Akhirnya cita-cita itu terwujud, kami datang ke Yogyakarta dan bertemu lagi dengan Kalis Mardiasih. Dulu, ketika menunggu kereta di stasiun, Mbak Kalis menawarkan kami untuk hadir ke pernikahannya dengan Mas Agus Mulyadi. Aku kira hanya basa-basi, mendekati hari H beliau menghubungiku. Tapi, karena satu dan lain hal kami tidak bisa datang.
Setelah itu, kami (aku dan Bibeh) berjanji suatu hari nanti harus datang ke Jogja. Jika tidak di momen pernikahan Mbak Kalis, ya di momen bahagia beliau yang lainnya. Kelahiran Raras Ugahari lah momen bahagia itu. Kami merencanakan perjalanan ini sejak November 2023. Mulai dari pesan tiket kereta, pesan penginapan dan segala tetek bengeknya.
Melakukan perjalanan jauh dengan pasangan suami istri anak satu itu memang harus penuh kesabaran. Kalau saja aku pergi sendiri pasti sudah tidak perlu ada pertimbangan lain. Aku bisa memutuskan sendiri bagaimana nanti perjalanan yang akan aku tempuh.
Kami berangkat tanggal 3 Januari, persis di hari ulangtahun Bibeh. Sumpah demi apapun, aku lupa dia sedang ulangtahun. Kenapa aku ingatnya tanggal 13, ya? 13 Januari ini ulangtahun siapa? Aneh bener.
Kami sampai Lempuyangan kurang lebih jam delapan malam. Buatku yang menempuh perjalanan 13 jam tentu saja ini melelahkan. Tapi, ketika melihat Bibeh dan Arinal membawa Na Willa, lelahku rasanya tidak ada apa-apanya.
Perjalanan ini mengajariku banyak hal soal berumah tangga. Tiap ngemc pernikahan aku selalu bilang bahwa menikah itu bukan siapa yang paling, tetapi saling. Saling bertanggungjawab, saling membantu, saling mengasihi dan saling-saling yang masih banyak lagi. Itu juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri sebetulnya.
Setelah beberapa kali driver menolak orderan kami, akhirnya kami dapat driver. Seperti biasa kami harus jalan kaki dulu sampai bawah flyover untuk bisa naik mobil yang menjemput kami. Na Willa sudah rewel, kami semua juga sudah lelah. Sampai di penginapan kami langsung beres-beres. Aku merebahkan tubuhku sejenak hingga kemudian memutuskan mandi.
Jadwal kami malam itu adalah makan. Tiga belas jam ada di kereta, ditambah tadi ke penginapan naik mobil, membuat perutku tidak nyaman. Aku harus segera mencari makanan berkuah yang pedas. Ada satu tempat makan di depan gang penginapan yang menyediakan Soto Ayam. Tanpa ragu aku pesan menu itu. Soto di Jogja ini tidak seperti soto di Banyuwangi. Tapi, masa bodo, aku melarutkan banyak sambal pada kuah soto dan menghabiskan makanan berkuah itu.
Malam itu tidak banyak yang kami lakukan selain makan, kemudian kembali ke penginapan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar