Alhamdulillah …
Ini tahun ketiga saya
ikut #turunAKSI dalam rangka Hari Aids Sedunia.
Tahun ini juga
merupakan tahun pertama dimana saya bergabung bersama teman-teman KMPA lintas Universitas
lain yang ada di Banyuwangi.
Setiap tahun konsep
kegiatan juga selalu berbeda.
Alhamdulillah tahun ini
saya merasakan sesuatu yang berbeda.
“Hug Challenge”
Sebuah konsep yang di
adaptasi dari sebuah komunitas peduli HIV/Aids di Jakarta.
Dalam tantangan ini saya
berperan menjadi Orang Dengan Hiv/Aids (ODHA).
Kami yang berperan
sebagai ODHA harus bisa sebanyak-banyaknya mendapat pelukan dari masyarakat.
Kegiatan ini juga
merupakan tolak ukur seberapa jauh masyarakat mengerti tentang cara penularan
HIV/Aids.
Dan hasilnya cukup
mengkhawatirkan.
Masih banyak masyarakat
Banyuwangi yang enggan untuk bersentuhan dengan ODHA.
Perjalanan dari depan
kantor KPA hingga ke TMP Sayuwiwit saya mendapat 21 orang yang mau bersalaman
dan berpelukan.
Reaksi mereka
berbeda-beda.
Seperti tadi di Utara
dealer Yamaha Sobo.
Saya menghampiri
seorang Ibu yang sedang menjaga warung.
Ketika si Ibu saya
hampiri dan saya beritahu bahwa saya pengidap HIV dan saya meminta untuk
memeluk saya, Ibu agak enggan menerima uluran tangan saya.
“Ibu takut ketularan
ya?”
“Oh endak dik, endak
kok.”
Saya hanya tertawa
melihat reaksi si Ibu.
Dan juga seperti
beberapa Ibu lainnya yang saya temui di sepanjang jalan.
Ada yang dengan senang
hati menerima pelukan saya.
Ada juga yang beralasan
“Ibu belum mandi mbak.” hanya untuk menghindari pelukan saya *ah, Ibu mah bisa
aja :D
Bahkan ada yang sudah
meyingkir ketika saya baru akan menghampiri mereka.
Hal ini menjadi
tamparan keras bagi saya pribadi.
Bahwa masih banyak
sekali masyarakat yang belum melek informasi.
Terutama informasi
seputar HIV/Aids.
Kita tidak bisa
membiarkan masyarakat terus berspekulasi dengan pemikiran mereka sendiri.
Apalagi pemikiran yang
kadung salah kaprah.
Bahwa pengidap HIV
adalah orang yang harus dijauhi atau dikucilkan.
Bahwa saat kita
bersentuhan dengan ODHA maka kita akan tertular penyakit mereka.
Dan yang menjadi lebih
mengkhawatirkan adalah mereka yang tinggal di kecamatan kota saja masih belum
mengerti bagaimana HIV itu menular, apalagi masyarakat yang tinggal di desa?
Saya hanya khawatir
jika kejadian seperti di Blitar terjadi di Banyuwangi.
Seorang lelaki di
Blitar dikucilkan dan harus tinggal di kandang ayam karena diduga mengidap
virus HIV.
Sekali lagi “diduga”.
Padahal belum jelas apa
penyakit yang sedang di derita.
Tapi masyarakat langsung
memvonis begitu saja secara tidak laborat.
Hal ini menjadi
pekerjaan rumah bagi kita semua.
Tidak hanya PR bagi KPA,
bagi Dinas Kesehatan, bagi Pemerintah.
Melainkan bagi seluruh
masyarakat Indonesia.
Sudah
cukup stok penggerutu di Indonesia.
Negara
ini tidak butuh penggerutu, negara ini butuh mereka yang peduli.
“Ah
cuma aksi,” kata si pesimis.
Percayalah
sedikit aksi itu lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa.
Sedikit
aksi menyadarkan bahwa kawan-kawan penderita tidak sendiri.
Semua
bisa mengambil peran.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar