Minggu, 03 April 2016

Beban yang Telah Menyingkir

Malam ini tepat 13 hari setelah kejadian itu aku berani bercerita padanya.
Benar-benar malam yang berat.
Tengah malam aku baru berani menceritakan segala unek-unek selama ini.

Aku membenarkan maksud blog yang ditulis oleh sahabat kami.
Dan reaksinya benar-benar membuatku heran.
Dia tidak kaget sama sekali.
Akhirnya malam ini menjadi ajang buka-bukaan bagi kami.
Tak lagi mempedulikan waktu yang terus beranjak.

Dia meluapkan segala perasaannya.
Aku pun sama, aku juga meluapkan perasaanku hingga susah untuk mengontrol emosi.
Aku bilang padanya bagaimana susahnya aku menjaga rahasia yang akhirnya dia ketahui.
Bagaimana aku merasa bersalah setiap aku melihat wajahnya, karena aku tak menceritakan dari awal.
Bagaimana aku tersiksa ingin cerita semuanya, tapi belum siap.

Aku takut ketika nanti aku menceritakan yang sebenarnya, hubungan kami jadi berubah.
Ketika segalanya sudah jelas seperti ini, aku mendapati kenyataan yang sungguh melegakan.
Dia, sahabatku ini, menunjukkan sikap dewasanya yang membuatku kagum.
Hari ini aku jadi sadar, hubungan kami bertiga tidak akan berubah karena salah satu diantara kami memiliki perasaan lebih.
Aku sadar, hubungan kami bertiga bukan sekedar pertemanan abege kemarin sore.
Kami bertiga meskipun kadang childish, selfish or anything else, tapi kami mampu menyelesaikan dengan baik masalah ini.
Aku juga jadi sadar bahwa mereka berdua adalah sahabat-sahabat baik yang tidak sekedar jadi teman senang, susah pun mereka ada.
Dan masalah yang melibatkan perasaan kami bertiga, tuntas dengan happy ending.
Thank you my doughnut …
Kadang-kadang kita bisa jadi gila, aneh, kekanakan, egois, tapi kita juga mampu membuat masing-masing di antara kita menjadi pribadi yang lebih bijak, pribadi yang lebih baik, pribadi yang lebih dewasa.
Terimakasih karena selalu menjadi pendengar yang anteng, hehehehe ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar