhan musikal ini berbeda-beda di tiap negara.
Selengkapnya bisa dibaca di sini.
Boleh jadi secara sederhana kita
simpulkan: semakin menua kita perlahan berhenti mengikuti perkembangan musik
baru. Kalau dipikir-pikir benar juga. Meski aku seorang penyiar radio, tetap
tidak membuatku update pada
musik-musik baru, selain karena memang aku sudah tidak lagi siaran Mandala
Musik Terkini.
Semakin dewasa kita dihadapkan
pada kehidupan yang semakin kompleks. Dihadapkan pada kehidupan yang semakin
ruwet dan merepotkan. Bisa jadi tidak ada banyak waktu luang yang bisa kita
gunakan untuk sekadar menengok playlist
musik baru di Spotify. Aktivitas yang bertambah, tanggung jawab yang semakin
banyak, tidak membuat waktu yang tersedia bertambah banyak.
Apalagi kalau satu musik membekas
sekali di ingatan kita saat kita remaja. Itulah mungkin kenapa kalau kita
tengok lagu-lagu nostalgia di youtube, pada kolom komentar kita akan menemukan
komentar-komentar yang old glory.
Musik adalah bahasa yang
universal itu iya banget. Dia mampu mengekspresikan perasaan yang kadang banyak
orang enggak bisa ekspresikan. Dulu zaman BBM kalau kita ingat kita bisa
memunculkan lagu yang sedang kita dengarkan di beranda untuk kasih kode ke
gebetan. Siapa nih yang begini? Hahaha.
Banyak orang yang merasa “aku
banget” pada sebuah lagu. Banyak juga yang menjadi kuat dan bangkit karena
sebuah lagu seperti yang dialami Joko Anwar. Di youtube-nya Vincen dan Desta,
Joko Anwar bercerita soal konflik batin yang dia alami hingga akhirnya memutuskan
akan mengakhiri hidup. Tapi, Elvis Costello menyelamatkan dia. Man, orang frustasi dan mau bunuh diri
itu ada, banyak. Tapi, orang-orang yang hidupnya terselamatkan karena sebuah
karya, itu juga banyak.
Seperti kata Bono U2, music change the world because it can change people. Jadi, adakah musik yang mengubah hidup kalian?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar