Wanita hebat yang kukenal sebagai Ibu.
Wanita sederhana yang selalu menginspirasiku.
Wanita tangguh yang selalu mengajariku untuk kuat menjalani kehidupan.
Pendidik terbaik yang paling baik.
Isro'iyah.
Sesederhana namanya.
Dia juga wanita yang sangat sederhana.
Tak perlu aku melihat dia dengan make up yang tebal untuk melihat kecantikannya.
Ketika bangun tidur, aku melihatnya dengan kecantikan alami yang memancar.
Tak perlu aku melihat keanggunannya dengan gaun yang mewah dan mahal.
Cukuplah pakaian rapi dan sopan yang membuatnya terlihat mempesona.
Hai Ibu, bagaimana kabarmu hari ini?
Aku selalu senang saat mendengar cerita tentang masa kecilmu dulu.
Masa kecil yang selalu aku inginkan.
Masa kecil yang jauh dari hingar bingar perkotaan.
Masa kecil yang sesungguhnya.
Ibu bercerita tentang teman-teman kecil Ibu yang sangat suka bermain dibawah pohon bambu dibelakang rumah di Kepundungan.
Ibu dan teman-teman lantas mencari ranting-ranting yang berjatuhan hanya untuk sekedar diberikan pada Emak untuk dijadikan kayu bakar.
Ibu membiarkan aku berfantasi dengan imajinasiku.
Aku menerka-nerka bagaimana riuhnya suasana saat itu.
Ibu juga pernah bercerita tentang guru ngaji Ibu yang pernah memberikan hadiah pada Ibu sepasang mukena.
Karena Ibu adalah murid yang paling rajin datang ke Musholla untuk sekedar menyapu sebelum ngaji dimulai.
Betapa senang Ibu waktu itu dengan hadiah pemberian Pak Ustadz.
Itulah mukena terbaik yang pernah Ibu miliki.
Ibu, aku juga tidak akan pernah lupa tentang bagaimana kau harus berjuang dengan keadaan keluarga.
Ibu yang digempur habis-habisan oleh lika-liku kehidupan.
Hingga Ibu menjadi seperti sekarang, wanita dengan segala kehebatannya.
Tentang Ibu yang harus bersyukur karena hanya bisa mengenyam bangku Madrasah Ibtida'iyah.
Ibu adalah cermin kehidupanku.
Bagaimana aku harus senantiasa bersyukur dengan hidup yang sekarang ini.
Ibu memang bukan wanita dengan pendidikan tinggi.
Tapi Ibu selalu terlihat berpendidikan tinggi dimataku.
Ibu gunakan masa muda Ibu dengan segala kegiatan kursus hingga jauh ke Bali.
Ibu, kau tahu?
Aku selalu bangga dengan baju ngaji yang dulu kau jahitkan khusus untukku.
Walaupun kain brokat yang dulu kau gunakan sebagai bahan utamanya selalu membuatku tidak nyaman karena gatal.
Ya, gaun panjang berwarna hijau itu selalu aku tatap dengan penuh takjub.
Aku yang saat itu masih kecil hanya bisa berpikir "Bagaimana Ibu bisa membuat gaun secantik ini?"
Ibu ...
Aku juga selalu merasa aman ketika harus tampil saat Maulid Nabi di TPQ Nurul Qomar dulu.
Aku tahu ada Ibu yang selalu pandai memoles wajahku dengan sangat apik.
Hanya Ibu yang aku percaya untuk merias wajahku.
Ibu yang waktu itu bekerja sebagai koki di Anugerah akan menyempatkan waktu dan bilang ke Mbak Rena "Mbak, aku ijin pulang dulu ya, anakku mau tampil."
Aku menunggu Ibu pulang.
Aku menunggumu untuk meriasku.
Ibu juga adalah koki terhebat yang pernah kami miliki.
Bagaimanapun lezatnya masakan di restoran, masakan Ibulah yang nomor satu.
Abah dan Ibu adalah dua insan manusia yang berkolaborasi sangat indah dalam urusan memasak.
Kalian berdualah andalan kami saat perut kami meronta minta diisi.
Ibu, maafkan aku ...
Maafkan aku yang mungkin pernah membuatmu tak sengaja menitikkan air mata.
Maafkan aku yang seringkali tak mengindahkan perintahmu.
Maafkan aku dengan segala tingkah laku dan perbuatan yang kerap kali mengecewakanmu.
Aku minta maaf jika aku tak sabaran untuk mengajari Ibu mengoperasikan Handphone.
Padahal Ibu tak pernah gusar saat mengajariku berbicara atau membaca.
Ibu tak pernah lelah mengajariku menyanyi dan berhitung.
Ibu tak pernah bosan mengajariku doa-doa dan gerakan sholat.
Ibu tak pernah lupa mengajariku banyak hal.
Ibu pernah bercerita tentang kawan-kawan Ibu yang dulu berusaha untuk menarik perhatian Ibu.
Dan mungkin Ibu tak pernah tahu bagaimana kesalnya aku karena sudah pasti mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abah.
Aku tidak suka Ibu bercerita tentang masalalu-masalalu Ibu.
Tapi itu dulu, Bu ...
Aku masih kecil.
Karena sekarang aku sadar apa yang Ibu lakukan adalah untuk memancingku agar terbuka dengan urusan perasaan.
Ibu ingin aku bercerita pada Ibu. Tentang laki-laki.
Dari dulu aku selalu bercerita pada Ibu tentang bagaimana sekolahku, bagaimana teman-temanku, bagaimana pelajaranku.
Tapi, bercerita tentang laki-laki, belum pernah.
Aku ingat waktu itu saat kita sedang makan berdua, aku memberanikan diri untuk bercerita.
Aku bercerita tentang laki-laki yang menyukaiku di awal tahun kuliah.
Ibu senang aku mau berbagi urusan hati.
Sejak itulah aku selalu bercerita pada Ibu tentang siapa saja yang menurutku layak untuk kita diskusikan.
Aku juga akan ingat selalu bagaimana perjuangan Ibu mengayuh sepeda dari rumah hingga ke sekolah hanya untuk mengantarkan topi pot sialan itu.
Topi pot yang aku gunakan saat MOS di SMK.
Pagi itu aku melihat wajah Ibu yang kelelahan diluar pagar sekolah.
Ibu memanggilku dan memberikan topi itu.
Ibuuu, aku menyayangimu.
Wanita sederhana yang selalu menginspirasiku.
Wanita tangguh yang selalu mengajariku untuk kuat menjalani kehidupan.
Pendidik terbaik yang paling baik.
Isro'iyah.
Sesederhana namanya.
Dia juga wanita yang sangat sederhana.
Tak perlu aku melihat dia dengan make up yang tebal untuk melihat kecantikannya.
Ketika bangun tidur, aku melihatnya dengan kecantikan alami yang memancar.
Tak perlu aku melihat keanggunannya dengan gaun yang mewah dan mahal.
Cukuplah pakaian rapi dan sopan yang membuatnya terlihat mempesona.
Hai Ibu, bagaimana kabarmu hari ini?
Aku selalu senang saat mendengar cerita tentang masa kecilmu dulu.
Masa kecil yang selalu aku inginkan.
Masa kecil yang jauh dari hingar bingar perkotaan.
Masa kecil yang sesungguhnya.
Ibu bercerita tentang teman-teman kecil Ibu yang sangat suka bermain dibawah pohon bambu dibelakang rumah di Kepundungan.
Ibu dan teman-teman lantas mencari ranting-ranting yang berjatuhan hanya untuk sekedar diberikan pada Emak untuk dijadikan kayu bakar.
Ibu membiarkan aku berfantasi dengan imajinasiku.
Aku menerka-nerka bagaimana riuhnya suasana saat itu.
Ibu juga pernah bercerita tentang guru ngaji Ibu yang pernah memberikan hadiah pada Ibu sepasang mukena.
Karena Ibu adalah murid yang paling rajin datang ke Musholla untuk sekedar menyapu sebelum ngaji dimulai.
Betapa senang Ibu waktu itu dengan hadiah pemberian Pak Ustadz.
Itulah mukena terbaik yang pernah Ibu miliki.
Ibu, aku juga tidak akan pernah lupa tentang bagaimana kau harus berjuang dengan keadaan keluarga.
Ibu yang digempur habis-habisan oleh lika-liku kehidupan.
Hingga Ibu menjadi seperti sekarang, wanita dengan segala kehebatannya.
Tentang Ibu yang harus bersyukur karena hanya bisa mengenyam bangku Madrasah Ibtida'iyah.
Ibu adalah cermin kehidupanku.
Bagaimana aku harus senantiasa bersyukur dengan hidup yang sekarang ini.
Ibu memang bukan wanita dengan pendidikan tinggi.
Tapi Ibu selalu terlihat berpendidikan tinggi dimataku.
Ibu gunakan masa muda Ibu dengan segala kegiatan kursus hingga jauh ke Bali.
Ibu, kau tahu?
Aku selalu bangga dengan baju ngaji yang dulu kau jahitkan khusus untukku.
Walaupun kain brokat yang dulu kau gunakan sebagai bahan utamanya selalu membuatku tidak nyaman karena gatal.
Ya, gaun panjang berwarna hijau itu selalu aku tatap dengan penuh takjub.
Aku yang saat itu masih kecil hanya bisa berpikir "Bagaimana Ibu bisa membuat gaun secantik ini?"
Ibu ...
Aku juga selalu merasa aman ketika harus tampil saat Maulid Nabi di TPQ Nurul Qomar dulu.
Aku tahu ada Ibu yang selalu pandai memoles wajahku dengan sangat apik.
Hanya Ibu yang aku percaya untuk merias wajahku.
Ibu yang waktu itu bekerja sebagai koki di Anugerah akan menyempatkan waktu dan bilang ke Mbak Rena "Mbak, aku ijin pulang dulu ya, anakku mau tampil."
Aku menunggu Ibu pulang.
Aku menunggumu untuk meriasku.
Ibu juga adalah koki terhebat yang pernah kami miliki.
Bagaimanapun lezatnya masakan di restoran, masakan Ibulah yang nomor satu.
Abah dan Ibu adalah dua insan manusia yang berkolaborasi sangat indah dalam urusan memasak.
Kalian berdualah andalan kami saat perut kami meronta minta diisi.
Ibu, maafkan aku ...
Maafkan aku yang mungkin pernah membuatmu tak sengaja menitikkan air mata.
Maafkan aku yang seringkali tak mengindahkan perintahmu.
Maafkan aku dengan segala tingkah laku dan perbuatan yang kerap kali mengecewakanmu.
Aku minta maaf jika aku tak sabaran untuk mengajari Ibu mengoperasikan Handphone.
Padahal Ibu tak pernah gusar saat mengajariku berbicara atau membaca.
Ibu tak pernah lelah mengajariku menyanyi dan berhitung.
Ibu tak pernah bosan mengajariku doa-doa dan gerakan sholat.
Ibu tak pernah lupa mengajariku banyak hal.
Ibu pernah bercerita tentang kawan-kawan Ibu yang dulu berusaha untuk menarik perhatian Ibu.
Dan mungkin Ibu tak pernah tahu bagaimana kesalnya aku karena sudah pasti mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abah.
Aku tidak suka Ibu bercerita tentang masalalu-masalalu Ibu.
Tapi itu dulu, Bu ...
Aku masih kecil.
Karena sekarang aku sadar apa yang Ibu lakukan adalah untuk memancingku agar terbuka dengan urusan perasaan.
Ibu ingin aku bercerita pada Ibu. Tentang laki-laki.
Dari dulu aku selalu bercerita pada Ibu tentang bagaimana sekolahku, bagaimana teman-temanku, bagaimana pelajaranku.
Tapi, bercerita tentang laki-laki, belum pernah.
Aku ingat waktu itu saat kita sedang makan berdua, aku memberanikan diri untuk bercerita.
Aku bercerita tentang laki-laki yang menyukaiku di awal tahun kuliah.
Ibu senang aku mau berbagi urusan hati.
Sejak itulah aku selalu bercerita pada Ibu tentang siapa saja yang menurutku layak untuk kita diskusikan.
Aku juga akan ingat selalu bagaimana perjuangan Ibu mengayuh sepeda dari rumah hingga ke sekolah hanya untuk mengantarkan topi pot sialan itu.
Topi pot yang aku gunakan saat MOS di SMK.
Pagi itu aku melihat wajah Ibu yang kelelahan diluar pagar sekolah.
Ibu memanggilku dan memberikan topi itu.
Ibuuu, aku menyayangimu.
Aku adalah satu dari sekian banyak anak yang patut sekali bersyukur.
Bagaimana tidak?
Aku di usia yang beranjak dewasa ini masih memilikimu, Ibu.
Aku yang sudah tidak kecil lagi ini masih terbuka lebar kesempatan untuk membahagiakanmu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar