Jumat, 21 Januari 2022

MET HABEDE, AI.

Ternyata ada banyak hal yang selalu bisa disyukuri dalam hidup ini. Waktu yang Tuhan berikan adalah waktu yang tepat. Tidak pernah salah. Lahirnya Fahri, salah satunya.

Dulu mungkin aku bingung dan bertanya-tanya, kenapa Tuhan memberiku adik ketika aku sudah kelas dua SMK? Kenapa Tuhan menghadirkan satu manusia lagi diantara kami ketika kami sudah terbiasa berempat?

Nyatanya, semakin hari semakin aku menyadari nikmat Tuhan yang lain. Ada banyak hal baik yang datang silih berganti bersamaan dengan hadirnya Fahri ditengah-tengah kami. Ada pelajaran penting yang kami dapatkan seiring bertumbuhnya Fahri.

Aku senang Fahri tumbuh dan berkembang di saat aku maupun Ardi telah mampu mencari uang dengan jerih payah kami sendiri. Paling tidak, Fahri tidak perlu merasakan hal-hal yang dulu kakak dan abangnya rasakan. Oleh sebab itu, selama aku mampu, selama aku bisa, aku selalu berusaha untuk mencukupi apa yang dia butuhkan.

Nasihat yang dulu bapak berikan dan akan selalu aku ingat adalah soal betapa pentingnya saling menyayangi saudara. Adik menyayangi kakak, begitupun sebaliknya. Saling mengasihi, saling menyayangi, saling peduli, saling menjaga. Sebagai anak sulung dengan dua adik laki-laki dari keluarga sangat sederhana, aku tumbuh dengan sikap prihatin dan juga rapuh.

Hari ini Ai berulang tahun kesepuluh. Sudah sejak lama aku berencana untuk mengajak semuanya makan malam di luar rumah. Tadinya, aku memasukkan ide makan-makan di rumah saja sebagai alternatif. Tapi, kemudian aku ingat bagaimana ibu sudah lelah seharian menjaga Ara ditambah harus juga memasak makanan untuk kami. Aku segera mengeliminasi gagasan tersebut.

Semua berjalan dengan lancar. Ardi kebetulan masuk kerja shift malam, jadi dia bisa ikut kami terlebih dahulu sebelum kemudian berangkat kerja.Cuaca malam ini juga sangat bersahabat.

Saat semuanya berkumpul dalam satu meja seperti malam ini aku teringat masa-masa kami masih berempat. Bapak adalah orang yang membuat kami memiliki kebiasaan makan bersama. Aku masih ingat dulu ketika ibu bekerja dan bapak di rumah, urusan makan bapak yang ambil alih. Ketika aku berulang kali datang ke dapur untuk memastikan makanan sudah siap atau belum bapak selalu memintaku bersabar karena sedikit lagi selesai. Meski itu hanya tinggal menunggu sambal, bapak akan memastikan semua selesai terlebih dahulu baru kami bisa menyantap makanan bersama.

Hal itu yang kemungkinan membuatku tumbuh menjadi anak yang senang berada di rumah dan sangat menyayangi keluarga. I swear, entah apa jadinya aku jika ditinggal salah satu anggota keluargaku. Aku bahkan tidak berani membayangkan.

Sejujurnya aku malu meminta segala hal pada Tuhan disaat ibadahku padaNya masih payah. Segala hal yang Dia berikan seperti menamparku untuk segera menyadari apa yang kuberikan padaNya tidak sebanding dengan apa yang Dia berikan padaku.

Manusia, diberi nikmat malu, diberi ujian mengeluh.

Akhir kata, met habede ya, Ai. Semoga ulang tahun ulang tahun selanjutnya kita masih tetap bisa berlima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar