Kamis, 28 April 2016

Keep Longlast, Donatku ...

Aku tidak pernah mengerti kenapa waktu terasa begitu lamban.
Jarak dari hari Minggu ke Senin terasa sangat jauh.
Ini masih Kamis dan aku sudah merindukan dia lagi.
Bagaimana bisa aku sudah kangen bahkan saat aku belum meninggalkan pekarangan rumahnya?
Hari minggu lalu saat aku pamitan dia bilang, “Gak usah kangen lho?”
Bahkan saat dia bicara seperti itu aku sudah mulai merindukannya.

Aku sadar hidup ini tidak selalu seperti yang kita inginkan.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu aku sudah berada di ruang siaran sebuah radio, seperti yang aku cita-citakan.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu aku sudah keluyuran hingga pelosok Banyuwangi tanpa harus khawatir tak di acc oleh Abah.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan pastilah aku sudah menginjak tanah Istanbul sejak dulu.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu hari ini aku tidak kehilangan kamu … *krik krik krik …………..

Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami esok hari.
Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami esok lusa.
Karena kembali aku sadar tidak ada yang selamanya di dunia ini.
Tidak ada yang abadi, begitu kalau kata Mas Ariel dan band-nya.

Aku tidak tahu apakah karena akhir-akhir ini kami sering menghabiskan malam bersama *pikirannya, jangan kemana-mana yaa …
Dia sering menginap di tempatku, dan saat itulah kami selalu bercerita apapun.
Dia tahu sepak terjang kisah asmaraku, aku pun sama.
Intinya, kami tahu bagaimana karakter satu sama lain.
Entah saking dekatnya atau bagaimana, aku sering membayangkan kami berdua bekerja di tempat yang sama kelak.
Membayangkan kami akan jalan-jalan bersama melihat dunia.
Aku sering membanyangkan hal-hal tidak masuk akal yang selalu membuatnya berkata “Opo sih???” hahaha ….

Belakangan ini aku tahu dia sedang terganggu dengan sesuatu di masa lalu.
Sesuatu yang hilang di masa lalu dan hari ini sesuatu itu mencoba untuk menyapanya kembali.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain menyediakan tempat curhat yang nyaman untuknya.
Aku berusaha sebaik mungkin untuknya, untuk persahabatan kita.
Kami sadar, semakin dewasa yang kita butuhkan adalah teman.
Mungkin dulu saat kami masih sekolah ada begitu banyak teman yang kita miliki.
Namun, saat kita dewasa nanti kita hanya akan membutuhkan beberapa yang benar-benar mengerti dan mengisi kita.

Aku teringat sebuah postingan di fanspagenya Bang Tere …
Sahabat terbaik itu tidak selalu dibutuhkan untuk memberikan nasihat, mengingatkan, apalagi menceramahi kita.
Dalam level yang sangat mengagumkan, sahabat baik justeru cukup sebagai tempat menumpahkan seluruh unek-unek, rasa penat, kesal, kecewa, dan sebagainya. Dia akan mendengarkan segala cerita kita, tanpa berkomentar satu kata pun. Inilah sahabat sejati.

We're in brown ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar