Selasa, 01 Desember 2015

#turunAKSI Hari Aids Sedunia 2015

Alhamdulillah …
Ini tahun ketiga saya ikut #turunAKSI dalam rangka Hari Aids Sedunia.
Tahun ini juga merupakan tahun pertama dimana saya bergabung bersama teman-teman KMPA lintas Universitas lain yang ada di Banyuwangi.
Setiap tahun konsep kegiatan juga selalu berbeda.

Alhamdulillah tahun ini saya merasakan sesuatu yang berbeda.
“Hug Challenge”
Sebuah konsep yang di adaptasi dari sebuah komunitas peduli HIV/Aids di Jakarta.
Dalam tantangan ini saya berperan menjadi Orang Dengan Hiv/Aids (ODHA).
Kami yang berperan sebagai ODHA harus bisa sebanyak-banyaknya mendapat pelukan dari masyarakat.
Kegiatan ini juga merupakan tolak ukur seberapa jauh masyarakat mengerti tentang cara penularan HIV/Aids.
Dan hasilnya cukup mengkhawatirkan.

Masih banyak masyarakat Banyuwangi yang enggan untuk bersentuhan dengan ODHA.
Perjalanan dari depan kantor KPA hingga ke TMP Sayuwiwit saya mendapat 21 orang yang mau bersalaman dan berpelukan.
Reaksi mereka berbeda-beda.

Seperti tadi di Utara dealer Yamaha Sobo.
Saya menghampiri seorang Ibu yang sedang menjaga warung.
Ketika si Ibu saya hampiri dan saya beritahu bahwa saya pengidap HIV dan saya meminta untuk memeluk saya, Ibu agak enggan menerima uluran tangan saya.
“Ibu takut ketularan ya?”
“Oh endak dik, endak kok.”
Saya hanya tertawa melihat reaksi si Ibu.

Dan juga seperti beberapa Ibu lainnya yang saya temui di sepanjang jalan.
Ada yang dengan senang hati menerima pelukan saya.
Ada juga yang beralasan “Ibu belum mandi mbak.” hanya untuk menghindari pelukan saya *ah, Ibu mah bisa aja :D
Bahkan ada yang sudah meyingkir ketika saya baru akan menghampiri mereka.

Hal ini menjadi tamparan keras bagi saya pribadi.
Bahwa masih banyak sekali masyarakat yang belum melek informasi.
Terutama informasi seputar HIV/Aids.
Kita tidak bisa membiarkan masyarakat terus berspekulasi dengan pemikiran mereka sendiri.
Apalagi pemikiran yang kadung salah kaprah.
Bahwa pengidap HIV adalah orang yang harus dijauhi atau dikucilkan.
Bahwa saat kita bersentuhan dengan ODHA maka kita akan tertular penyakit mereka.

Dan yang menjadi lebih mengkhawatirkan adalah mereka yang tinggal di kecamatan kota saja masih belum mengerti bagaimana HIV itu menular, apalagi masyarakat yang tinggal di desa?
Saya hanya khawatir jika kejadian seperti di Blitar terjadi di Banyuwangi.
Seorang lelaki di Blitar dikucilkan dan harus tinggal di kandang ayam karena diduga mengidap virus HIV.
Sekali lagi “diduga”.
Padahal belum jelas apa penyakit yang sedang di derita.
Tapi masyarakat langsung memvonis begitu saja secara tidak laborat.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.
Tidak hanya PR bagi KPA, bagi Dinas Kesehatan, bagi Pemerintah.
Melainkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sudah cukup stok penggerutu di Indonesia.
Negara ini tidak butuh penggerutu, negara ini butuh mereka yang peduli.
“Ah cuma aksi,” kata si pesimis.
Percayalah sedikit aksi itu lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa.
Sedikit aksi menyadarkan bahwa kawan-kawan penderita tidak sendiri.
Semua bisa mengambil peran.

Quotes : Iraa Rachmawati

Perwakilan Pelangi Laros bersama KMPA Banyuwangi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar