Minggu, 07 Januari 2024

AKHIRNYA, AKAL BUKU.

Besok paginya kami bertemu di depan DPRD DIY, di pelataran Jalan Malioboro. Bibeh dan Arinal jalan pagi, aku menyusul mereka sekitar pukul 7 karena memilih untuk rebahan lebih lama di kamar. Udara pagi di Jogja, jalan kaki, memerhatikan banyak orang berkegiatan, membuatku rileks. Jarak penginapan kami dengan Jalan Malioboro benar-benar dekat. Sehingga jalan kaki ini juga membuat kami bisa menikmati suasana di sekitar.

Aku melihat Na Willa sudah lebih segar. Dia menikmati main dengan mak dan bapaknya. Aku bergabung dan duduk berdua dengan Bibeh sambil memerhatikan lalu lalang kendaraan. Perjalanan kami kali ini memantik ingatan beberapa tahun lalu ketika pergi ke Jogja bersama Komunitas Pegon. Tapi, perjalanan kali ini lebih tenang, lebih banyak waktunya, karena juga ini perjalanan pribadi, bukan tugas negara seperti yang dulu kami lakukan.

Selesai menikmati udara pagi, secara impulsif kami memutuskan minum jamu. Ya, betul, saudara sebangsa setanah air. Kami minum jamu. Sebetulnya kami ini hanya melakukan apa yang kami lihat di depan mata saja. Waktu itu kami lihat tukang jamu di seberang, di depan KFC, ya kali enggak nyobain jamu di Jogja. Aneh, sih, tapi semuanya oke jadi ya ini bukan kegiatan pagi yang aneh-aneh banget.


Selesai minum jamu kami kembali ke penginapan. Di dekat penginapan ada gerobak Bubur Ayam. Karena belum sarapan aku bungkus satu untuk makan di kamar. Sambil menunggu Bibeh sekeluarga siap, aku menikmati sarapanku sambil nonton youtube.

Jam setengah 10 pagi kami sudah bersiap ke Akal Buku. Aku memutuskan untuk naik motor karena tidak mau hal-hal tidak diinginkan terjadi sehingga mengganggu perjalanan kami yang seru ini. Awalnya Arinal protes, maksudnya sih baik, biar kita enggak misah. Tapi, plis banget pak, ini menyangkut keberlangsungan hidupku. Aku yang tahu sampai mana batas tubuhku ini bisa bertahan. Dan kalau pagi ini aku memutuskan naik mobil, sudah bisa dipastikan sampai Akal Buku aku semaput.

Karena naik motor, aku sampai lebih dulu. Aku dapat driver go-jek yang menyenangkan. Anaknya ramah dan suka cerita. Beruntungnya, pagi itu mood-ku sedang baik, jadi aku meladeni semua ceritanya dengan antusias. Sampai di Akal Buku ada perasaan aneh menyergap. Gila, ini adalah rumah yang sering aku lihat di konten Mbak Kalis maupun Mas Agus di sosial media. Sekarang ini aku berdiri di depan rumah Akal Buku.

Inilah teras merah itu, tempat Lily biasa rebahan. Inilah pohon rambutan itu, pohon yang sering masuk ke konten review produk galah milik Mas Agus. Inilah kursi antik itu, kursi yang biasa diduduki banyak tokoh, Habib Jafar salah satunya. Daaaan, inilah tembok legendaris itu! Tembok bergambar wajah para tokoh kebanggaan Mbak Kalis dan Mas Agus. Aku terharu sendiri melihat bagaimana akhirnya aku dan Bibeh berhasil mewujudkan cita-cita kami.

Cita-cita yang ternyata di dalamnya dibersamai oleh Na dan Pak Ari. Sungguh rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari rencana manusia. Setelah bertemu Mbak Kalis aku langsung menyerahkan wadah berisi ranti yang sudah aku siapkan dari Banyuwangi. Ranti ini menjadi oleh-oleh utama yang aku bawa karena tahu Mbak Kalis suka bikin sambal.

Tidak lama kemudian Bibeh datang. Kami bercengkerama di halaman depan. Akal Buku sejuk sekali siang itu. Udara Jogja menyenangkan, tidak terlalu panas. Cuaca siang itu juga redup, tidak terlalu terik. Awalnya kami berencana singgah singkat saja, karena ingin ke banyak tempat lagi. Tapi, ternyata ada teman Pak Ari yang ikut singgah karena ternyata beliau juga mengenal Mbak Kalis dan Mas Agus.

Jadilah kami berjam-jam di Akal Buku. Menjelang siang kami pamit, melanjutkan perjalanan ke Buku Akik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar